11. Dia🍂

740 81 0
                                        

—Salam Literasi—

“Ternyata orang hebat pun berasal dari orang yang berkali-kali gagal. Namun, dia tetap bangkit.”
—Prasasti Hati Anak Organisasi

   "Mungkin dia suka sama lo kali, Nay," tutur Feila saat mengendarai sepeda, iya Naya nebeng sama Feila.

   "Mana ada coba! Nggak usah ngada-ngada deh," selorohnya memalingkan wajah. Melihat ekspresi Naya dari spion motor membuat perempuan berkerudung itu bertambah yakin, kalau Naya benar-benar memiliki perasaan yang lebih kepada KETOS mereka.

   "Pas lo belum dateng dia nyariin lo, terus dia juga yang nyusul!" ujar Feila beradu dengan bising suara mesin di jalanan, Feila menghentikan motor ketika lampu merah.

   Dalam hatinya, jelas Naya berbunga-bunga. Namun, apakah pantas dia seperti ini padahal dia sendiri belum tahu kebenarannya. Bisa juga Lian hanya mencari karena dia adalah ketua OSIS-nya sudah wajar memperhatikan setiap anggotanya.

   Matanya mendadak menjadi sendu, mengingat hanya Belva alasan Lian tertawa.

   "Dahlah, Fei. Jangan ngaco mulu lo! Tuh udah lampu ijo!" seru Naya mengingatkan sekaligus mengalihkan pembicaraan.

   Feila tertawa pelan, bisa-bisanya masih menyangkal padahal semuanya sudah jelas. Dia ingin mengetahui semuanya, tapi ia urungkan mengingat seorang Anaya Bestari tidak menyukai jika terlalu didesak. Biarkan saja dulu, entar juga cerita sendiri.

   Sesampainya di rumah Naya menenteng helm miliknya, dia melepas sepatu seraya mengucapkan salam berulang kali.

   "Buk, mau ke mana?" tanya Naya melihat Wiwit sudah rapi begitu juga dengan ayah tirinya—Wildan.

   "Mau kondangan, Nay. 'Kan kemarin ibuk udah kasih tau ke Naya," tuturnya merapikan kerudung kembali.

   "Pulangnya sore, ya?!" Wiwit mengangguk menanggapi, dia mengoleskan lipstick ke bibirnya, tidak terlalu tebal.

   "Kamu main ke rumah Dika aja, entar kalau ibuk sama Bapak udah pulang biar ibuk jemput," sarannya mendapat anggukan dari gadis yang masih mengenakan seragam dan jas almamaternya.

   Setelah kedua orang tuanya pergi, rumah menjadi sepi. Hanya tersisa dia seorang diri. Sebenarnya Wildan juga punya anak, tapi anak Wildan sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri.

   ****

   "Kak Dika mana, Pak?" tanya Naya pada seorang body guard yang selalu bersama Dika. "Lagi di taman belakang, Ning."

   "Makasih, Pak Jali." Langkahnya pelan, melewati setiap ruangan yang cukup besar dan tentu menguras tenaga.

   Di rumah ini Dika tinggal sendirian, papa sama mama angkatnya lagi dinas ke luar negeri. Rumah benuansa klasik ini memilki desain interior khas tersendiri, yang tentunya jarang ditemui di rumah lain.

   Kedua netra Naya bersyukur lega, ternyata Dika hanya memotret tumbuhan tidak sampai ke labirin belakang rumah.

   "Kak Dika ...!" teriak Naya tidak bisa santai, dia segera menghampiri laki-laki itu. Kemudian berjongkok di sampingnya.

   "Tumben sendiri, ibuk mana?" tanyanya membuat Naya menggeleng, "ibuk kondangan."

   Sambil menunggu Dika menyelesaikan aktivitasnya, Naya melihat-lihat sekitar. Tidak sengaja dia menemukan sebuah pisau yang tertancap di pohon besar. Selain pisau di sana juga ada darah yang sudah mengering, sepertinya sudah cukup lama.

   "Kakak," panggil Naya bersedekap sedari melirik pisau itu, Dika menggeleng. "Bukan gue, awas lo berpikiran macem-macem."

   Naya berdecak, "lha terus siapa kalau bukan Kak Dika, 'kan di sini hanya ada Kakak doang," jawab Naya cukup masuk akal. Namun, Dika menyanggahnya.

   "Gue akui gue emang pernah mau menyerah dalam kehidupan, tapi bukan berarti itu akan terus gue ulangi lagi, Nay. Gue emang kehilangan sesuatu, tapi nggak selamanya gue meratapinya, Anaya."

   "Maaf."

   "Nggak papa, ayo masuk. Makan sore, lo belum makan, 'kan?" Naya mengangguk riang, tahu aja kalau perutnya udah keroncongan minta diisi. Padahal tadi siang sudah makan bersama anak OSIS.

   *****

   Naya mampir ke rumah Lian, karena tadi dia yang bawa kunci ruang OSIS. Naya berniat mengembalikan kuncinya, dia tahu sekarang Lian tidak di rumah. Namun, dia bisa menitipkannya sama keluarganya, bukan?

   "Mau ditungguin apa entar sehabis dari supermarket gue jemput?" tanya Dika masih di dalam mobil, sedangkan gadis bernetra coklat itu sudah keluar. "Kakak ke supermarket aja. Entar pulangnya jemput."

   Dika mengangguk, kemudian meminta pak Jali menjalankan kendaraan beroda empat miliknya.

   Pertama dia minta izin ke satpam penjaga gerbang rumah Lian, sebelum masuk. Ini sudah kedua kalinya dia ke rumah Lian, rumahnya adem dan masih asri.

   "Assalamualaikum," katanya mengetuk pintu pelan, tidak lama seorang laki-laki yang pernah ia temui membuka pintu. "Waalaikum salam, eh Kak Naya ada apa, Kak?!"

   Sejenak Naya kaget, ternyata dia masih mengingat namanya. Naya aja sudah lupa.

   "Mau nganter kunci ruang OSIS nih, Dek ...," ucap Naya menggantung, ragu memanggil dengan nama siapa.

   Laki-laki itu terkekeh pelan, "panggil saja Farez, nggak usah embel-embel 'adik' gue risih, Kak."

   Naya mengangguk, mereka masih di teras rumah. Sampai-sampai Farez lupa mempersilakan gadis ini masuk. "Eh, iya, Kak. Silakan masuk. Bentar gue panggil Bang Lian dulu."

   "Di sini aja, eh bukannya Lian ke SMP, ya?" Farez mengangguk, "tadi dia pulang bentaran buat ganti baju katanya."

   Saat Farez mencari kakaknya, seorang perempuan mengantar camilan dan jus jeruk ke Naya. "Mangga atuh, Ning. Di cicipi dulu."

   "Iya." Naya mengiyakan cukup ramah, kemudian perempuan itu kembali masuk mungkin banyak pekerjaan yang menanti.

   Saat Naya menoleh ke samping, seorang cowok menggendong kucing berwarna abu-abu putih ... yang membuat Naya memalingkan wajah adalah dia hanya pakai celana, sedangkan bajunya ia sampirkan ke bahu.

   Naya memejamkan mata seraya beristigfar tiada henti, apalagi mendengar derap langkah yang kian mendekat kepadanya.

   "Hei, kenapa lo ke sini?" tanya Lian mengelus-elus kucing itu. Kucing dengan nama Gembul itu merasa nyaman di pelukannya.

   "Lo udah pakai belum?" tanya Naya belum menghadap Lian, dia menggigit bibir bawahnya sendiri. Kata Wiwit tidak sopan berbicara dengan membelakangi, tapi ini darurat.

   "Apanya?!"

   "Nganu ...," kata Naya tidak bisa memikirkan hal lain, sampai dia kesulitan menyebut kata 'baju'.

   "Nganu apa yang jelas elah!" seru Lian berdecak kesal, Naya juga tidak kalah kesal. "BAJU!!"

   Akhirnya dia bisa menyebutnya, bersamaan dengan itu Naya menoleh pada Lian. Terlihat cowok yang mengenakan kaos berwarna hitam bergambar tengkorak.

   "Iya, Maaf, tadi gue nggak tahu kalau ada lo di sini!" Lian berjongkok di depan Naya. "Lo mau apa heh!" Naya berdiri setengah kesal.

   Lian tertawa kecil, "mau nyium kaki lo! Mau nurunin Gembul. Seuzon mulu perasaan!!" Kemudian melepas Gembul dari pelukannya.

   "Gue cuman balikin kunci RO doang!" seru Naya segera menyerahkan kunci ruang OSIS, setelahnya dia pergi tanpa salam. Membuat cowok dengan bola mata hitam itu terkekeh. "Kalau malu, ya malu, tapi kalau pergi salam woy ...!" teriak Lian membuat Naya menghentikan langkah.

   Naya yang merasa pipinya sudah memerah itu greget sendiri. "Lo kok malah nyebelin kayak gini sih, udah mirip Bian sama Rian."

   "Namanya juga temen," celetuk Lian tertawa. Daripada memperpanjang masalah gadis itu menyudahinya saja.

   "Assalamualaikum yaa ahly kubur."

   "Wa'alaikum salam, dikira ini kuburan kali, ya." Lian kemudian masuk mengganti bajunya sebelum balik ke SMP lagi.
.
.
.
Lian mulai gila, ya😂

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang