07. Quality Time With Bestie🍂

971 87 0
                                        

—Salam Literasi—


“Hati perempuan itu bukan pilihan, tapi harus diperjuangkan.”
—Prasasti Hati Anak Organisasi

   Rian menatap senja, kemudian maniknya memejam. Meskipun Lian tidak pernah menceritakan keluarganya, Rian tahu apa yang saat ini sahabatnya rasakan.

   Cerita mereka hampir sama, tidak mendapat kebahagiaan dari sebuah keluarga. Bian yang melihat keduanya terdiam membuat cowok itu menggeleng.

   "Yang sudah terjadi ya sudahlah, ngapain disesali? Toh, lo pada kagak bisa ngerubahnya." Kalimat yang terucap dari mulut Bian sukses membuat Rian menoleh. Dia mengecek dahi sahabatnya.

   "Kesambet apa lo Biang kerok? Bisa-bisanya lo ngomong kayak gitu," celoteh Rian kemudian tertawa, mencairkan suasana. "Serba serebu gue. Buruan ngeselin disangka setan, pas mau memotivasi dikira kesambet setan juga!!"

   Lian beranjak dari tempat itu, hari sudah semakin gelap. Rian mengekori Lian, dia yakin laki-laki itu tidak berniat pulang ke rumahnya.

   "Woy, layangan lo ketinggalan nih!" teriak Bian melihat kedua sahabatnya yang sudah mengambil tas dari ruang OSIS.

   "Turunin, bawa ke ruang OSIS kuncinya gue taroh depan."

   Nyesel Bian mengingatkan, jika dia sendiri yang ditinggal.

    ****

   "Cie yang kemarin ngobrol sama Lian," tutur Feila cekikian sendiri, mereka sedang berada di rumah Faira untuk berkumpul mumpung semuanya longgar.

   Faira mengupas bawang merah dan bawang putih sebelum mereka masukkan ke blender. Rencananya mereka akan buat seblak sendiri, sedangkan Naya merebus air untuk mie dan kerupuknya. Feila yang membantu Naya untuk meremas mie. Sedangkan, Bening main masih handphone.

   "Apaan sih, Fei. Lo mah kan udah gue ceritain kalau gue sama Lian kemarin tuh ngomongin layangan doang!" jawab Naya sedikit kesal, Faira yang langsung paham itu menyahut. "Awalnya layangan entar juga berujung ke perasaan."

   Naya mengembuskan napas kasar, "kok jadi ngomongin gue sih? Kenapa nggak ngomongin gebetannya Bening, 'kan banyak tuh."

   Bening yang merasa terganggu itu pun terkekeh, "lha bisa aja lo ngeles, Nay. Lagian kalau suka bilang aja entar kita bantuin deh."

   "Bantuin apa?" tanya polos Feila masih belum nyaut, Faira memukul kepala Feila dengan tutup blender. "Bantuin Naya deket sama Lian dong, Fei. Lo mah pengen tak ihh."

   Feila cekikikan, dia pun setuju jika Naya dan Lian. Karena keduanya sama-sama gila organisasi, menjadikan organisasi sebagai prioritas mereka.

   "Eh, kalau Lian milih Belva gimana? Lo tau, 'kan mereka itu lumayan deket." Feila cukup tahu dengan rahasia umum itu.

   Lian dan Belva itu sahabatan, bahkan Belva hampir menemani organisasi yang Lian ikuti kecuali pencak silat doang.

   "Hati perempuan itu bukan pilihan, tapi harus diperjuangkan," sahut Naya seraya mematikan kompor dan merendam mie dengan air rebusan itu.

    "Asyik!!" Kompak mereka bertiga.

    "Buat status ahh, lumayan!" tambah Faira kemudian membuka ponsel dan membuat instagram story.

   "Dasar," ujar Naya mencebikkan bibir, kemudian merendam kerupuk mentah dengan air panas.

    Bening mengambil sosis dan pentol di kulkas Faira kemudian memotongnya kecil-kecil, sementara Faira menyiapkan bumbu dibantu Naya dan Feila yang buat es teh dingin.

   "Eh, kita buat seblak kering atau kuah?!"

   "Serah dah, apapun jadi. Gue laper nih habis sekolah otak gue mobal!" seru Bening mempercepat pekerjaannya, biar cepat makan dia.

   Mereka masih memakai seragam abu-abu putih, sedangkan Bening sudah ganti ganti celana yang ia bawa. Sungguh, dia nggak nyaman nyaman memakai rok abu-abu miliknya cukup lama.

   "Kapan-kapan masak di rumah gue, dong! Pasti mbah gue suka, secara dia suka tuh yang pedes-pedes," canda Bening melihat ketiganya yang nampak sibuk.

   "Ogah!" seru mereka kompak, mereka pernah ke rumah Bening. Bukan apa-apa nih, soalnya rumah mbahnya Bening kental dengan benda-benda yang berbau mistis.

   Di Jakarta, Bening tinggal bersama mbah atau neneknya. Sedangkan orang tua Bening tinggal di Jogja.

   Mereka pernah ke rumah mbahnya Bening sekali, dari masuk saja auranya sudah berbeda. Bahkan, mereka bertiga sampai merinding sendiri.

   Sejak kecil Bening ikut mbahnya, itu sebabnya Bening dikarunia anugerah seperti mbahnya, bisa melihat makhluk yang tak kasat. Mata batin Bening terbuka, katanya itu turunan dari mbahnya.

   Di sekolah tidak banyak yang tahu, Bening memang merahasiakan hal ini. Kemungkinan yang tahu hanya orang-orang terdekatnya.

   "Eh, setiap hari mbah lo di rumah?" Bening menggeleng, "biasanya ke restoran sih."

   "Kenapa, Nay. Nanya begituan lo mau ketemu sama mbahnya Bening?" Seketika perempuan berekerudung itu menggeleng cepat. "Cuman nanya, Ra. Salah gitu?!"

  "Sebenarnya kalian nggak perlu takut sama mereka," celoteh Bening melihat mereka bergantian. "Kalau kalian udah jaga tata krama mungkin nggak akan terusik, biasanya kalau mereka terusik ...."

   "Ning, lo lanjutin lagi melayang nih wajan!" Faira mengingatkan, dia melepas kaca matanya kemudian meletakkan di atas kulkas.

   "Iya deh, iya," pasrah Bening mengakhiri tawanya melihat ekspresi tegang dari ketiga sahabatnya.

   Setelah seblak dan minuman es teh manis ala mereka jadi, mereka langsung meletakkannya di loyang berukuran besar. Kemudian mereka makan sama-sama.

   "Eh, kerupuknya terlalu letoy! Kebanyakan air ini mah," komentar Bening menyantapnya.

   "Bukannya kebanyakan, cuman kelamaan rendemnya," jawab Naya.

   Faira menyetuinya, dia mengambil kerupuk di toples rumahnya. "Aneh, ya biasanya anak seusia kita nongki di cafe, ootd kece! Lha, kita? Makan seblak itu pun buat sendiri!!"

   Uhuk... uhuk... uhuk...

   "Makanya kalau makan itu jangan ngomong," umpat Feila mengambilkan segelas teh untuknya.

   "Emang kenapa? Enak kali, selain bisa hemat kita juga bisa makan sepuasnya," sahut Bening mengambil kerupuk di toples.

   "Huum, sih lumayan uangnya gue tabung buat beli album bias," balas Faira menyahut. "Eh, kita buat seblak sayuran gimana?!"

    "Kapan-kapan woy, ini aja belum habis!" kata Naya, emang dah Faira nggak ada bosen-bosenya kalau urusan makanan.

   "Iya dong!!"

   Mereka sering menjadikan rumah Faira tempat berkumpul karena selain rumah ini sepi, Faira juga sering sendirian ditinggal papa sama mamanya bekerja. Ya, mamanya Faira adalah wanita karir.
.
.
.

Kalian pernah nggak sih ngumpul juga sama bestie kalian?

Gimana perasaannya seru nggak? Terus apa yang kalian bicarain?

Apa random seperti Naya, Feila, Bening, dan Faira? Mulai dari gebetan sampai makhluk tak kasat?!

Salam sehangat mentari pagi⛅

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang