jisu termangu, memperhatikan lino yang tengah terlelap di sofa. sepeninggal kim seungmin, jisu benar-benar sekedar mengobati dan memperhatikan.
meja di depannya berantakanㅡhasil mengobati lino mengikuti intuisi. kapas bekas antiseptik, bekas potongan kassa yang tak terpakai, juga bungkusan plester luka yang isinya sudah ditempelkan dibeberapa sisi tubuh si pemuda turut mengacak permukaan meja.
mejanya juga sedikit basah berkat handuk kecil bekas es yang jisu biarkan begitu saja. setelah es habis dipakai untuk mengompres memar pemuda lee, jisu tidak berminat membereskannya. malah membiarkan handuk basah itu tergeletak tanpa perhatian.
agaknya, perhatian jisu berhasil direbut oleh pemuda yang terbaring di sana.
"ehm,"
"lino?" jisu mengangkat alis, mendekatkan diri, "lo udah bangun?"
"hm," pemuda itu memegangi pelipis, sedikit memicingkan mata untuk melihat jisu didekatnya. lino lantas berusaha duduk setelah meninjau jelas rupa gadis choi. dia mendesis kecil, menahan perih yang dirasa kala berusaha mendudukkan diri.
"eh, lo jangan duduk dulu!"
lino mengerjap, "k-kenapa? aku gapapa kok."
"jangan,"
namun, lino tetap mendudukkan diri, "kenapa?"
"perut lo..."
"perut?" ulangnya, mendaratkan satu telapak di atas perut.
"m-maaf gue lancang, tadi baju lo sempet kesibak dikit terus gue liat perut lo biru. makanya lo jangan duduk dulu..." jisu bisa merasakan mukanya memanas, meredamkan rasa malu, "maaf banget ya."
"gapapa, kamu cuma mau ngobatin 'kan?"
jisu mengangguk, "tapi gue tetep minta maaf, takutnya lo mikir aneh-aneh gitu."
"gapapa kok, asalkan kamu orangnya."
siapapun tolong jelaskan maksudnya sebab ritme jantung jisu membuncah tiba-tiba mendengar kalimat lino, "m-maksudnya?!"
"gapapa," lino menarik kedua sudut bibir, mencipta senyum, "terima kasih ya, jisu."
"s-sama-sama."
gila, jisu rasa dia sudah gila.
kenapa jantungnya berdebar hanya untuk pemuda tidak jelas asal-usulnya seperti lino?!
dan kenapa lino harus semenawan ini bahkan ketika luka memar menghiasi wajahnya?!
sial, sialan.
ini pasti ulah sinar petang yang menembus dari balik jendela dan langsung menyorot tepat pada si pemuda. sinar itu bagai spotlight untuknya, untuk lino. dasar sinar kurang ajar, jisu jadi dimabuk berkatnya.
"jangan tinggalin aku lagi." tuturan lino membuat jisu meraih kesadarannya kembali, "jangan pernah."
jisu gelagapan tanpa alasan, "t-tapi kenapa?"
"jangan lagi."
"lo juga gak jelasin siapa yang lo lukain tadi. orang itu siapa? orang siapa di deket gue?"
lino tanpa izin menaruh telapaknya di atas punggung tangan jisu. menyalurkan hangat yang tidak seberapa, tetapi melahirkan debaran jisu yang luar biasa, "dia engga bakal muncul kalau kamu bersamaku."
dan mengesalkannya, jisu tidak bisa menolak sapaan tangan lino itu, "dia siapa? tante jahat yangㅡ"
"ey, kamu kok mikir dia orangnya?"
"ya abisnya aku clueless banget kamu bilang orang itㅡ" sial, sial! kenapa jisu jadi ikut-ikutan aku-kamu?! "maksudnya, gue clueless banget lo bilang orang itu! gue mikirnya cuma tante jahat yang nodongin lo pistol!"
"mukanya merah." telunjuk lino terangkat, menunjuk wajah jisu, "malu banget ngomongnya pake aku-kamu?"
"soalnya lo pake aku-kamu jadinya gue ikutan!"
"gak ada yang nyuruh jisu ikutan kok?"
"diem! gue kebawa doang, bukan mau ikut beneran!"
lino tertawa, membawa matanya tersenyum. dia mengangkat satu tangan jisu, menyelipkan jemarinya di sela jari milik jisu, lalu menggenggam tangan si gadis erat. lino di sana tersenyum, tanpa tahu jika gadis yang digenggamnya mulai menggila.
"janji lagi ya, jangan tinggalin aku."
"t-tapi gimana caranya? gue 'kan harus sekolah, masa gue ke sekolah bawa lo?"
lino menggeleng, "bukan kamu yang bawa, tapi aku yang ke sana."
"apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[v] one & only ✓
Fanficbagi lino, jisu adalah satu-satunya. ft. lee know, lia. est. 2020 ⚠️ violence, murder, harsh words, lowercase, unrevised
![[v] one & only ✓](https://img.wattpad.com/cover/217392108-64-k228640.jpg)