15. Kekanak-kanakan

56.8K 5.9K 44
                                        

"Aku hanya pergi untuk satu minggu, bukan satu tahun." Lily memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit.

Pria dingin itu menatapnya sambil menggendong Arion, setelah menyelesaikan perjanjian kontrak 10 tahun, Varo langsung mengajak Lily ke Mall dengan alasan membeli kebutuhan Arion selama Lily tidak ada dan pria itu malah membeli lusinan pakaian bayi.

"Aku malas mencuci pakaian kotornya, lebih baik dia langsung pakai yang baru saja."

"Pakaian baru juga harus dicuci dulu sebelum dipakai dan kamu kan punya tukang cuci pribadi, dan dia juga mencuci dengan sangat bersih. Tolong jangan pakai alasan konyol itu, semua pakaian ini akan sia-sia kalau berat badannya bertambah."

Varo berkata dengan nada acuh, "sudah dibayar. Dan aku tidak mau mengembalikannya. Kalau kamu nggak punya malu kembalikan saja sendiri." Dan pria itu keluar dari toko dengan santainya.

"…." Lily hanya bisa menahan kekesalannya dan akhirnya mengikuti mereka. Soal tas belanja yang hampir selusin itu, para bodyguard yang membawanya.

Lily merebut dompet ditangan Varo dengan kasar. "Aku tidak akan mengizinkanmu membelikannya sesuatu yang berlebihan lagi!"

Varo memegang robot mainan ditangannya. "Rion tidak punya mainan seperti ini."

"Dan kamu berencana mengosongkan toko mainan ini karena dia tidak punya mainan di toko ini?" Lily bertanya dengan nada sinis. Pria itu malah mengangguk senang.

"Sebenarnya….sejak dulu aku bermimpi punya galeri mainan sendiri. Lego, robot-robotan, mobil-mobilan, pistol-pistolan, figur-figur anime. Tapi aku tidak bisa memintanya pada kakek, karena beliau benci hal kekanak-kanakan seperti itu. Setelah dewasa aku juga jadi lupa tentang impianku itu, beruntungnya kali ini aku bisa memanjakan Rion dengan semua ini, jadi dia tidak akan pernah merasa iri dengan anak-anak lain nantinya."

Penjelasan santai itu membungkam mulut Lily. Gadis itu teringat kisah sedih yang diceritakan oleh supir pribadi Varo tentang masa kecil menyedihkan pria itu. Dan karena ia mudah bersimpati pada orang lain, akhirnya Lily mengangguk. "Kamu harus mengosongkan salah satu ruangan di rumah untuk semua barang ini, dan memastikan ada yang membersihkan tempat itu setiap hari."

Varo kembali tersenyum senang dan mengangguk seperti anak kecil. Lily harus membiasakan diri dengan sifat barunya ini.

Mereka juga mampir ke toko boneka, dan Lily kembali stress karena pria itu membeli 150 boneka beruang berwarna putih dengan berbagai ukuran.

Setelah dari toko itu, mereka pergi ke foodmart. Lily membeli 5 kotak kue beras kesukaan Arion, juga 2 kotak susu bubuk. Setidaknya cukup stok itu cukup untuk seminggu selama ia tidak ada. Lily mengingatkan Varo untuk meletakkan makanan itu di kantornya dan memastikan Arion memakannya dengan teratur.

Lily juga membeli makanan mentah untuk membuat bubur untuk Arion, ia berniat memasak dan membekukannya di freezer, lalu mengajari Varo cara memanaskan makanan itu.

Mereka pulang ke rumah Varo jam 9 malam. Setelah meletakkan Arion yang tertidur di kamarnya. Lily bergegas ke dapur untuk memanaskan masakannya pagi tadi.

"Kamu nggak mandi?" Tanya Varo yang muncul di dapur memakai piyama beruang. Lily tidak bisa menahan tawanya melihat penampilan baru pria itu.

"Bukankah aku bilang bajunya harus di cuci dulu baru dipakai, nanti gatal-gatal loh." Lily memperingatkan Varo.

"Ini ada satu untukmu juga. Aku membelinya di Korea, dan ini sudah dicuci." Jelas pria itu.

Ada untukku juga? Lily menatap piyama yang diberikan Varo lalu merasa canggung. Bukankah mereka akan terlihat seperti pasangan kalau ia juga memakainya?

"Mandilah! Semua barang-barangmu ada di kamar tamu sebelah kamar Rion. Mandi dan setelah itu kembali kesini! Kamu belum makan apapun sejak siang tadi, kan! Aku nggak mau kamu sakit." Pria itu memerintahkannya. Lily yang tidak terbiasa dengan perhatian mendadak pria itu, hanya bergegas pergi untuk mandi.

Setelah mandi dan berganti pakaian. Lily kembali ke dapur dan mendapati Varo benar-benar menunggunya untuk makan bersama.

"Jam berapa kamu berangkat besok?" Tanya pria itu.

"Jam 2 siang."

"Kami tidak bisa mengantarmu."

"…tidak apa-apa."

Kenapa kamu bilang ke ibumu bahwa aku pacarmu?"

"!!!"Lily langsung menelan ludah ketika mendengar pertanyaan dengan nada santai itu. Pria didepannya itu tidak terlihat marah, hanya saja tampang dinginnya dan tatapan tajamnya itu membuat Lily merinding.

"Kamu….memeriksa pesan di ponselku?"

"Hanya untuk memastikan ponselmu tidak disalahgunakan."

Lily menarik nafas dalam, ia tak pernah berpikir kalau kebohongan kecilnya yang satu itu akan ketahuan. Lain kali ia harus memasang sandi di ponselnya.

"Waktu itu…Bunda terus bertanya tentang seseorang yang dekat denganku, jadi…aku akhirnya mengambil foto mu dan mengirimnya. Bundaku….terlalu senang dan terus-menerus bertanya tentangmu, dan aku akhirnya berbohong bahwa kita pacaran. Itu kulakukan agar ibuku tak mendesak ku pulang dan menikahkan ku dengan pria pilihannya."

Lily menunggu Varo untuk mengatakan sesuatu, tapi pria itu tak memberikan komentar apapun.

"Aku akan mengatakan pada ibuku bahwa kita tidak punya hubungan apapun. Jadi…kamu nggak perlu khawatir.

"Dan itu berarti kamu akan setuju kalau ibumu kembali menjodohkan mu dengan pria pilihannya lagi?"

Lily terdiam beberapa detik sebelum mengangguk. "Asalkan ibuku bahagia, aku tidak keberatan. Lagipula….tidak pantas bagiku untuk terlalu pemilih."

"….."

"Aku mau tidur. Biasanya aku memeriksa kamar Rion tiap 2 jam, sekarang kamu yang harus melakukannya." Lalu pria itu bangkit dan pergi meninggalkan makanan di piringnya yang masih bersisa setengah.

Lily menatap kepergian Varo sebelum akhirnya bergumam sendiri.

"Akan jauh lebih mudah kalau Rion tidur di sampingku."

🌸🌸🌸

A Little Cupid (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang