—Salam Literasi—
-&-
Jika belum bisa membahagiakan diri, setidaknya jangan menyiksa diri sendiri.
-&-
Hari ini seluruh warga SMA Dewantara kerja bakti guna persiapan wisuda dua hari yang akan datang, mereka bergotong royong mulai dari membersihkan ruang kelas, aula, dan halaman belakang.
Mereka boleh pulang setelah ruang kelas dan halaman sudah bersih, anak kelas XI Ipa 1 sudah nyantai di depan kelas sembari berbincang satu sama lain mereka menyaksikan kelas sebelah yang masih bersih-bersih.
"Woah, ada untungnya kelas kita kecil kalau bersih-bersih cepet!" seru Faira meregangkan otot. "Hiya, dong."
"Sa, Angsa ... eh, Angkasa! Lo MPK, 'kan?" tanya Bian membuat cowok yang sering tampil fashionable itu mengangguk. "Pas wisuda jadi tim aktivis!!"
"Gue?!"
"Iya, sama anak yang lain." Angkasa hanya mengangguk, selepas mendengarkan obrolan mereka Naya beranjak menuju ruang OSIS tumben Lian tidak kelihatan sama sekali pasti cowok itu sibuk dengan persiapan acara.
Benar saja saat berpas-pasan Lian membawa snail map dan berbincang dengan bu Cahya, kelihatan sibuk banget.
"Naya! Habis ini persiapan dekorasi aula lagi," kata Zayn mengingatkan, mereka satu tim yakni sie dekorasi dan dokumentasi. "Okay."
"Entar selepas anak-anak pulang, kita siapkan semuanya!" seru Naya melihat Zayn yang semakin lama, semakin hilang dalam pandangannya.
****
Seperti inilah tugas OSIS, anak lain pada pulang mereka masih harus stay dengan tugas-tugas mereka, ada yang sibuk di ruang OSIS, ruang guru, dan terakhir ada yang di aula untuk nyicil dekorasi.
"Dor!!"
"Apa sih, Yan. Lo mah ngagetin mulu!" kesal Naya seraya mengambil gorden aula, Lian mengekorinya.
"Lihat, gue baik-baik saja, 'kan?!"
"Emang lo kenapa?" tanya Naya tanpa memperhatikan Lian, dia masih fokus melipat garden. "Kan lo sendiri yang ngomong jangan ikut gini jangan ikut gitu jaga stamina, buktinya gue strong, 'kan?!"
Menyadari Naya tak menggubrisnya, laki-laki itu mengembuskan napas. "Nay ...."
Naya menyerah, lama-lama diikuti Lian juga tidak enak dengan yang lain. "Ada apa, Bapak ketua OSIS yang terhormat."
Barulah Naya melihat Lian, tapi ....
"A—aulian? Wajah lo pucet banget! Lo mending istirahat," cicit Naya kaget langsung meminta Lian agar istirahat sebentar, dia sudah yakin kebanyakan aktivitas tanpa dibarengi dengan istirahat yang cukup juga tidak baik untuk kesehatan.
"Mulai lebainya," ujar Lian menatap manik Naya. "Yan, lo beneran nggak papa?!"
Jarang bahkan hampir tidak pernah Lian menatap Naya seintens itu, dengan cepat Naya memutus kontak mata. Banyak orang di sini, takutnya mereka salah paham.
"Kayaknya lo butuh istirahat, lo belum istirahat, 'kan?" Benar saja dugaannya, Lian menggeleng. Mulai dari naik gunung, dampingi silat, dan dampingi PERSAMI dia belum istirahat sama sekali. "Yan."
"Nggak papa, Anaya."
"Kalau belum bisa membahagiakan diri, setidaknya jangan menyiksa diri sendiri."
"Nggak usah cemas terlalu berlebihan."
Terlihat kantong mata hitam, sepertinya Lian juga tidak tidur sebagaimana mestinya. Lian mengabaikan ucapan Naya, buktinya dia masih bantuin dekorasi panggung.
Saat Lian naik tangga hendak mengambil garuda, foto presiden, dan wakilnya guna dibersihkan suatu kejadian yang tidak pernah dibayangkan terjadi. Kepala Lian terasa pening dan kesadarannya pun perlahan menghilang.
Brak!!!
"LIAN!!"
Semua terlonjak kaget, melihat Lian sudah tak sadarkan diri di lantai, dia memejamkan mata.
Beberapa dewan guru pun naik menuju aula pas mendengar suara orang jatuh dan suara gaduh, mereka langsung membawa Lian ke rumah sakit.
"Huft, emang sih Lian bandel banget! Pas sebelum naik gunung dia udah ada tanda-tanda demam, udah nggak vit lha." Perkataan Zafar menarik perhatiannya. "Lian?!"
"Iya, Nay. Rada sakit tuh anak, tapi ya gitu dia sukanya maksain diri," jawab Zafar menggeleng.
Naya mengembuskan napas gusar, dia tidak bisa menemani Lian ke rumah sakit karena tugasnya belum selesai. Lian keras kepala kalau dibilangin emang, yang ia takutkan terjadi padanya, padahal dua hari lagi acara besar diadakan sepertinya Lian harus istirahat total.
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
JugendliteraturJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)