24| MAAF- Nyx

1.4K 92 3
                                    

"Yeay! Terbukti kan, Sa, gue bisa jadi juara umum!" teriak gue di depan teras rumahnya.

Heksa nyandar di ambang pintu, bersedekap. "Sombong ya, kamu."

"Harus dong," Gue memamerkan piagam penghargaan sebagai juara umum angkatan kelas sepuluh. "Keren, kan?"

"Ya deh, keren." Dia manggut-manggut. "Pertahanin, ya."

Seneng banget gue bisa ngalahin Si Jenius Heksa. Tiga tahun masa SMP, dia enggak pernah lengser dari takhtanya sebagai pemegang juara umum. Tapi sekarang, dia ada di peringkat dua.

"Lo gak marah kan, Sa?" tanya gue takut-takut. Heksa kan selalu berambisi punya prestasi yang bagus di sekolah.

"Kenapa marah?"

"Ya karena- posisi lo sebagai juara umum mmm... tergeser."

"Saya gak marah. Justru senang, kamu udah berusaha keras."

Syukurlah. Gue bisa bernapas lega. Setelah itu, gue menyenggol lengannya jahil. "Lo harus tepatin janji."

Sejak masuk semester dua, kita bikin perjanjian. Isinya, yang jadi juara umum nanti bisa ngasih satu permintaan dan harus diwujudkan. Sekarang, karena gue yang berhasil, jadi gue yang akan mengajukan permintaannya.

"Ya sudah, permintaannya apa?"

Gue sudah mikirin ini matang-matang. Jadi tinggal ngomongin aja ke dia. "Gue mau- lo lebih romantis kayak cowok lain."

Heksa membulatkan matanya. "Romantis?"

"Iya. Kayak si Rio tuh, atau Kino, oh Aldo juga, tau kan?" Gue menyebut beberapa cowok yang terkenal romantis, menurut cewek-cewek di sekolah.

"Maksud kamu, ngasih bunga, cium setiap ketemu, begitu?"

Aduh, pusing gue lama-lama. "Ya enggak gitu juga. Maksud gue, lo jangan dingin dan datar terus gini lah. Jangan kayak robot. Kan bisa sekali-kali jadi cowok yang manis gitu."

Heksa menaikkan kaca matanya yang melorot. Memiringkan kepala, dia menatap gue beberapa saat. "Saya coba." Pelan-pelan dia mendekat, mendaratkan bibirnya di kening gue. "Gimana?"

Gue semringah. Sebuah kemajuan. "Lumayan."

Dia cuma ngedip-ngedip dengan tampang datarnya. Gue enggak kuasa menolak untuk menyambar lehernya, meluk dia. "Sebenernya jadi Heksa yang gini juga gak papa. Gue ganti permintaannya aja. Gue mau, lo tetep ada di sini, Sa. Jangan pernah pergi ninggalin gue."

Heksa enggak menjawab. Udah biasa gue kalau bicara sama dia, seakan lagi ngomong sama patung. Tapi kali ini, dia melepaskan pelukan gue. "Salah," katanya. Terus dia balik merengkuh gue, menempatkan dagunya di puncak kepala. "Harusnya begini."

Sebuah kemajuan lagi. Gue sadar senyum lebar di dalam pelukan Heksa. Baru kali ini gue merasa benar-benar dipeluk dia. Biasanya, cuma gue yang gelayutan di lehernya sementara dia tetep jadi patung.

Tapi tiba-tiba, ada yang misahin kita. Gue terhuyung mundur. Bingung sendiri kenapa ada tiga orang, bertopi juga pakai masker, serba hitam. Dua orang narik Heksa dan satunya megangin gue.

"Heksa! Argh lepasin gue!" Gue meronta, begitu juga dengan Heksa. Kaca matanya jatuh, dia terus ditarik melintasi halaman rumahnya.

"Ini apa-apaan, sih?! Lepasin gue! Jangan bawa Heksa!" Dapat pencerahan, gue injak kaki orang ini dan gigit tangannya. Seketika gue bebas.

"Lepasin Heksa!" Gue mukul-mukul orang yang memegangi Heksa tapi enggak berefek apa-apa. Malah gue yang jatuh karena di dorong oleh orang itu.

REMBAS [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang