"cerita? ah, aku sedikit lupa soalnya hari itu aku enggak bisa ngelihat jelas apapun."
"gak bisa ngelihat jelas?"
begitu sesi bercengkrama seungmin dan jisu berakhir di luar tadi, seungmin langsung membawa gadis itu masuk ke dalam. menarik tangannya dan menyuruhnya duduk di sebelah seungmin.
jisu rupanya takutㅡterbukti tangan seungmin digenggam erat sesaat setelah mereka mengambil tempat tidak jauh dari lino. maka dari itu, terpaksa seungmin yang harus membuka percakapan mereka dengan lino untuk mengetahui semuanya.
awalnya, lino menolak. dia sama sekali tidak berminat membuka suara. bahkan lino sempat marah saat melihat tangan jisu berada digenggaman seungmin. namun, berkat kalimat-kalimat meyakinkan oleh pemuda kim, lino akhirnya mengiyakan permintaannya.
"iya, semuanya buram. engga keliatan apa-apa." lino menggigit bibir, "selain itu, yang aku lihat juga kayak mau jatuh."
seungmin mengatupkan bibir, memilih membiarkan lino berbicara sepuasnya.
"aku gatau kejadiannya gimana, orang-orang teriak, semuanya lari, dan waktu aku sudah bisa ngelihat lumayan jelasㅡrumahku terbakar dan satu jeriken bekas ada ditanganku."
"waktu jeriken itu kucium teryata bekas bensin dan waktu aku ngelihat sekeliling, orang-orang yang berteriak tadi berdiri di depanku. mereka marah, melempar batu, memukul dan menendangku. mereka bilang aku membunuh ibuku, mereka bilang aku yang membakar rumahku sendiri."
"terus lo mikir memang lo yang ngebunuh ibu lo?" simpul seungmin kemudian.
"aku...enggak tau." air muka pemuda lee lagi-lagi berubah sendu, "soalnya ada jeriken bekas bensin ditanganku, jadi mungkin memang benar aku yang ngelakuin."
"lo 'kan gatau kejadiannya? kenapa lo engga nolak?" cicit jisu takut-takut.
lino menggeleng, "enggak segampang itu lari dari tuduhan ratusan orang, jisu."
"terus lo gimana? lo dibawa ke polisi?" lanjut jisu.
"aku? aku lari." pemuda itu meluncurkan tawa getir, "aku kabur kayak yang kamu tau."
jisu tidak tahu harus berekspresi bagaimana.
di satu sisi dia merasa marah dengan cerita lino dan di sisi lainnya dia merasa bersalah karena tidak mau mendengarkan cerita lino terlebih dahulu. jisu merasa jahat sekali mengecap lino sebagai pembunuh seenaknya. jisu merasa jahat sekali membanting pintu dengan keras di depan lino.
padahal pada dasarnya, pemuda itu sama dengan jisu. mereka sama-sama sendiri danㅡterpinggirkan.
jika kalian tanya kenapa jisu semudah itu percaya lagi dengan lino, wajah pemuda itu sungguh menyuarakan semuanya. dia sama sekali tidak memasukkan kebohongan dalam ceritanya.
"tapi ayah lo ke mana?" lontar jisu kemudian, "lo cuma nyeritain ibu lo daritadi."
"a-ayah? ayah, sakit..."
"sakit?"
"i-iya, sakit parah. terus meninggal."
"oh," jisu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mendadak mengangkat tangan kanan dengan gestur mengajak bersalaman, "gue minta maaf ya? gue seenaknya marah-marah sama lo tadi."
"bukan masalah kok, jisu. makanya aku takut waktu kamu minta aku cerita."
"sebagai permintaan maaf gue, gue izinin sekali lagi lo boleh tinggal di sini."
"serius?"
"gamau?"
"mau!"
jisu tersenyum, dalam hati sedikit ragu mengizinkan lino untuk tinggal di rumahnya untuk yang kedua kali.
namun meski begitu, jisu berharapㅡ
ㅡmereka bisa hidup lebih baik mulai sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
[v] one & only ✓
Fanfictionbagi lino, jisu adalah satu-satunya. ft. lee know, lia. est. 2020 ⚠️ violence, murder, harsh words, lowercase, unrevised
![[v] one & only ✓](https://img.wattpad.com/cover/217392108-64-k228640.jpg)