17. Ajakan Nikah

58.8K 6.1K 192
                                        

"Aku hanya melanjutkan kebohonganmu saja. Kamu nggak mau menyakiti perasaan ibumu, kan! Aku juga nggak mau disalahkan!"

Lily menarik nafas kesal. Setelah obrolan tidak masuk akal bersama ibu dan adiknya beberapa saat yang lalu. Mereka pamit pergi dengan alasan makan siang.

Mereka pergi ke Palembang Square dan makan siang disana.

"Sejauh mana kamu mengatakan kebohongan itu pada ibuku?" Lily bertanya putus asa.

"Bagaimana kita saling kenal, kapan kita pacaran, berapa lama, dan apa rencana kita untuk masa depan kita dan juga Rion."

"Mama...nyam-nyam.." Ungkap si kecil yang duduk di kursi bayi. Lily menghentikan gerakannya menyuapi Arion ketika mendengar jawaban Varo.

Pria itu kembali melanjutkan penjelasannya, "Aku menjawab jujur. Kita bertemu dirumah sakit, karena bantuanmulah Rion selamat. Kita saling kenal hampir setahun, dan Rion terbiasa memanggilmu mama. Dan rencana masa depan...itu tergantung dari keputusanmu. Aku pastinya akan mengadopsi Rion menjadi anakku."

"....." Lily terdiam cukup lama. Tak ada yang aneh dari jawaban pria itu. Lalu kenapa ibunya mendadak membicarakan tentang pernikahan.

"Adikmu tiba-tiba berkata ingin menikah berbarengan denganmu, lalu mereka mulai membahas soal itu ketika kamu datang. Aku hanya menjawab yang sebenarnya bahwa semua keputusan ada padamu."

"...." Jadi itu tergantung dari apakah Lily akan melanjutkan kesalahpahaman ibu dan adiknya atau memilih untuk mengungkapkan yang sebenarnya.

Lily menghela nafas dalam, lalu mengeluarkan ponselnya, ia menunjukkan pesan WA dari temannya yang tak sengaja bertemu dengannya pagi tadi.

"Tito Akran, dia salah satu rekan kerjaku di tempat kerjaku yang lama. Kami tadi tidak sengaja bertemu di depan gerbang rumah sakit. Kami mengobrol tentang masa lalu di kantin, dengan ending...Dia....ingin menjalin hubungan denganku."

Varo membaca pesan di layar ponsel Lily. Bahkan dalam kurun waktu setengah hari, pria itu sudah mengirimi banyak pesan yang menceritakan tentang dirinya pada gadis itu.

Tatapan Varo berhenti pada pesan terakhir yang dikirim pria itu.

'dulu aku sempat menyukaimu. Apakah kita bisa menjadi lebih dekat dari sekedar teman?'

Varo meletakkan ponsel itu diatas meja. "Kamu lupa kalau kemarin harusnya Rion di imunisasi."

"...Apa?!" Lily bergegas membuka tas bayi dan mencari buku catatan kesehatan Arion dan dan benar saja, Si kecil itu harusnya imunisasi kemarin.

"Aku tidak bisa mentoleransi mu yang melupakan hal penting seperti itu. Jangan menjalin hubungan dengan siapapun kalau kamu nggak bisa fokus dengan apa yang harusnya menjadi prioritasmu!"

Ungkapan terakhir itu terdengar seperti ancaman.

"Aku sudah membayar mahal untuk semua itu."

"...." Lily menatap Rion, merasa bersalah. "Kenapa kamu nggak bilang kemarin?" Tanya gadis itu.

"Kamu bilang aku nggak boleh ke Rumah Sakit."

"Itu karena kamu bertanya tentang kamar rawat adik ku."

"Aku nggak bilang kalau mau ke sana."

"Tapi kamu ke sana hari ini."

Varo tersenyum sinis sebelum menjawab. "Kalau bukan karena kebohongan mu pada Bunda, dia tidak akan mengenali dan mengajakku menjenguk adikmu."

"....." Lily kembali menutup mulutnya yang mau melontarkan ungkapan kesal. "Jadi kenapa kamu ke Rumah Sakit? Apa memang hanya untuk imunisasi Rion."

A Little Cupid (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang