only one: 28

3.2K 839 208
                                        













































kini, jisu berpijak di atas rooftop sekolah yang belum pernah dia datangi semenjak ia memasuki sekolah. akan tetapi, lino di sana dengan mudah membawanya kemari dengan tautan tangan yang tidak kunjung dia lepaskan. sampai mereka duduk berdampingan pun lino tidak minat melepaskannya.

jisu hanya bisa mengatupkan bibir. memperhatikan lino yang sibuk mengatur napas. alisnya bertaut, menggambarkan betapa kesalnya pemuda itu. juga napas yang tidak tenang menandakan lino menahan diri agar tidak lepas kendali tadi.












































"lo...kenapa?" tanya jisu hati-hati, tidak ingin sedikit pun mengusik amarah lino.

lino membuang napas kasar, melepas tautan mereka dan beralih menyisir asal poni yang menjuntai menutupi dahinya, "astaga jisu, maaf. kamu pasti kaget ya?"

kaget, tetapi jisu dengan tidak tahu dirinya malah berdebar kala lino menggenggam tangannya, "gapapa, gue lebih bingung kalo lo gak jelasin kenapa lo tiba-tiba mukul meja gitu."

"haha, kamu gak nyaman ya pake aku-kamu?"

"gausah ngalihin topik, gue tanya lo kenapa."

lino berdeham, "hmm, kenapa ya~"

jisu merengut, "serius dong."

"aku...gak suka aja."

"ya?"

"aku udah bilang, jangan choi soobin. tapi, kenapa kamu masih deket sama dia?"

"soobin juga nawarin makan kok, apa salahnya? gue juga males jajan meskipun punya uang."

"salah." lino menyelipkan anak rambut jisu ke belakang telinganya, "kamu punya aku, aku punya kamu. itu mutlak. jadi jangan terlalu deket sama cowok selain aku."

"s-seungmin?" masalahnya, seungmin itu seperti kaleng kosong untuk hidup jisu. seungmin tempat yang tepat untuknya bergantung.

"enggak tau, tapi aku paling gak suka liat soobin. dia ngeliat kamu enggak kayak ngeliat temen biasa."

jisu memiringkan kepala, "memang lo tau darimana?"

"aku dan soobin sama, ji."

"sama?"

"iya, sama."

"samanya dari mananya??"

lino membawa jemari jisu menyusuri pipi si pemuda, "kita sama-sama cowok dan sama-sama suka kamu jisu, cuma itu."



























































apakah kalian mendengar suara ledakan?










































ya, itu jantung jisu yang dibuat meledak ke sekian kali oleh lee kurang ajar minho.

benar-benar kurang ajar.















































































beberapa hari berlalu dan lino semakin aneh tiap harinya. apa ya, posesif? sebenarnya jisu geli menyebut lino posesif mengingat tingkahnya yang sedikit lugu. namun, pemuda itu sungguh merealisasikan perkataannya untuk tidak dengan dengan pemuda selain lino.

jisu seperti dijauhkan dari semua laki-laki didekatnya termasuk kim seungmin.

ah, bahkan jisu juga dijauhkan dari teman perempuannya.

dunia jisu kini hanya berputar pada lee minho. dia hanya mampu mengiyakan tanpa bisa menolak. lino bak bumi dan seisinya sedangkan jisu bak bulan dengan kehampaannya. dia tidak bisa menolak untuk mengorbit pada sang bumi.

jisu bukanlah gadis berdinding ratusan meter seperti dulu. mungkin ada beberapa puluhan tinggi yang hilang hingga menyebabkan gadis itu lemah di hadapan lee minho.


















































"ji, lo gak mau tau lagi soal apa yang gue liat tentang lino?" seungmin mengajaknya bercengkrama di tengah pelajaran berlangsung.

"sejak kapan maha pinter seungmin ngomong pas pelajaran?" jisu menoleh, "udah bosen sama pelajaran ya akhirnya?'

"soalnya gak ada waktu selain sekarang. lo masa gak sadar lo anytime, anywhere bareng lino? makanya waktu lo pisah sama lino cuma dipelajaran gini."

seungmin melihat itu sebagai masalah, tetapi jisu sepertinya senang-senang saja menghabiskan banyak waktu untuk lino, "lo iri ya?"

"APA?!"

"siapa itu? kim seungmin?" pak jaebum dengan seluruh rumus kimia di papan menegurnya, "peringatan pertama hanya ucapan, yang kedua saya keluarkan dari kelas meskipun kamu murid kesayangan guru satu sekolah."

seungmin dengan kaku membungkuk di tempat, "maafkan saya."

pelajaran kembali berlanjut begitu pula dengan seungmin, "lo gila, ji?! yakali gue iri, gue gini soalnya gue temen lo!"

"tapi gue gak boleh temenan terlalu deket sama lo lagi, maaf."

lihatlah betapa lemahnya gadis itu sekarang.

padahal siapa yang dulu takut setengah mati dengan lino dan mengemis-ngemis meminta bantuan seungmin? siapa yang dulu bercerita dan memanggil seungmin seenak hati untuk mengatasi masalahnya dengan lino?

gadis itu rupanya jatuh terlalu dalam pada lino.














































"sesuka itu lo sama lino?"

jisu mengendik, "entahlah, mungkin ini pertama kalinya buat gue. jadi, keliatan aneh ya?"

"aneh, lo aneh banget. meskipun lo pacar lino bukan berarti lo harus nurutin semua perkataannya."

"tapi dia bilang gue satu-satunya buat dia. kalo gue gak ada, dia bilang dia mungkin enggak bakal hidup sampai sekarang."

seungmin mengerang frustasi, "oh, c'mon, jisu yang cerewet dan galak jadi selemah ini just for her lover? lo percaya lino ngomong gitu?"

"dia gak keliatan bohong."

"dan mungkin itu berhubungan sama maksud tertentunya lino." tukas pemuda kim lantas.

"bohong!"

"lo harus percaya gue, jisu."

"boㅡ"

"ehm, saya kira kamu bicara dengan siapa, ternyata choi jisu?" tanpa mereka sadari, pak jaebum sudah berdiri di antara bangku mereka yang saling bersebrangan, "yang kedua saya tidak main-main, kim seungmin dan choi jisu keluar dari kelas sekarang juga!"
























































mau tidak mau mereka harus keluar dari kelas.

[v] one & only ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang