"Sayang, belum tidur?" tanya gue, begitu melihat Heksa masih duduk di single sofa ruang baca. Gue sendiri baru balik dari dapur. Habis pesta kalori sama Mbak Ning, karena dia lagi simulasi bikin pie coklat.
Tanpa melepaskan mata dari laptop, Heksa menggeleng. "Belum. Mana pie coklatnya?"
"Lah, katanya kamu gak mau," protes gue. "Aku gak bawain jadinya."
"Saya mendadak kepikiran, sepertinya enak. Tapi ya sudahlah, enggak apa-apa."
"Besok juga Mbak Ning bikin lagi. Ntar aku minta pisahin buat kamu."
"Iya," ujar Heksa singkat.
Gue duduk di tepian kasur, menatapnya. "Belum mau tidur? Besok kan penyerahan kepemimpinan Gandewa, sayang."
"Tanggung sedikit lagi."
Dengan penasaran, akhirnya gue mendekat. "Emang bikin apa, sih? Serius amat."
Bukannya jawab, Heksa malah terus ngetik. Alisnya bertaut, tanda kalau dia lagi berpikir serius. Sementara gue cengar-cengir minta dia geser. "Mau duduk disini juga, geseran."
"Sempit ini, Nyx. Enggak akan muat."
"Muat, geser dikit."
Heksa mengalah dengan menggeser bokongnya. Lantas gue menghempaskan diri duduk, tapi malah menghimpit paha dia. Heksa mengaduh.
"Sudah saya bilang enggak muat," ujar Heksa kesal.
Gue terkekeh. Kayaknya pantat gue memang terlalu gede. "Ya udah maaf. Duduk di bawah aja, deh."
"Jangan," Heksa melingkarkan tangannya di pinggang gue. "Duduknya jangan seperti tadi, tapi seperti ini-" Dia membuka kedua kakinya lebar, terus mendudukan gue di tengah-tengahnya. Alhasil, paha gue jadi tempat menyimpan laptop, sementara dada Heksa jadi sandaran gue.
"Ini apa?" Gue menunjuk layar laptop.
Tangan Heksa terjulur di kiri-kanan badan. "Peraturan Gandewa yang baru."
"Emang boleh diubah?"
"Pemimpin Gandewa punya hak untuk itu," katanya.
Gue menatap barisan huruf di laptop. Banyak. Tapi yang paling menarik perhatian adalah ...
Tongkat kepemimpinan Gandewa harus diserahkan kepada anak laki-laki pertama yang lahir. Dengan syarat, yaitu : sudah melalui ujian yang lima kali lebih berat dari anggota umunya, maksimal menikah saat umur 24 tahun, dan resmi menjabat posisi Tuan Gandewa pada umur 25 tahun.
"Kenapa mau diubah?"
"Agar anak kita bisa leluasa sekolah, dan menikmati masa remajanya dulu. Baru dia akan mendapat tanggung jawab memimpin Gandewa. Menurut kamu bagaimana?"
"Aku? Pasti setuju lah, Sa. Lagian aku juga gak tega, kalau anak kita terenggut masa remajanya."
"Kalau begitu sudah selesai. Semuanya akan saya ajukan besok," ujarnya sambil mematikan laptop.
"Nah, kalo gitu kita tidur. Kamu seharian ini sibuk banget, gak sempet istirahat juga."
Gue serius, Heksa memang super sibuk. Dari beberapa hari ke belakang, dia menyiapkan segala hal buat penyerahan jabatan. Bahkan di H-1 ini, gue cuma bisa ketemu Heksa dua kali.
"Ayo cepet, Sa. Aku gak mau kamu sakit."
"Iya, sayang," sahut Heksa seraya mengikuti gue ke kasur.
🏹🏹🏹
Dibanding pesta pernikahan gue sama Heksa, penyerahan jabatan ini sangat jauh dari kata mewah. Lagipula acaranya digelar di markas. Tepatnya di aula. Cuma, karena ada jamuan makan, Mbak Ning dan timnya sibuk masak.
KAMU SEDANG MEMBACA
REMBAS [Tamat]
RomanceCover by @achielll ________________________________ (Spin off dari 'Halaman Terakhir') Catatan : Mengandung kekerasan dan kata-kata kasar. Apakah ada orang yang seneng di drop out dari sekolah? Ada, jawabannya adalah gue. Tapi di DO dengan keadaan...
![REMBAS [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/209966020-64-k576214.jpg)