43. Meminta Bantuan

154 21 5
                                        

Pagi ini begitu suram, sejuknya udara tak membuat rasa penat hilang dari Renjun yang semalam hampir tak bisa tidur. Suasana hatinya masih buruk, sudah tergambar dengan jelas di wajah tampan itu. Awalnya dia juga tak mau masuk sekolah, tapi Taeyeon mengomel dengan tak lupa bertanya atas alasan apa pemuda tersebut masih betah di kasurnya. Renjun tak mau menjawab, jadi dia lebih memilih berangkat.

Suasana lorong begitu sepi, kebanyakan siswa akhir sudah masuk ke kelas masing-masing. Renjun merasa perjalanannya jadi jauh karena ia menaiki tangga yang memutar, alasannya karena lebih dekat dengan tempat parkir dan itu menyebalkan. Selain itu, rupanya keberadaan Yeji semakin merusak mood-nya.

 Selain itu, rupanya keberadaan Yeji semakin merusak mood-nya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mau apa lo? Mau ngamuk depan muka gue? batin Renjun sewot.

Tapi apa yang sudah dia ekspektasikan sejak di ujung lorong tak terjadi, justru ketika mata keduanya bertemu saat berpapasan, Yeji memilih membuang muka. Hal tersebut menghentikan langkah Renjun dan ia bertanya dengan heran, "Lo enggak marah, Ji?"

Yeji ikut menghentikan langkah dan berbalik sedikit enggan, Renjun sudah menatapnya dengan datar dan menyebalkan, padahal dia sudah mencoba tenang untuk tak menjabak rambutnya. Gemuruh dada Yeji hari ini sudah bergejolak, karena cerita Rahayu sangat mempengaruhi pandangan gadis tersebut pada si ranking satu itu sekarang. "Buat apa?"

"Gue yakin lo udah tahu apa yang terjadi kemarin," jawab Renjun tak mau basa-basi.

Gadis yang mengurai rambutnya itu tampak mengepalkan tangan, tentu saja dia marah dan kenapa masih harus dipastikan ketika air muka sudah menunjukkannya dengan jelas? Kini benaknya terus bertanya, bagaimana bisa Renjun masih terlihat santai setelah menyakiti hati seseorang? Bukankah seharusnya dia kena sial karena ulahnya?

Enggak, lo enggak boleh kepancing, Ji. Enggak ada gunanya lo ngeladenin orang yang lagi keruh hati sama pikirannya kayak Renjun, itu semua enggak bakal ada ujungnya, batin Yeji mengingat pesan Rahayu untuk tak mencampuri urusannya dengan Renjun terlalu jauh, apalagi sampai marah-marah.

"Jangan karena barbar, lo ngiranya gue bakal main labrak ya meski tangan ini sekarang udah enggak tahan buat mukul lo," jelas Yeji penuh penekanan, "dasar cowok berengsek. Kalau enggak tahu apa-apa jangan asal ngomong, otak lo baru aja dijatuhin harga dirinya sama mulut busuk itu."

Ketika gadis jangkung itu ingin melanjutkan langkah, Renjun menggeram sambil memasang raut tak suka dan membalas ucapannya, "Mending lo ngaca deh, Ji. Bukannya dulu lo juga sakit hati dan enggak terima waktu Rahayu enggak cerita tentang keluarganya sama lo?"

Yeji mungkin akan menarik kerah baju Renjun dengan kasar saat itu juga, kalau saja Haechan tak keluar dari kelas dan tiba-tiba menarik gadis tersebut menjauh beberapa langkah.

"Mau ke mana, bep? Kantin? Bareng aku, haiyukkk!" ajaknya menarik paksa tangan Yeji dan menoleh ke arah Renjun. Dia memberi isyarat supaya sang teman lekas masuk kelas, lalu berikutnya menatap Yeji serius sambil melepaskan pegangan. "Jangan dilawan kalau ngerti perasaan dia."

It's All FineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang