tiga puluh tiga.

506 36 0
                                        

Normayntaa

Setelah Sovra pergi, Azura bersiap siap untuk pergi makan bersama Ardan. Setelah beberapa menit, mereka pun berangkat menuju tempat dimana perut mereka bisa terisi. Sesekali Ardan melontarkan candaan yang berhasil membuat Azura tertawa. Namun tetap saja hatinya meringis, miris dengan keadaan sekarang padahal seharusnya ia bahagia bisa pergi berdua dengan Ardan.

.
.
.

Kini mereka tiba di sebuah tempat makan, yang berada di sisi taman kota yang ramai di kunjungi oleh orang-orang.

Ardan dan Azura duduk di pojok sisi kaca ke luar yang menampilkan langsung suasana sore di Kota Bandung.

"Mbak!" panggil Ardan pada salah satu pelayan di sana.

"Iya mas, mau pesan apa?" tanya pelayan tersebut.

"Zura, lo mau makan apa?" tanya Ardan pada Azura.

"Eum... gue mau mie bakso aja Dan," jawab Azura setelah berfikir.

"Terus minumnya? Sekalian mau pesen apa lagi, kasian si mbaknya kalo harus bolak-balik nanti. Kayak setrikaan lagi hehe," canda Ardan di barengi cengiran.

"Teh manis dingin aja, udah gitu aja. Kasian kalo si mbaknya bawa banyak-banyak. Berat hehe," ucap Azura dengan gaya bicara yang di mirip-miripkan seperti Ardan.

"Bisa aja lo," timpalnya.

"Yaudah, mbak. Mie bakso 2, es teh manis 1, sama jus jeruknya 1," ucap Ardan kepada pelayan, memesan makanan.

"Baik, mas. Silahkan di tunggu," ujar pelayan seraya meninggalkan mereka.

Selama menunggu, Azura hanya diam saja. Entah kenapa ia hanya memandangi terus keluar hingga Ardan yang memperhatikannya pun bingung.

"Heh, anak itik! Ngapain ngelamun? Kesambet setan sore mamposs lo," ucap Ardan yang sontak membuat Azura menoleh.

"Sembarangan kalo ngomong!" ucap Azura penuh penekanan.

"Abisnya lo ngelamun terus ngacangin gue. Ngelamunin apaan sih lo?" tanya Ardan dengan gaya mengintimidasi.

"Meratapi nasib Ar," ucap Azura dengan sorot tajam menatap Ardan, lalu dia memalingkan wajahnya kembali menatap keluar.

"Gay---" Tidak sempat Ardan menyelesaikan kalimatnya, karena terpotong oleh seorang pelayan yang datang membawa pesanannya.

"Ini mas pesanannya," ucap seorang pelayan sambil meletakan makanan juga minuman di hadapan Ardan dan Azura.

Mereka makan dalam diam, menikmatinya hingga keduanya selesai makan. Azura meminta langsung pulang saja karena waktu yang sebentar lagi magrib. Tidak baik jika keluar magrib-magrib, itulah yang di katakan nenek Azura waktu kecil. Setelah membayar, Ardan dan Azura pergi dari sana dan pulang.

Setalah mengantar Azura pulang dan mengetahui jika orang tua Azura gelah berada di rumah, Ardan pun memutuskan untuk langsung pamit pulang.

***

"Mama, Dania berangkat yaa!" teriak Dania karena mamanya sedang berada di kamar mandi, sedangkan ayahnya sudah berangkat sejak pagi-pagi buta tadi. Ia berlari karena tidak mau di tinggal oleh Ardan yang sedari tadi memanggilnya. Dan akhirnya...

Bruk!

Dania jatuh terpeleset di depan pintu.

"Huwaa Abang!" teriak Dania, Ardan langsung menghampiri adiknya cemas.

"Lo gak papa dek? Mana yang sakit?" tanya Ardan yang khawatir adiknya kenapa-napa.

"Gak papa, bang. Cuman pantat aja yang sakit. Tapi gak sesakit cinta bertepuk sebelah tangan si," jawab Dania enteng, padahal ia sedari tadi sudah meneteskan air mata, walau tidak banyak.

[1]Labirin Cinta✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang