34. Diam

2K 225 36
                                        

Update lagi guys biar tidur kelean gak nyenyak. Jan lupa vote dan komen.

Selamat membaca~~

***

"Tidak, aku tidak mengaturmu nak, ini tawaran," kata wanita itu pada Suho yang tenangah menatapnya dengan tajam.

"Sudah ku bilang jangan sentuh dia!" teriak Suho lalu mencekik leher wanita yang di panggilnya Ibu itu, jika saja tidak dipegangi oleh pengawal Ibunya itu mungkin saja Suho sudah mematahkan leher wanita itu.

"Kenapa kau sangat kurang ajar? Aku bisa saja menyakitinya, menyakiti anakmu," kata wanita itu mengancam "Ayo lakukan penawaran," ajaknya.

"Kau menikah dengan Krystal dan aku akan membiarkan wanita itu dan bayimu, kau bisa menemui mereka dan menjaga mereka," kata wanita itu sambil tersenyum manis.

"Kau berkuasa, tapi aku juga berkuasa anakku.. Fikirkan," kata wanita itu.

Suho memijat keningnya yang berdenyut nyeri karena semua yang dilakukan oleh wanita itu. Tapi apa pun itu Suho harus berfikir jernih dan tepat.

Kini dia tak hanya harus memikirkan hidupnya, tapi ada nyawa lain yang harus dijaga. Hidupnya tak hanya tentangnya tapi yang lebih penting adalah hidup Irene dan juga anak mereka.

Dengan pertimbangan matang akhirnya Suho memutuskan untuk mengikuti kemauan Ibunya itu, Suho tak mau mengambil resiko yang malah nantinya membahayakan Irene dan anak mereka.

***

"Bahagia rasanya sudah menjadi Nyonya Kim Suho..," kata Krystal "Kau mengambil keputusan yang tepat," sambungnya lalu mengecup bibir Suho singkat.

"Bantu aku," kata Krystal berbalik dan meminta Suho membuka resleting gaunnya dengan sungkan Suho menurunkan resleting itu "Terimakasih," kata Krystal lalu membuka bajunya di depan Suho.

"Kau tak mau menjalankan kewajiban mu sebagai suami?" tanya Krystal "Suami?" tanya Suho dengan senyum miringnya "Kau hanya akan menjadi Nyonya Kim Suho, tapi tidak dengan Istri.. Persis seperti yang kau mau," kata Suho.

Suho pergi begitu saja dari kamar pengantin mereka dan berjalan menuju kamar Bobby.

"Bob, urus kepulangan ku besok," kata Suho "Kita punya masalah Bos, paspor kita di tahan, aku sedang berusaha untuk mencari solusinya," kata Bobby "Baik, selesaikan dengan cepat," kata Suho sambil menepuk bahu Bobby.

***

"Sakit..," rintih Irene pada Dokter yang menanganinya "Baik Nyonya.. Tenang lah," kata Dokter itu dan detik selanjutnya Irene kembali tak sadarkan diri.

Dokter keluar dari ruangan itu dan bicara pada Sehun "Bagaimana Kakakku Dok?" tanya Sehun "Buruk, keadaannya tidak terlalu baik. Jika tak ada perkembangan maka kita harus mengorbankan Bayinya," kata Dokteri itu.

Seketika Sehun terdiam tanpa bahasa, jika saja tidak berpegang pada dinding sudah pasti Sehun akan tersungkur ke lantai. Tubuhnya melemas, Sehun tau betul Irene sangat mencintai bayi itu.

"Bagaimana dia akan menjalankan hidupnya jika kehilangan bayi itu," gumam Sehun. "Semua akan baik-baik saja," kata Kai menepuk punggung Sehun.

"Sedikit banyak aku tau masalah kakakmu," kata Kai "Em, terimakasih sudah memperhatikannya selama ini," kata Sehun.

"Kami harus pergi, aku akan membawanya pergi..," kata Sehun "Dia tak boleh bertemu dengan pria itu lagi," sambung Sehun "Tapi itu mustahil, pria itu bisa menemukan kami dengan mudah," kata Sehun setengah mengeluh.

"Aku punya kenalan yang bisa membantu kalian," kata Kai "Aku akan mint mereka mengganti identitasmu dan kakakmu," sambung Kai.

***

Suho masuk ke apertemen itu dengan perasaan campur aduk, terlebih saat tak menemukan Irene di sana.

Suho begitu marah pada keluarganya yang memang tak pantas disebut sebagai keluarga itu. Suho tak tau sama sekali jika pernikahannya di beritakan dengan sangat hebo. Suho berencana menjelaskan semuanya pasa Irene setelah dia kembali, tapi Irene pasti salah faham karena berita itu.

"Pergi ke mana dia Sunny?" tanya Suho pada Sunny "Saya tidak tau Tuan dan ini surat pengunduran diri saya," kata Sunny.

"Aku tau, paling tidak kau pasti tau sesuatu tentangnya," kata Suho "Jika saya mengatakannya apa Tuan bisa melanjutkan hidup?" tanya Sunny sambil menangis.

"Apa makaudmu?" tanya Suho "Di hari itu, saat Nyonya kehilangan rasa percaya pada Tuan, hari itu juga Nyonya kehilangan bayinya," kata Sunny sambil menangis tersedu "Nyonya bilang tak perlu mencarinya lagi." Sunny pergi begitu saja meninggalkan Suho yang masih terpaku.

Jatung Suho serasa melorot untuk sepersekian detik dia kehilangan nafasnya. Dadanya sesak, dunianya runtuh.

Bobby hanya menatapnya dari belakang, belum berani untuk mendekat. Karena merasa ibah dengan langkah gontai Bobby memberanikan diri untuk mendekat.

"Hidupku hancur," kata Suho sambil menatap Bobby dengan matanya yang menangis "Kenapa semua keputusan yang kubuat selalu salah dan tidak tepat!" kata Suho merutuki dirinya sendiri "Anakku.. Anakku sudah tiada," lirih Suho dengan pedih.

"Aku mau mati juga!" Teriak Suho "Aaaahh! Maaf! Maaf!" sambung Suho dengan degala rasa bersalahnya. Dunianya benar-benar berhenti.

***

Irene terus menangis saat Sehun bilang mereka akan segera pergi ke tempat yang jauh.

"Katakan pada Sunny jika aku kehilangan bayiku," kata Irene pada Sehun "Semua ini akan lebih mudah untuk kami," sambungnya "Baik lah," kata Sehun sambil mengangguk.

"Kakak kuatkan?" tanya Sehun "Aku begitu mencintainya..," kata Irene lirih sambil menangis.

Sehun ikut menangis lalu memeluk kakaknya itu "Kenapa hidupku selalu menderita..," gumam Irene "Aaa!" teriaknya kian histeris "Kuat lah, aku mohon," kata Sehun.

"Aku akan selalu ada untuk Kakak.. Bersabar lah kak, semua akan baik-baik saja," kata Sehun meyakinkan Irene.

***

Begitu lah caraku meninggalkan mu.. Mungkin begitu menyakitkan untuk mu tapi sungguh lukaku lebih parah ketimbang lukamu. Aku begitu kecewa, kau berhianat, kau yang memaksaku pergi. Aku pergi dan kuharap kau hidup dengan baik, kau hidup dengan pilihanmu.

Terimakasih untuk semua kenangan indah yang kau buat sebelum kau menyakiti aku dengan begitu dalam.

***

Jan marah-marah guys, tungguin updatean selanjutnya karena balak seru abess..

Crazy in LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang