“Lo serius gak mau gue temenin?” Della masih nahan pintu biar tetap terbuka. Dia kekeh mau nemenin gue di kamar malam ini, dengan alasan kondisi gue yang katanya belum membaik. Raut wajahnya menampakkan rasa cemas yang justru membuat gue kepingin tertawa geli.
“Serius, Del. Gue gak papa. Lagian tadi lo liat gue latihan, kan?” Gue enggak bohong dengan bilang baik-baik aja. Toh, biasanya pun gue suka tiba-tiba pingsan kayak kemarin, tapi akhirnya ikut latihan fisik juga.
“Liat lah, orang gue sebelah lo.” decaknya sebal. Wajar juga dia agak parno karena tahu ada makhluk kecil di perut gue.
“Ya udah, sana ke kamar. Gue mau tidur.” usir gue. Berharap tingkah menyebalkan begini bisa membuat kepercayaan Della kembali.
Perlahan Della menghela napas. Dia mengalah dengan melepaskan tangan dari gagang pintu. "Tapi kalo ada apa-apa, lo langsung ketok pintu kamar gue."
Gue mengacungkan jempol. "Sip!"
Matanya memicing. "Awas lo," ujarnya lantas berbalik pergi.
Sembari terkekeh-kekeh gue menutup pintu. Ada-ada aja kelakuan temen gue yang satu itu. Di luar kelihatan dingin, tapi dalamnya perhatiaannn banget. Sampai bikin gue terharu.
Gue mengambil botol berisi susu dari Suster Rara, membawanya ke kasur. Suster Rara bilang harusnya gue minum susu kayak gini dari awal pas tau hamil, biar bayinya tetap sehat. Dia beberapa kali menggelengkan kepala, ngeri membayangkan gue melakukan aktivitas keanggotaan Gandewa dengan kondisi seperti ini.
'Kuat banget kamu, masa-masa ngidam gini biasanya cewek suka ada di titik lemah. Apalagi mual, pusing, serba kerasa, deh. Kamu malah ikut ujian Gandewa yang super serem itu. Terus rutin latihan fisik sama tarung.
Tapi Nyx, sebaik apapun kondisi kamu sekarang, kita gak tau seperti apa beberapa minggu ke depan. Ada baiknya kamu mulai berhenti latihan, demi bayi kamu. Usia kamu juga terlalu muda untuk sebuah kehamilan. Jadi, kamu harus mencegah resiko yang akan terjadi.'
Umur gue baru mau menginjak 17 tahun, namun akan segera merasakan posisi sebagai seorang ibu. Gue tahu ini kesalahan fatal, sangat. Sebagai generasi muda gue paham telah jadi sampah. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi. Dan gue percaya, setiap keadaan bisa diperbaiki, meski enggak akan seperti semula. Setidaknya gue akan mulai dengan usaha menjadi ibu yang baik dulu.
Tok... Tok... Tok...
Gue mendengus keras, melompat dari kasur. Gagang pintu gue tekan dengan malas. "Apaan lagi sih, Del? Lo-" Lidah gue mendadak kaku. "H-heksa?"
Masih dengan tatapan dinginnya, dia merangsek masuk. Berjalan cepat menuju gantungan sebelah lemari untuk menyambar jaket hitam gue di sana. Dia menyerahkannya tanpa memandang mata. "Pakai."
"Pakai?" Gue membeo. Gemetaran harus bereaksi seperti apa. Lagipula gue pakai t-shirt, jadi enggak terlalu terbuka.
Heksa mendorong jaket lebih dekat lagi. Menandakan perintahnya ingin segera dilaksanakan tanpa bantahan. Melihat air mukanya yang sekeras batu, dengan mata setajam silet, gue memilih nurut.
"Ikut saya," titahnya, disertai cekalan ke tangan. Dia menutup pintu dan membawa gue keluar asrama cewek.
Ajaib, meskipun Heksa kelihatan marah, pegangan tangannya terasa lembut. Seolah dia mencoba membimbing gue dengan penuh kesabaran.
"Mau kemana?" tanya gue. Kentara ketakutan melekat dalam pertanyaan tersebut.
"Ke rumah." jawabnya tanpa menoleh.
Gue kaget Heksa mau berbicara. Lebih kaget lagi pada jawabannya. Rumah? Maksudnya rumah keluarga Gandewa? "Ngapain, Sa?"
Dan Heksa bungkam. Gue menelan ludah, menatap punggungnya yang naik-turun karena napas pendek-pendek. Anggota yang kebetulan berpapasan mengangguk kikuk pada Heksa, serta melayangkan tatapan heran ke gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
REMBAS [Tamat]
RomanceCover by @achielll ________________________________ (Spin off dari 'Halaman Terakhir') Catatan : Mengandung kekerasan dan kata-kata kasar. Apakah ada orang yang seneng di drop out dari sekolah? Ada, jawabannya adalah gue. Tapi di DO dengan keadaan...
![REMBAS [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/209966020-64-k576214.jpg)