—Salam Literasi—
“Terkadang kita tidak mengetahui bahwa seseorang yang kita anggap melukai kita, justru dia yang melindungi kita.”
—Prasasti Hati Anak Organisasi
Naya membawa beberapa tumpukan kertas hasil mading seminggu yang lalu, dia akan menyimpannya di ruang OSIS sebelum dijadikan satu dokumen tahun depan. Saat mereka reformasi.
Dirinya merasa tergelitik ketika melihat sebuah layangan bewarna hitam bergambar tengkorak yang tergantung di dinding ruang OSIS, tidak perlu ditanyakan lagi punya siapa. Pasti punya seorang laki-laki yang beberapa hari yang lalu menyebalkan.
Entah kenapa cowok itu yang berhasil menarik perhatian Naya, seorang laki-laki unik yang masih suka bermain layangan di kala senja.
Naya menyadarkan diri seraya memasukkan lembar demi lembar karya anak SMA Dewantara. Dia teringat sebuah kertas yang ia tempelkan di dinding kamarnya.
"Kenapa, ya dia suka tengkorak? Padahal itu nyeremin!" dumel Naya bermonolog sendiri, tidak menyadari seseorang baru saja masuk.
"Siapa?!"
"Li—" jawabnya tercekat, Naya meneguk ludah dengan susah payah. Dia menjatuhkan kotak membuat seluruh barang-barang berceceran.
Ada orangnya lagi, batin Naya sedari cengengesan langsung mengambil kertas yang berceceran lagi. Kali ini Lian membantu.
"Yan, ngapain sih lo di sini! Lo— lo— lo kagak ada tugas napa? Nggak dicariin Bu Cahya apa?!" garang Naya masih menunduk tidak berani melihat lawan bicaranya, dia perlu menstabilkan degup jantungnya dulu. Berada di dekat Lian, sungguh tidak sehat untuk jantungnya serasa habis lari marathon.
Lian menggeleng, entah apa maksudnya cowok itu kadang banyak bicara sampai menyebalkan kadang juga sangat irit bicara.
"Lo tanya apa tadi?" Sontak Naya membulatkan mata, masih ingat aja ucapannya tadi. "Kagak, emang kenapa?!"
"Nggak papa," jawabnya cepat kemudian mencari pulpen di lemari OSIS.
"Ada apa woy!!" Heboh Bian dan Rian masuk ruang OSIS, seakan-akan menjadikan ruangan itu hutan belantara. Keduanya langsung memakan jajanan yang mereka beli di kantin. "Etdah jangan berduaan entar yang ketiganya setan. Mending lo keliling deh, Yan. Nggak puas gue kalo ada lo di sini!" tukas Rian membuat kerutan di dahi Lian.
Tidak lama beberapa anak OSIS masuk, setelah beres Naya hendak meninggalkan ruang OSIS.
"Kenapa?" Lian menaikkan kedua alisnya.
"Biasalah, kan kalau lo di sini anak-anak diem ae serasa sungkan kayak ketemu ketua gorila," timbrung Bian kalau ngomong seenak jidat.
"Lo pasukannya, ya, Bang!" canda Setya terkikik girang.
"Dah ah, keluar aja lo!" usir Rian tidak tahu posisi.
"Setan kok ngusir setan," balas Lian meninggalkan ruang OSIS begitu juga dengan Naya.
"Ciee yang keluar barengan, jangan-jangan jo ...."
"Jomlo, kali ah! Lian kan jomlo akut," sindir Bian tidak sadar diri, padahal dirinya juga jomlo.
"Iri bilang bos!" kesal Lian membuat mereka tertawa tentu saja terkecuali Naya, "kode keras, Nay!!"
"SIKAT, NENG!!" teriak Bian tidak bisa diam.
Tanpa Naya sedari tujuan mereka sama, mau ke kelas. Naya berjalan sedikit di belakang Lian, tapi melihat anak-anak yang berbondong-bondong mau ke lapangan mau lihat anak basket latihan membuat langkah Lian memelan, sebisanya dia menghindar dari mereka. Sekalian melindungi Naya, agar cewek dengan senyuman khas itu tidak ikut tergilas oleh kerumunan.
"Duh, lo nginjek sepatu gue! Majuan dikit napa!" Naya mendorong punggung Lian, cowok itu memang terus mundur. "Lo sama aja kayak temen-temen lo, pada resek semua!!"
Naya terus mengumpat kesal sepanjang perjalanan, bahkan ada yang berbisik-bisik melihat mereka berdua. "Tuh, 'kan gara-gara elo sih gue bisa kena gosip tuh," celetuk Naya berlari cepat mendahului cowok itu.
Lian tersenyum melihat tingkah absurd Naya, "apa cowok selalu salah di mata cewek?!"
****
Entah mimpi apa semalam, Naya sekelompok bersama Lian dan Belva. Kelompok presentasi PKN. Mereka membahasnya di bangku Belva.
Bener-bener sial, batin Naya. Matanya memandang malas kedua remaja yang malah mengobrol sendiri tanpa melibatkan Naya dalam obrolan itu. Benar-benar memuakkan apalagi Naya tidak tahu mereka membahas topik apa.
Brak!!
Naya menggebrak meja kasar seraya berdiri dan mengangkat salah satu tangan. "Ada apa, Naya?" tanya pak Faiz yang cukup kaget.
"Saya mau pindah kelompok aja, Pak. Lian sama Belva ngobrol sendiri, nggak enak sama mereka. Kesannya saya ganggu mereka pacaran, Pak!" jawab Naya melirik tajam Lian yang menatapnya penuh arti.
Pak Faiz mengembuskan napas kasar. "Sekarang pelajaran, bukan waktunya pacaran dan kalian berdua harus diskusi bukan malah ngobrol sendiri!" Pak Faiz mengingatkan kepada Lian dan Belva yang mengangguk mendengar peringatan pak Faiz.
Nyonyor lo pada, batin Naya merasa puas.
"Busyet, Nay. Lo kesambet apaan berani banget?" bisik Feila yang kebetulan berada di sampingnya, tapi mereka berbeda kelompok.
Baru saja mau membalas. Namun, Lian berdehem mengisyaratkan mereka berdua untuk diam. "Waktunya diskusi bukan ngobrol sendiri," ulang Lian menirukan pak Faiz.
"Terus aja gue yang salah, buruan Belva malah terus diajak bercanda," gumam Naya membuat Lian dan Belva menatapnya.
"Lo ngomong apa tadi?" Naya menggelengkan kepala. "Kalian serasi kalau jadi pasangan," asal Naya menahan sesak dalam hati.
"Masak sih?" ungkap Belva tidak percaya, Naya mengangguk pasrah. "Jadi tambah semangat!!"
"Semangatmu mematahkan semangatku," celetuk Naya sangat pelan.
.
.
.
Hullla😇😇
Ada nggak temen kalian yang kayak Naya?
Anaya Bestari
Aulian Bashira Ghayda
Bellova Syakila
Fabian Fedrian
Riansyah Raharjo
Salam manis dari Yaya, semanis rasa yang pernah ada🍂
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Teen FictionJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)