49. Malam🍂

621 68 2
                                        

Salam Literasi—

-&-

Ada satu waktu di mana orang itu menyerah untuk menunggu.

-&-


Naya mengambil kertas yang sejak lama ia tempelkan di dinding kamarnya, "gue emang nepati janji nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS, 'kan gue suka sama ketuanya hahaha."

Gadis itu tertawa renyah. "Naya."

Anaya menoleh, "Iya, eh Kak Dika."

Dia menoleh sekilas kemudian kembali menata bukunya. Namun, melihat ada yang aneh Naya pun kembali menoleh.

Seorang laki-laki yang ia panggil dengan sebutan kakak berdiri di depan pintu kamar Naya, dia sudah tidak menggunakan kursi rodanya lagi.

"Kak Dika?" pekiknya girang, berlari kecil ke laki-laki itu. Dipeluknya sangat erat sebelum Dika melerai pelukan itu, "Kak Dika udah sembuh?!"

Dika mengangguk cepat membuat Naya senang bukan kepalang, akhirnya setelah melewati beberapa proses. "Doa dari kamu juga."

Di sisi lain seorang pemuda mendongak, melihat taburan bintang di langit malam. Tidak terasa udara dingin yang terus merasuk dalam tubuhnya membuat Lian terpejam beberapa saat.

"Baa ...!" Saat membuka mata, yang ia lihat pertama kali adalah gadis yang tadi sore ia temui di rooftop.

Namun wajah itu hilang beberapa saat kemudian, menyadari ada sesuatu yang aneh dalam dirinya Aulian menegakkan tubuh.

"Lo mulai gila!" serunya bermonolog sendiri, ada suatu getaran ketika melihat manik coklat perempuan itu.

Tidak mau terjebak dalam halusinasinya Lian menghubungi salah satu kontaknya.

"Ada apa, Ketua?!"

"Gimana?!"

"Raqil yang menangani ini semua, jangan khawatir dia bisa dipercaya," sahutnya santai dari nada bicaranya dia sudah sangat mempercayai.

"Baiklah, thanks. Sorry nggak bisa terjun langsung."

"No problem, gue juga enggak soalnya. Udah lo urusin organisasi lo."

"Oke."

Lian menutup sambungan, kemudian dia beralih memikirkan Belva. Sedang apa dia, apakah gadis itu terluka dengan perkataannya? Namun, sungguh jika tidak mengatakan semua itu Lian yakin Belva akan semakin berharap dan nantinya semakin kecewa.

Lian tidak mengubungi Belva, karena ia rasa Belva pun tidak akan membalasnya kali ini. Dia pun mengambil jaket dan kunci motor berniat mengunjungi rumah Belva langsung.

Matanya menyipit melihat seorang gadis yang duduk di balkon kamar, Lian melambaikan tangan, tapi gadis itu malah mengabaikannya. Dia malah masuk ke kamar kemudian menutup jendela rapat-rapat hampir dua jam dia menunggu tanpa sebuah hasil.

Ada suatu titik di mana orang yang menunggu akan menyerah, seperti kata pepatah Lian akan mundur beberapa langkah sebelum melompat dua langkah.

Aulian menancap gas di atas rata-rata, pikirannya masih stabil. Namun, tidak dengan hati yang terus bergemuruh merasa bersalah pada sahabatnya.

Akhirnya Lian bergabung bersama mereka, menyusun rencana untuk menyerang Panca. Mereka berangkat silih berganti, tidak langsung semuanya.

Lian berada di garis terdepan, kali ini dia tidak menggunakan slayer dan gelang X Y karena percuma mereka juga sudah tahu identitas Lian.

Setelah sampai di markas Panca mereka langsung menuntut balas kematian Rian, jelas Panca kelabakan tanpa persiapan. Namun, serangan yang dilancarkan di kandangnya sendiri dapat sedikit menguntungkan.

"Gue nggak akan biarin pembunuh Rian hidup tenang, lo akan mendapatkan balasan yang setimpal," tukas Lian menghajar Panca yang sudah kalang kabut.

Mereka seimbang, seperti tidak akan ada yang menang di antara mereka.

Saat Panca tersungkur di tanah, dia menggenggam pasir dan dia lemparkan ke mata Lian akibatnya pandangan cowok itu buram seketika.

"WOY SELAMATIN KETUA!" seru Raqil ketika melihat Lian sudah terkapar karena pukulan brutal dari Panca.

Sirene polisi membuyarkan mereka, tapi kali ini Lian tidak akan membiarkan mereka lolos lagi. Dengan sisa-sisa tenaganya, Lian menahan mereka.

Sudut bibirnya robek sedang di wajah Lian banyak luka memar, yang sepertinya sangat perih. Panca hampir saja menghabisinya tadi.

Polisi datang meringkus mereka semua, setelah menjelaskan di kantor polisi Lian pun pulang.

"Lo beneran nggak papa, Ketua? Mau gue anter?" tawar Raqil mengetahui ketua mereka terluka parah. Namun, cowok itu menggeleng. Merasa masih mampu mengendarai motor sendiri. "Lebai amat lo!!"

Lian pulang duluan, membiarkan mereka masih berbincang. Aulian, seorang laki-laki keras kepala yang suka memaksakan dirinya sendiri.

Kepalanya terasa pening, penglihatannya mulai kabur. Dia tidak bisa fokus sekarang.

Lian kehilangan kendali.

Ciit!!

Brak!!!

Suara rem terdengar begitu nyaring disusul dengan suara tumbukan begitu keras. Beberapa warga yang masih terjaga keluar rumah dan bergegas ke sumber suara.

Mereka melihat seorang anak muda berpakaian serba hitam menabrak pohon, entah apa yang terjadi sebelumnya, tapi beberapa warga yakin kalau dia jatuh sendiri.

Mereka membawa pemuda yang sudah tak sadarkan diri itu ke rumah salah satu warga.

"Eh, Lian?!" tanya Naya dalam hatinya sendiri, dia melihat jaket yang begitu familiar. Naya langsung keluar kamar, saat beberapa warga meninggalkan rumah.

"Ah, iya, Pak. Terima kasih lagi pula saya mengenalnya," kata Wildan kepada beberapa orang.

Naya melihat Wiwi dan kakaknya yang membersihkan dan mengobati luka Lian. "Buk, Lian kenapa?!"

"Nabrak pohon," jawab Wiwi singkat, tapi Naya tidak percaya melihat luka sebanyak itu. "Kemarin jebolin pembatas jembatan, sekarang pohon yang nggak bersalah juga ikut ditabrak. Punya dendam apa nih anak sama benda mati?!"

Wiwi yang mendengarnya itu pun mengentikan aktivitas, "Naya, orang kena musibah kok disewotin."

"Kamu bersihin lukanya, ibuk mau ke warung beli plester."

"Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja, biar nggak ngerepotin," gumamnya mendapat lirikan tajam dari ibunya. "Anaya."

"Eh, iya iya."

Naya membersihkan luka Lian hati-hati, sungguh jika boleh memuji Lian lebih tampan ketika menutup kedua matanya. Tenang dan damai, kalem aja diliatnya.

Tangan Naya bergetar hebat saat menyadari ada luka sayatan pisau yang masih baru di leher Lian, darahnya tidak begitu deras. Namun, sangat mengerikan.

Apa dia habis berantem, batin Naya bergejolak ingin tahu.

Mata Lian sayup-sayup terbuka.

Baru kali ini Naya melihat seorang laki-laki mengeluarkan air mata, meski tidak begitu deras Naya tahu sepertinya Lian tersiksa dengan lukanya.

"Ah, Lian udah bangun?" tanya Wiwi membuat Lian mengangguk tak bertenaga. "Mana yang sakit? Mau dibawa ke rumah sakit?!"

"Eh, E—nggak. Udah nggak ada yang sakit kok," ujar Lian berbohong, niat hati ingin duduk, tapi sial tenaganya benar-benar habis bahkan untuk mengedipkan mata saja rasanya berat. "Lian nginep aja dulu. Kondisi Lian belum pulih."

"Atau ke rumah gue aja," sahut Dika terdengar ramah. Naya was-was sendiri semoga Lian tidak nginep di rumahnya, bisa berabe nanti.

.
.
.

Next—

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang