19. Pasif dan Pasif

53.4K 5.9K 217
                                        

Pertama...dia tidak pernah ada inisiatif meneleponku. Kecuali dengan jadwal yang sudah aku tetapkan.

Kedua…dia hanya meneleponku satu kali dan itu kemarin malam.

Ketiga…kenapa dia tak menanyakan kabarku? Kenapa dia tidak bertanya apakah aku sudah makan atau belum? Dan kenapa dari tadi selalu ada notifikasi penarikan dana dari kartu kredit yang aku berikan. Kenapa dia mendadak jadi boros?

Keempat. Kenapa aku terus-terusan memikirkannya? Aneh sekali.

'Kami di Namsan Park'

'Kami di Lotte World'

'Kami di Myeongdong'

'Kami di Namdaemun'

'Kami di Bukchon Hanok Village'

"….."

Ada puluhan foto yang dikirim Jae Wook juga pesan kemana saja mereka pergi selama lima hari ini. Dan kesimpulannya, Lily dan Arion bersenang-senang tanpanya.

Kalau saja pekerjaannya yang menumpuk ini cepat selesai. Ingin rasanya ia berlari dan pergi bersenang-senang bersama mereka. Tapi itu sangat sulit dilakukannya sekarang. Ia bahkan kekurangan waktu untuk istirahat.

Varo mengajak gadis itu menikah 3 bulan yang lalu. Tapi jawaban gadis itu akhirnya hanya tarikan nafas dalam dan berbalik pergi.

Ia pribadi tak pernah berpikir untuk berpacaran, apalagi menikah. Varo terbiasa menghabiskan waktunya untuk bekerja. Kehadiran si kecil Arion lah yang berlahan-lahan mengubah kebiasaannya.

Yang awalnya ia memiliki ruangan bersih dan simpel, sekarang malah ada begitu banyak boneka, pakaian bayi, popok bahkan berkaleng-kaleng susu bubuk dirumah maupun di kantornya. Juga ada biskuit susu dan beras, bahkan ada stroller yang berada tepat disamping meja kantornya.

Varo yang biasanya memang acuh tak acuh, berlahan-lahan jadi punya sifat peduli. Ia peduli pada Arion, ingin bayi kecil itu sehat dan ceria, hingga akhirnya Varo menyewa babysiter karena ia tidak bisa mengawasi Arion 24 jam.

Nah disitulah letak masalah barunya. Arion membuatnya membutuhkan seorang babysiter yang akhirnya bukan hanya untuk memanjakan si kecil itu,  tapi juga untuk memanjakannya (Varo). Ia mendadak ingin diperhatikan gadis itu. Tapi sayangnya Lily terlalu pasif.

Kalau Varo tidak memberi perintah, Lily tak pernah sekalipun punya inisiatif untuk bertanya, atau melakukan sesuatu untuk Varo.

Sama seperti lima hari ini. Gadis itu malah bertingkah bak turis di Korea, dan Varo hanyalah Bank pribadinya.

'Aku ingin kalian ke kantor ku sekarang!. Aku tidak peduli kalian ada dimana. Aku tidak mau makan siang sendirian'

Varo meletakkan ponselnya dengan kasar, foto terakhir yang dikirim Jae Wook adalah mereka berpose bak pasangan suami istri dan anaknya, lengkap dengan senyum secerah mentari.

Menyebalkan!

🌺🌺


Karena harus kembali kerumah terlebih dahulu untuk mengambil makanan, mereka terlambat setengah jam kekantor Varo, dan pria itu sudah memasang wajah super masam sejak mereka tiba 10 menit yang lalu.

Lily hanya diam dan menata makanan yang ia masak di atas meja dan tentu saja Jae Wook membantu gadis itu.

Tepat ketika keduanya saling pandang dan tersenyum. Suara gebrakan meja terdengar. Varo membanting map yang ia pegang.

"Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi. Sekarang pergilah!" Varo berkata sambil menatap tajam ke arah Jae Wook.

Lily yang tidak mengerti karena Varo menggunakan bahasa Korea, langsung bertanya kepadanya ketika melihat Jae Wook bergegas pergi.

A Little Cupid (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang