20. Temen Lintas🍂

612 70 0
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Pengen marah, tapi nggak bisa. Mau kesel malah malu sendiri.

-&-

   Naya menerima panggilan itu, dengan cepat dia mengangkatnya.

   "Hallo, Naya." Terdengar suara laki-laki di ujung sambungan telepon. "Waalaikum salam."

   "Assalamualaikum, ya ahly kubur."

   "Dihh, jiplak ucapan gue, waalaikum salam," jawabnya mencebikkan bibir.

   "Ada apa?!"

   "Nganu ...," kata Naya sedikit ragu antara mengatakannya atau tidak. "Nganu apa?!"

   "Harga jaket yang lo pinjemin ke gue berapa?" tukasnya memejamkan mata, semoga di bawah seratus ribu.

   "Kenapa?" tanya Lian.

   "Enggak ... cuman pengen tahu doang. Emang nggak boleh? Ayolah tinggal jawab aja susah," gerutu Naya membuat Lian tertawa kecil. Naya mengambil secangkir air dan meneguknya perlahan, agar mengurangi kecemasan.

   "Itu jaket pemberian, mungkin 900 ribu."

   Byurr!

   Naya menyemburkan air, merasa gila membayangkan jaket seharga 900 ribu. Uang dari mana seumpama Lian meminta ganti. Dasar Naya ceroboh.

   "Are you okay?" Lian tidak mendengarnya menyahut.

   "I—iya."

   "Emang, kenapa jaketnya?!"

   "Jaket lo digerogoti tikus jadinya sobek, tapi entar gue ganti kok." Sumpah Naya mengatakan ini setengah memegang jantungnya sendiri.

   "Kenapa diganti? Nggak usah, biarin aja biar tikusnya seneng hahahaha." Terdengar tawa renyah dari Lian, baru kali ini gadis dengan kerudung coksu itu mendengar suara tawa renyah milik Aulian Bashira Ghayda.

   "Nggak ah, nggak enak," sahutnya cukup tahu diri.

   "Gue masih punya banyak."

   "Dih, sombong sekali." Lian masih tertawa. "Aulian?!"

   "Hm."

   "Maaf, ya gue nggak sengaja ngerusakin barang lo," kata Naya menyesal, gara-gara amarah semua menjadi kacau.

   "Santai aja."

   Kemudian panggilan terputus, Naya memeriksa ponselnya. "Ahh, makanya putus baterei gue lowbat."

   Saat Naya charger ponselnya dia merasa lega, setidaknya tidak seperti yang ia bayangkan. Niatnya sih mau marah, tapi sekarang nggak bisa. Mau kesel juga malu sendiri orangnya aja sebaik itu.

   ****

   Beberapa hari ini mereka tidak bertegur sapa atau melemparkan candaan, keduanya sama-sama sibuk mengurusi tugas mereka. Naya mengurusi event memasak dan Lian yang mengurusi banyak hal, mulai dari persiapan event-event diluar sampai persiapan event pramuka di SMP lamanya.

   Semenjak Naya sibuk, Lian semakin dekat dengan Belva. Bahkan, tidak jarang keduanya keluar atau bertugas bareng. Sampai banyak yang mencocoklogikan mereka berdua. Sungguh jika jadi pasangan mungkin mereka akan cocok.

   Hingga sampailah mereka di titik lelah mereka, saat selesai merampungkan tugas. Naya ke rooftop dan di sana secara kebetulan ada seorang cowok yang menerbangkan layangan.

    "Kebiasaan lo masih sama," tuturnya duduk tak jauh dari Lian yang sedang menerbangkan layangan. "Tumben."

   "Tumben kenapa?" kesal Naya menyadari Lian mulai irit bicara bukan apa-apa, tapi kadang malah nggak jelas penyampaiannya.

   "Tumben lo ke sini?" ulang Lian sesabar mungkin, tidak semua orang langsung mengerti hanya dengan satu ucapan kita.

   "Terserah gue lha, emang ini punya kakek lo?" sinisnya membuat cowok itu mengukir senyuman. "Iya, dulu kakek gue nyumbang dana buat bangun sekolah and then kakek gue menjadi donatur terbesar."

   Gadis dengan manik coklat bening itu menganga tidak percaya, seakan hatinya terus berteriak 'benarkah?' dia akui keluarga Lian nggak main-main emang jaket aja bisa seharga 900 ribu. Okelah, buat yang sepadan mungkin harga ini terlalu kecil. Namun, di mata Naya harga itu sangat berharga nilainya.

   "Ckckckck, kalau shodaqoh itu kagak boleh diungkit-ungkit entar matinya main jungkat-jungkit," asalnya membuat cowok itu menahan tawa. "Tadi lo yang tanya, bukan? Lo habis ngurusin event makin gila!!"

   "Gimana nggak gila, LPJ belum selesai mau adain acara lagi. Puyeng pala gue, apalagi Janneh nggak paham-paham." Naya memijit pelipisnya sendiri.

   "Yahh, begitulah jadi kakak kelas. Btw, acara ini bukan PROKER lo," kata Lian langsung menarik ulur layangan yang hampir jatuh. Naya sedikit berpikir. "Acara sekolah?!"

   Lian mengangguk, membuat Naya serasa mendapatkan syurga dunia. Tidak lama ponsel Lian berbunyi, membuat cowok itu meminta Naya memegang benang layangannya.

   "Halo," katanya sedikit menjauh dari Naya.

   "Yan, setelah kejadian itu keadaan sekolah lo gimana?" tanya seseorang di ujung sana.

   "Baik, kenapa? Cuman pas besoknya kita di briefing bentaran."

   "Huft syukur deh, gue lihat Panca masih nggak terima."

   "Cowok itu perlu dikasih pelajaran, dia provokator."

   "Lo bener, tapi die temen gue."

   "Biar gue yang ngasih."

   "Jangan terlalu keras, Yan. Dia kakak kelas pasukannya banyak."

    "Culun lo! Kalau ada kesalahan, susah bedain mana temen mana musuh!?"

    "Nah, itu dia. Makanya dulu gue nggak jadi ketua hahaha," candanya merasa puas saat Lian masih mengingat tabiatnya.

   "Anjir lupain waktu itu, sekarang lo ketua OSIS."

   "Kalem bos! Gue nggak berubah 180° kayak elo."

   "Terserah."

   "Kabar cewek lo gimana? Yang lo minta gue nolongin dia?" Mulai mancing kesabaran Lian, dia menutup teleponnya. Namun, cowok itu mengirim pesan.

Xila :
|Kalau lo nggak mau buat gue aja, mayan cantik!

Anda
|Kalau beneran terjadi gue tunggu di lapangan, mau masuk liang lahat jalur rumah sakit apa jalur kilat

Xila :
|Kalem bos, kalem!

|Anak-anak ngajak ngumpul

Anda
|Ogah!

Xila :
|Sejak jadi KETOS lo berubah mas!!

Anda
|Butuh kaca?

Xila :
|Mayan kaca bekas ketua, siapa tahu gue jadi pacarnya eneng gemoi

Anda
|Jaga SMA Unggulan Semesta, jangan sampe keributan kemarin terjadi

Xila :
|Siap ketua idaman

Anda
|Najis

|Kesambet apaan dulu gue angkat lo jadi wakil

Xila :
|Kata Rian lo kesambet listrik hahaha
.
.
.
.
Cuap cuap dari Author😂

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang