23. Tidak Ada Pilihan Lain, Tidak Ada Cara Lain

55.4K 5.9K 349
                                        

Lily mendapat pesan dari adiknya, bahwa Ibundanya sudah setuju adiknya menikah 2 bulan lagi. Semua persiapan sudah beres dan hanya tinggal melaksanakan akad dan nikah.

Ia sebenarnya ikut senang, jadi Lily tidak lagi merasa terbebani rasa bersalah karena jadi penghalang pernikahan adiknya. Hanya saja, gadis itu harus mempersiapkan hatinya lagi untuk kembali menjadi bahan sindiran dan ejekan para tamu undangan yang mengenalnya.

'wajarlah...yang nikah itu lebih cantik dari kakaknya'

'mungkin sifatnya buruk, makanya belum laku'

'jangan-jangan nanti dilangkahi lagi sama yang satunya'

'kalau penampilannya masih seperti itu, jangankan dapat jodoh, dapat teman cowok pun mungkin susah'

'tomboy sih!. Beda sama yang lain, feminim. Dia itu jarang banget senyum. Jadi mana ada yang mau ngelirik'

'mungkin seleranya terlalu tinggi, makanya susah cari pasangan. Pilih-pilih sih!!'

Lily paling ingat sindiran-sindiran itu. Meski mereka tersenyum di depan gadis itu, dibelakangnya mereka bergosip sadis tentangnya.

Ia mengakui kekurangan dirinya hanya saja mendengar orang lain membicarakannya dengan pandangan sinis kearahnya. Itu berlahan-lahan menyakiti perasaannya. Maka dari itulah, setelah adiknya menikah dulu, Lily memutuskan mencari kerja dan tinggal di kota lain, yang tak ada satupun yang mengenalnya.

"Lily?"

Varo yang tadi bertanya tentang bekal makan siangnya, merasa diabaikan oleh gadis yang sedang asyik melamun itu.

"Auuu...sakit!!! ngapain sih?" Lily mengelus lengannya yang tadi di cubit Varo.

"Aku lapar!" Ungkap pria itu.

Lily melirik pria itu dengan tatapan kesal. "Makan aja! makanannya kan udah di hidangin di atas meja."

"....kamu kenapa sih? Apa aku tidak sengaja menginjak ekormu? Kenapa marah-marah? Bukankah aku yang harusnya marah, kamu telat satu jam dari jadwal makan siang, hingga aku harus ngerjain laporan dulu sambil nunggu kamu datang."

Gadis itu menarik nafas dalam. "Ma'af, aku...tadi dagingnya habis jadi aku kepasar dulu."

"Makanlah duluan! aku...belum lapar. Aku...akan menidurkan Arion dulu." Lalu gadis itu meninggalkan Varo yang menatap kepergiannya dengan pandangan heran.

🌺🌺

Varo menerima pesan dari ibunda Lily, beliau memintanya datang di hari pernikahan adiknya Lily, Reyna. Varo tentu saja mengiyakannya. Ia bahkan telah mengundur pekerjaannya dan mengambil libur seminggu sebelum hari pernikahan itu.

Varo tidak tau kenapa Lily mendadak jadi sering melamun dan badmood, ia benci ketika gadis itu tak membicarakan masalahnya dan malah selalu minta ma'af jika Varo menegurnya.

Jadi malam itu setelah melihat Lily meletakkan Arion di kamar tidur ia memaksa gadis itu untuk makan malam bersamanya.

"Kamu nggak sarapan pagi tadi, juga nggak makan siang ini dan sekarang kamu mau skip makan malam. Tolong jangan melakukan hal bodoh, kalau kamu sakit, aku juga yang akan menderita." Pria itu berkata dengan nada kesal.

Lily akhirnya makan, yah meski hanya sedikit. Tapi gadis itu terlihat sibuk dengan dunianya sendiri lagi dan itu kembali membuat Varo kesal.

"Besok minggu, aku mau kita piknik."

"Oke."

"...." Varo mulai frustasi. "Nggak nanya kita kemana? Berapa lama?"

"Kita kemana? Berapa lama?"

A Little Cupid (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang