14. Mengorek Cerita Lama

130 31 7
                                        

Semua bermula ketika Rahayu ada di kelas satu SMP. Harmonis menjadi deskripsi yang pas untuk menggambarkan keadaan keluarganya. Setiap pagi diawali dengan sarapan nasi, di mana lauk pauknya dibuatkan oleh Wendy—si sulung milik Irene dan Suho yang juga menjadi kakaknya.

Biasanya Rahayu selalu iseng menjahili Wendy dengan mencomoti beberapa masakannya selagi ia buru-buru menyiapkan keperluan sekolah, sementara Irene akan mengomel karena tingkah kekanakannya.

Ibu yang tegas juga cantik, ayah yang serius tapi baik, dan kakak pintar yang menyenangkan adalah anugerah yang selalu Rahayu syukuri setiap harinya. Menghuni rumah sederhana dengan tawa yang hangat merupakan kebahagiaannya.

Wendy masih menganggur waktu itu, baru pulang setelah kuliah di Kanada dengan nilai yang nyaris sempurna. Rahayu pikir, mungkin saking banyaknya perusahaan yang menawarkan, sang kakak jadi bingung harus bekerja di mana.

Rahayu bukanlah anak yang bisa menyaingi Wendy, peringkatnya di sekolah hanya sebatas masuk lima besar. Kendati demikian, Irene dan Suho tak pernah mempermasalahkannya selagi Rahayu masih giat belajar untuk—setidaknya mempertahankan nilai.

Daripada bergelut di bidang akademis, Rahayu sebenarnya lebih berminat pada seni. Mungkin karena selalu iseng begadang demi mendengarkan kakaknya bernyanyi di kamar sebelah, menyenandungkan sebuah lagu dengan suara yang indah membuat ia kagum dan penasaran.

Keinginannya untuk belajar semakin kuat ketika Wendy meminjamkan gitar, walau sebenarnya sudah kelihatan tua. Pelan-pelan Rahayu berlatih memetik benda tersebut sambil mengasah diri di bidang tarik suara.


Hari itu pada tanggal 29 di bulan Januari, tepatnya sehari sebelum Rahayu ulang tahun. Wendy mendapat kabar gembira karena diterima di salah satu perusahaan ternama dengan jabatan yang tak mengecewakan. Keluarganya diselimuti kebahagiaan, termasuk Rahayu yang bangga pada keberhasilan kakaknya.

Setelah makan malam dan belajar, Wendy masuk ke kamar Rahayu dan seperti biasa akan menanyakan harinya sebelum pergi ke dunia mimpi. Anehnya, Rahayu sampai tak mau tidur saking asyiknya mereka mengobrol. Mereka bahkan jadi begadang untuk membicarakan banyak hal. Tak seperti biasanya.

"Besok kamu ulang tahun ya—cieeeee, mana udah dapet ranking satu lagi," ucap Wendy sambil melemparkan bantal ke Rahayu dengan senyum lebar, "lagi baik, nih! Besok jalan-jalan aja, yuk!! Sekalian ngerayain berita soal pekerjaan baru Kakak nanti."

"Tapi dibayarin?"

Dengan senyum merekahnya Wendy mengangguk. "Iya, dong!!"

"Wohooooo~ jadi enak hehe."

Wendy mengusak rambut adiknya dan berdiri, berpesan supaya besok bersiap sejak pagi. Dia meninggalkan kamar adiknya setelah sempat memandangi gitar tua di dekat meja belajar di pojok ruangan.

"Adek serius mau belajar gitar? Main musik gitu?" tanya Wendy selagi Rahayu menarik selimut, dia mengangguk bingung dengan pertanyaan kakaknya. "Kalau iya ... besok mau beli yang baru?"

"Eh? Serius?!"

"Iya, buat Adek!" Pipi Rahayu bersemu, dadanya berdebar hebat. Terlalu bahagia karena mendengar ucapan Wendy. "Sekalian hadiah karena udah ranking."

"Asyik!! Makasih banyak, Kak!!" seru Rahayu menubrukkan diri untuk memeluk Wendy yang langsung meringis dan tertawa di waktu yang bersamaan. Bahkan suara keduanya sampai terdengar ke kamar orang tua mereka dan berakhir mendapat teguran.

"Sssttt! Dah, tidur sana! Jangan senyam-senyum itu mulut kalau robek 'kan serem!" Wendy menyentil kening adiknya gemas kemudian masuk ke kamarnya sendiri.

It's All FineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang