—Salam Literasi—
-&-
Kebanyakan manusia baru sadar arti kata 'ada' ketika kematian telah di depan mata.
-&-
Rian mengembuskan napas saat itu juga, melihat temannya sudah tidak bernyawa Xila murka, bahkan dia membalas kematian itu.
Jam menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh, rumah Rian terpenuhi dengan suara gaduh. Baku hantam terjadi hampir di setiap penjuru ruangan, ada yang duel man to man ada yang tiga banding satu.
Pasukan mereka seimbang dan sama-sama kuat. Seorang cowok masih berdiri melihat jenazah sahabatnya, sungguh akhir yang miris. Bahkan, dia tidak pernah membayangkan masalah ini bisa serunyam ini.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, thanks for all," ujar Aulian kemudian memejamkan mata Rian. Tangan Lian dipenuhi darah Rian.
Aulian menoleh pada Panca, sejak dulu Panca memang menyebalkan. Menyerang seseorang tanpa senjata, memaksa orang untuk menuruti apa maunya.
"Mati!" seru Lian menghajar Panca habis-habisan. Tidak lama suara sirene polisi terdengar, mereka langsung kalang kabut terutama pasukan Panca segera melarikan diri.
Beberapa polisi dan keluarga Rian langsung masuk dan memeriksa semuanya, ada yang mengejar gerombolan Panca.
"RIAN!!" teriak mamanya Rian menghampiri jenazah putranya. "Bangun, ya, Sayang. Mama buatin makanan kesukaan Rian?!"
Papa dan kedua saudaranya ikut berjongkok mengetahui Rian meninggal dengan tragis, ada sebuah penyesalan kenapa tadi mereka tidak menolong Rian terlebih dahulu. Kenapa harus ke kantor polisi.
"Rian, maafin Papa. Papa nggak tau kalau mereka berbahaya. Papa kira kamu pesta ...." Ucapannya terhenti.
Lian berdecih, apakah manusia baru menyadari ketika kematian telah terjadi? Kini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengikhlaskan.
Polisi memeriksa Aulian dan teman yang lain. Aulian berjanji akan memberi Panca ganjaran yang setimpal atas kematian sahabatnya.
****
Semuanya hadir di pemakaman Riansyah Raharjo, sebagai penghormatan terakhirnya. Begitu cepat hari kemarin, sampai mereka tidak sempat mengucapkan kata-kata terakhir kepada Rian.
"Yan ...," ujar seorang cowok memakai casual bewarna hitam. "Hm?!"
"Sore sebelum kejadian, gue ditelpon sama Rian. Dia cerita katanya dia habis memergoki Ria memberikan informasi ke Panca dan Rian ketahuan. Mungkin, itu sebabnya Panca nggak mau rahasia mereka bocor," ujar Bian selepas dari pemakaman. "Ria?!"
"Iya, kemarin hp gue mati gue nggak bisa hubungin lo. Gue ke rumah lo, tapi sejak sore lo nggak pulang ke rumah," balasnya mendapat anggukan dari Lian. "Dia memang bisa mencelakai lo, tapi dia nggak tega buat habisin lo."
"Gue tahu."
"Ria pengkhianat!?"
"Biarin dia ngelakuin apa yang dia mau, tunggu tanggal mainnya aja," ujar Lian tersenyum miring hal itu memicu kekhawatiran Bian. "Bro ... lo nggak balik ke dunia malam itu, 'kan? Inget lo udah susah payah buat ninggalin."
"Nggak, apa yang sudah menjadi prinsip akan gue genggam sampai akhir," jawabnya membuat Bian sedikit lega meski tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aulian memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebenarnya hari ini jadwal dia ngelatih pencak silat. Namun, kondisinya belum stabil dia takut akan menjadikan mereka pelampiasan.
****
"Rez, Lian ke mana?" tanya Belva yang baru saja datang, dia mengenakan pakaian yang sama saat menghadiri pemakaman Rian.
"Di jongol!!"
"Gue serius, Alfarezi."
"Di atas! Jemur baju kayaknya," ujarnya menggendong Gemoi dan keluar rumah.
Farez menunggu seseorang, seseorang yang mungkin saja mampu mengembalikan mood abangnya.
"Gemoi anak mama, sini sini!" teriak seseorang setelah memasuki gerbang, dia langsung mengambil alih Gemoi. Gadis itu meletakkan kue dan dua botol cappucino di meja teras. "Waalaikum salam."
"Eh, iya assalamualaikum."
"Waalaikum salam mamanya Gemoi." Entah sejak kapan dia juga setuju dengan sebutan itu, tapi yang ia lihat Gemoi senang saat bersamanya.
"Gimana kabar Abang lo?!"
"Ya gitu lha, Kak. Kayaknya dia masih terpukul apalagi dia sendiri melihat kematian sahabatnya, gue takut dia jadi gila."
"Sekata-kata lo, Rez." Anaya tertawa, dia mengantarkan pesanan Farez. "Suhu dinginnya bertambah."
"Apanya?!"
"Bang Lian lha semakin dingin, gue takut dia malah kayak dulu lagi. Sering keluar malem, nggak tau aturan, dan nggak tersentuh." Farez tertunduk lesu, kemudian mempersilakan Naya untuk masuk. "Nggak ah, gue ke taman aja sama Gemoi main bentar boleh, 'kan?!"
Farez mengangguk kemudian Naya membawa Gemoi ke taman. "Gue ambilin uangnya dulu."
Tidak sengaja matanya menangkap kedua remaja yang berbincang di rooftop rumah. Anaya menyipitkan mata, ternyata mereka adalah Aulian dan Belva.
"WOI ATI-ATI DI ROOFTOP ENTAR ADA KULIT PISANG JATUH CUMAN BISA NANGIS!" teriaknya membuat mereka menoleh.
Saking seriusnya melihat mereka sampai tidak sadar kalau Gemoi berlarian dan keluar gerbang.
Naya yang baru tersadar itu pun langsung mengejar Gemoi.
"GEMOI!!" teriaknya mendekap erat kucing Lian saat mobil hampir saja menabraknya. Untung mobil itu berhenti sesaat sebelum menyentuh Naya.
"Kak Naya nggak papa?" tanya Farez memberikan sebotol mineral kepada Naya yang masih gemetar. Naya menggeleng, dia menurunkan Gemoi dan meneguk air mineral.
Lian dan Belva turun untuk memastikan. "Lo nggak papa?!"
Naya mengembuskan napas, "nggak papa."
Satu lagi yang membuat Belva sebal kehadiran Naya hari ini menggagalkan rencananya.
"Gue mau ngomong sama lo."
"Apa?!"
"Gue cin—"
Belum selesai mereka mendengar suara klakson mobil yang memekik keras dan pada akhirnya Belva mengurungkan niat untuk menyatakan perasaannya.
"Makanya nggak usah teriak-teriak," canda Lian mencairkan suasana ketika melihat raut wajah Naya yang masih ketakutan. "Mulut-mulut siapa? Dahlah, gue mau pulang."
"Mau gue anterin?" tawar Lian mendapat gelengan dari Naya. "Gue pakai mobil."
"Emang bisa?" tanyanya meremehkan kemampuan Lian. Lian tersenyum untuk pertama kalinya selepas kejadian itu. "Apa yang nggak buat lo."
Sepertinya Farez salah memprediksi, orang abangnya bucin gini, batin Naya menerka-nerka.
"Okey."
Belva mendengar hal itu langsung menyahut, "Yan, gue?!"
"Iya, entar lanjutin ngobrol setelah nganter Naya."
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Roman pour AdolescentsJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)