36. A Quite Place

132 29 29
                                        

Hari Senin tiba, Renjun mengawali pagi dengan perdebatan sengit antara dia dan beberapa teman di kelasnya. Perihal tugas untuk ujian praktek, kabarnya Bahasa Indonesia dan Seni Budaya akan disatukan. Semua siswa wajib ikut dalam satu tim mewakili kelas 3-A dalam sebuah pertunjukan teater.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Mereka menunjuk Renjun untuk menjadi aktor, padahal dia berkukuh tak mau mengingat kegiatannya akan semakin mencekik minggu-minggu nanti. Mungkin ini terkesan angkuh karena semua siswa tiga sama sibuknya seperti dia, tapi Renjun berani sumpah aktingnya benar-benar buruk dan ia khawatir akan mendapat nilai jelek kalau tetap memaksakan diri.

Renjun baru berhenti mengoceh ketika Rahayu melewati kelasnya sambil melemparkan tatapan tanya, laki-laki itu dengan segera keluar setelah berseru lantang, "POKOKNYA GUE ENGGAK MAU JADI AKTOR, TITIK! KURANG AJAR LO PADA MAIN TUNJUK AJA!!"

Segalak itu. Jangan kaget, ya.


"Gula darah kamu kayaknya rendah," ucap gadis itu berhenti di depan kelas 3-B.

"Mungkin? Jadi gimana kalau pulang sekolah nanti kita jalan-jalan nyari obatnya?" tawar Renjun sukses mendapatkan pukulan ringan di lengannya. Dia terkekeh sebentar sebelum akhirnya mengendurkan senyum dan bertanya, "Udah sehat?"

"Kalau belum, aku enggak akan sekolah," jawab Rahayu.

"Ada ngobrol sama Bu Irene?" tanya Renjun membuat gadis itu diam, tapi senyumnya segera terbit meski tanpa menjawab.

"Hari ini aku mau pergi nyari buku sekalian beli beberapa perlengkapan, ikut yuk!" Renjun mengerutkan kening, sepertinya ini pertama kalinya Rahayu mengajak dia ke suatu tempat. Dia sempat memeriksa suhu badan Rahayu dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi gadis tersebut, tapi memang benar sudah tak panas dan pastinya Rahayu tak melantur sekarang.

"Ya boleh-boleh aja, sih," ucapnya mengangguk ragu, "kalau gitu pulang sekolah nanti aku ke kelas kamu."

"Ngapain?"

"Jemput?"

"Kelas kita sebelahan." Renjun mengulum senyum saat Rahayu merotasikan bola mata, ekspresi juteknya unjuk diri dengan gaya menggemaskan. Yah, setidaknya di mata pemuda itu.

"Oke. Belajar yang bener ya, biar bisa ngalahin aku," ledek Renjun mengusak rambut Rahayu. Perasaan gadis itu sempat tak enak kala kalimat jenaka itu keluar dengan maksud yang ia yakini tak benar-benar serius Renjun ucapkan, namun berikutnya ia hanya tersenyum tipis dan melenggang meninggalkannya.


















***

Renjun memperhatikan Rahayu dengan seksama, gadis yang satu jam terakhir sudah bersamanya kini tengah sibuk memasukkan beberapa koin kembalian ke dalam dompet sementara tangannya yang lain juga penuh dengan barang bawaan. Laki-laki yang baru saja sampai setelah membuang botol minuman itu dengan sigap mengambil goodie bag miliknya, dan mengangguk dengan mata yang tertuju ke dompet Rahayu pertanda dia boleh melanjutkan kegiatannya.

It's All FineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang