37. Calon Istri🍂

784 65 3
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Persengkongkolan terbesar adalah ngerjain calon istri bersama calon kakak ipar.

-&-

   "Dok, temen saya nggak papa, 'kan? Dia akan bangun dan pulih, 'kan? Semua baik-baik aja, 'kan?" Cemas Naya langsung menyerbu pria berjas putih itu dengan banyak pertanyaan. Dokter itu menggeleng, "M—maksud Dokter apa? Beritahu yang jelas."

   "Sabar, Naya astaga kasih Dokter waktu buat napas!" seru Dika membuat Naya berdecak kesal, bisa-bisanya saat seperti ini kakaknya masih bercanda. Emang sejak kapan dokter itu nggak napas?!

   "Gini ... keadaan pasien berangsur-angsur membaik, tapi saya ingatkan ...."

   "Apa? Kenapa?" Dika terkekeh pelan melihat reaksi gadis ini memang tidak bisa santai. "Jangan beri harapan palsu kepadanya."

   Naya cengo ucapan dokter itu belum ia cerna, tapi seulas senyum terukir di wajah pria dengan name tag David Anggara.

   "Terima kasih, Dok."

   Setelah dokter pergi, barulah Dika mengajak Naya untuk masuk kembali. Namun, Lian masih belum membuka mata.

   "Dokter tadi bucin nggak profesional banget," gerutunya masih belum mengerti. "Kak, katanya Lian nggak papa kok dia belum bangun?!"

    Naya melihat ke arah Lian sekilas kemudian melihat Dika yang menahan tawa, Dika memukul bahu Lian sedikit keras. "Kak Dika."

   Dugaannya salah, dia kira Lian akan kesakitan justru dia tertawa dan membuka matanya.

   Otak Naya masih mencerna semuanya, tapi melihat keakraban Dika dan Lian pun Naya jadi mengerti semuanya. "Ini pasti kerjaan kalian, 'kan!" kesalnya menyilangkan tangan di depan dada.

   "Kak Dika noh," jawabnya melepas tabung oksigen, agar bisa berbicara dengan mudah. "Eh, kok lo lepas."

   "Gue sudah sadar, Naya sejak pagi. Tadi juga udah ke tempat tante ... Tina juga terus kenalan sama Kak Dika," jawabnya meletakkan alat itu di meja. "Kok nggak ada yang ngasih tahu gue?!"

   "Sengaja ngerjain lo, hahaha." Meski wajahnya masih sedikit pucat, tapi Lian terlihat lebih baik dari pada kemarin. "Anjir, untung gue nggak nangis beneran!!"

   "Persengkongkolan terbesar adalah ngerjain calon istri bersama calon kakak ipar." Lian masih tertawa sedangkan Naya melotot tidak terima. "Calon istri-calon istri nggak bisa nafkahi aja belagu."

   "Siapa bilang? Nafkah lahir batin gue bisa," ujar Lian menaikkan salah satu alisnya seraya mengedipkan mata.

   "Nggak waras lo, ya."

   "Lo aktingnya bagus banget! Bisalah jadi aktor," sanjungnya bersenda gurau seakan mereka sudah kenal lama. "Makasih, Kak."

   "Makasih buat apa?!"

   "Makasih karena dengan prank tadi gue tahu perasaan Naya ke gue," jawabnya tersenyum tulus. Namun, hal ini membuat hati gadis itu semakin resah. "Nah, itu, tapi jangan lo pacarin kalau bisa langsung nikahin."

   "Siap, Kak."

   "Siap-siap, siap ngapain emang?!"

   "Siap malam pertama," sahut Dika membuat Naya greget pikiran kakaknya emang rada-rada.

   "Dahlah, kalian resek!" Naya memutuskan untuk keluar ruangan, meninggalkan Dika sendiri. "Kak dia ninggalin elo."

   "Nggak dia nungguin di depan, ya udah gue balik duluan, ya." Lian mengangguk melihat Dika yang mendorong kursi rodanya sendiri.

   Sebenarnya Lian tidak sendiri, tadi setelah rombongan OSIS pulang masih ada Belva dan Bian. Namun, mereka pulang duluan sedangkan adiknya masih BIMBEL. Jangan tanya kenapa papanya tidak datang menemani karena mengherankan jika seorang Adrian memperhatikan buah hatinya.

   Lian mengambil dompet di laci dekat ranjang, dia memandang foto gadis dengan balutan kerudung menghadap belakang.

   "Dunia itu sempit, ya ternyata orang yang gue cari selama ini ada di deket lo, seorang cewek yang gue kagumi karena sehelai kain di kepala," ujar Lian mendudukkan diri, masih tidak mengalihkan perhatian dari foto itu.

   Kata orang Lian itu suka sama Belva, karena ke mana-mana selalu berdua. Padahal Lian telanjur mengangumi gadis sederhana dengan senyum mungilnya, gadis yang ia cap sebagai perempuan serba bisa.

   Sudah lama Lian memendam perasaan ini, sejak pertemuan pertamanya dengan gadis itu saat itulah Lian langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

   "Sekarang lo emang jauh. Sejauh isya dan subuh, tapi nanti jika Tuhan berkehendak kita akan sedekat magrib dan isya," celoteh Lian kemudian mengembalikan foto itu ke dalam dompetnya. Sering sekali ketika dia cemas, khawatir, takut, dan bahagia dia berbicara dengan potongan kertas kecil itu.

   ****

   Belva menghampiri cowok itu, dia memapah Lian untuk ke mobil karena hari ini Lian akan pulang. Tidak ada penolakan darinya.

   Di rumah Lian, 12 Bima sena mengadakan penyambutan kecil-kecilan untuk merayakan kepulangan Lian.

   Mereka mendekorasi ruang tamu dengan balon dan beberapa pita yang biasanya dibuat ulang tahun.

   "Kak Jen, ini!" ujar Naya memberikan balon huruf kepada Zayn.

   Setelahnya Naya melihat Feila yang masih ribet sendiri agar tidak dikejar atau didekati Gemoi, kucing peliharaan Lian.

   "Etdah, gue lupa lo takut, 'kan?" Naya langsung menggendong kucing itu bukannya mengajak keluar agar tidak mengganggu mereka menyiapkan dekorasi Naya malah jail mendekatkan Gemoi kepada Feila.

   "Naya! Lo mah."

  Ternyata tidak hanya Feila, Resha pun takut dengan hali itu bahkan dia sampai naik ke atas kursi.

   "Please, Nay. Don't touch me!!"

   "Astaga, Naya! Lo mah jail parah!!"

   Naya tertawa keras, kemudian mengalah untuk membawa Gemoi keluar. "Kenapa, ya mereka geli sama lo padahal lo mah gemesin."

   Gadis itu gemes banget pada kucing Lian, jika boleh dia ingin mengadopsinya. Tidak lama Naya melihat mobil Lian dari kejauhan, dengan cepat dia memberi kode ke teman-temannya tidak lupa dia masih membawa Gemoi ke mana pun.

   Saat membuka pintu ....

   "Welcome back ketua 12 bima sena."

   Tangan Lian yang berada di bahu Belva pun sontak turun. "Makasih kalian semua ...."

   "Sama-sama, Yan. Udah jangan kebanyakan mikir kata-kata masuklah."

   "Eh, Jen. Sebenarnya yang punya rumah itu siapa?" sahut Bian membuat mereka tertawa.
.
.
.
—Next—

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang