jisu mendadak menjadi lebih tenang setelah kejadian tadi. gadis itu dalam senyap susul-menyusul langkah dengan seungmin. entah karena takut menabrak orang lagi atau karena bayang-bayang wajah kedua orang tadi yang sekejap menyesaki pikirannya, seungmin tidak tahu.
namun seungmin yakin, pasti antara kedua itu atau mungkin malah dua-duanya.
jisu yang mulanya banyak berbicara karena terburu mencapai rumah, memilih mengatupkan mulut rapat. seungmin sendiri juga tidak ada topik yang pas untuk menjemput percakapan. pemuda itu hanya diam memperhatikan tangannya yang sesekali bersinggungan dengan milik jisu.
"temen kerja ayah kali ya." tahu-tahu si gadis menggumam, menarik atensi seungmin sesaat.
"siapa?" balas seungmin.
jisu mengendik, "gangster tadi."
"lo kenal?"
"enggak." jisu berbalik waktu, "gue inget sepintas aja soalnya dulu waktu kecil, gue sering bantu ayah kerja."
"oh, ya? ayㅡmaksud gue, mendiang ayah lo kerja apa?"
"gatau, gue gak ngerti."
seungmin mengangguk, wajar jika jisu tidak mengerti pekerjaan ayahnya saat kecil. ketika besar pun jisu juga tidak diizinkan mengerti karena beliau sudah berpulang terlebih dahulu, "kalo ceweknya lo kenal? lo bilang kayaknya kenal wajah mereka."
"jihyeon?" katanya, segera dihadiahi anggukan seungmin, "yang gue inget, dulu temen gue banyak banget setelah gue disuruh bantu ayah kerja."
"terus?"
"setiap hari kayaknya ada aja temen baru, cowok cewek, tapi kebanyakan cewek sih. ayah juga nyuruh gue buat ajak mereka ke rumah,"
"lo ajak?"
jisu mengangguk, "iyalah, gue nurut-nurut aja. gue sampe lupa siapa aja temen yang pernah gue bawa ke rumah."
seungmin tidak merespon, membiarkan jisu melanjutkan ceritanya.
"dan waktu gue udah lumayan deket sama beberapa dari mereka, mereka malah ngilang. gue datengin ke rumahnya, mereka gaada." jisu merasa kesal mengingat dia yang sering kehilangan teman dekatnya dulu, "ayah sambil senyum bilang, mungkin mereka iri karena gue banyak temennya. makanya mereka gamau dateng ke rumah lagi."
"memangnya anak kecil ada pikiran kayak gitu?" balas pemuda kim.
"gue waktu itu masih kecil seungmin, apapun yang ayah gue ucapin, gue percaya." jisu menghela napas, "dan baru sekarang gue sadar kalo itu alasan yang enggak banget setelah lo ngomong gitu."
jisu ingat dengan jelas ayahnya yang berkata demikian sembari tersenyum. bukannya membantu mencari tahu tentang teman baik jisu yang menghilang, ayahnya malah terus menjejalkan jisu teman baru. jisu disuruh mengunjungi alamat ini-itu, mengajak anak ini-itu ke rumah, dan terus menjadi siklus keseharian.
ketika jisu meminta pertolongan ibunya pun sama saja. dengan raut sedih ibunya mengusap lembut puncak jisu dan berkata, jisu juga ibu hanya bisa bersedia.
hingga tiba hari di mana jisu kehilangan dunianya. ayah dan ibunya dikabarkan mengalami kecelakaan serta meninggal di tempat dalam kondisi tidak wajar. mereka penuh luka ganjil yang tidak bisa dikatakan sebagai luka akibat kecelakaan.
"hei," telapak seungmin melambai, "kok tiba-tiba sedih?"
"enggak, keinget ayah ibu barusan."
"eh? duh maaf ya jiii, gue malah bikin lo keinget mereka."
jisu menepuk pelan pundak seungmin, "gue gapapa kok asal lo temenin gue sampe rumah."
"tadi yang gak ngajakin pulang bareng siapa?'
"tadi lagi keburu, min. lupa ngajakin lo."
seungmin mendecak, "sekarang gak keburu?"
"keburu! ayo, cepetan ke rumah!" jisu yang hendak berlari justru dicekal tangannya oleh seungmin, "kenapa? ayo lari!"
"lari apanya?!" seungmin mendaratkan tangannya ke kepala jisu, lalu memutar kepala si gadis agar menoleh ke arah yang dia maksud, "depan udah rumah lo, mau lari ke mana lagi?"
"oh, hehe."
"haha, hehe, memangnya kenapa sih kok buru-buru ke rumah? lino kenapa?"
bukannya membalas pertanyaan seungmin, gadis itu malah menarik seungmin masuk ke dalam rumah. mengajak si pemuda mencari keberadaan lino di dalam.
"lino!"
"lino, gue pulang!"
"lino, lo di mana???"
seungmin di situ bingung, "kenapa sih, ji? lino 'kan di sini, ngapain lo cariin?"
tidak mengindahkan kalimat seungmin, jisu terus mencari lino. memutari seluruh rumahnya barangkali pemuda itu tidur di tempat yang tidak pernah jisu kira.
namun sampai 5 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda lino berada di rumah.
pemuda itu menghilang.
lino menghilang dengan meninggalkan seluruh kresek uangnya di rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
[v] one & only ✓
Fanfictionbagi lino, jisu adalah satu-satunya. ft. lee know, lia. est. 2020 ⚠️ violence, murder, harsh words, lowercase, unrevised
![[v] one & only ✓](https://img.wattpad.com/cover/217392108-64-k228640.jpg)