—Salam Literasi—
-&-
Katanya cinta itu indah, tapi kenapa gue malah tersiksa?!
-&-
Lian masih menatap keduanya gantian, sebelum semuanya terlambat Lian menyelamatkan Belva kemudian memapahnya menjauh dari kerumunan.
"Yan, Naya ...!" teriak Feila entah Lian hanya pura-pura tidak mendengar atau memang tidak mendengar. Dia terus memperhatikan Belva.
Sedangkan Naya masih di sana, dia melihat kedua telapak tangannya yang lecet. "Naya cepet bangun ...!" teriak Feila tidak bisa menolong Naya karena dia sedikit takut menghadapi kerumunan yang mulai menggila tersebut, banyak botol minum hingga sepatu terlempar dari segala arah.
Saat melihat sepatu akan mengenai kepala Naya, seorang cowok melindunginya. Dia berjongkok dan mengorbankan punggungnya yang terkena sepatu itu.
Mata Anaya Bestari melebar, menyadari seorang cowok asing kini di sampingnya.
"Cepet lo keluar!" pinta cowok itu meminta Naya segera menyusul Feila, Naya masih tidak menyangka dipertemukan dengan keadaan seperti ini. "Ma—kasih, Kak."
"Nggak usah makasih, cepetan keluar atau lo yang akan kena imbasnya!" Dilihatnya sebuah baju dengan logo SMA Unggulan Semesta. "I—iya."
Naya berlari menyusul Feila yang menunggunya di pintu keluar, Feila melihat dari atas sampai bawah untuk memastikan sahabatnya baik-baik saja.
Mereka bergabung bersama mereka di salah satu cafe tidak jauh dari SMA Unggulan Semesta. Naya melihat Lian yang tengah mengobati Belva dengan telaten. Cowok itu menempelkan plester di tangan Belva.
"Lo nggak papa, Nay?" tanya Lian merasa khawatir, dengan cepat Naya melengos tidak memperdulikan cowok itu. Tadi dia sempat melihat Lian lebih memilih menyelamatkan sahabatnya dari pada dia, hahaha memangnya siapa dia bagi Lian.
Kedua gadis itu memilih meja terpisah dengan Lian dan Belva, mereka semeja bersama Ria dan Rian.
"Tadi ada anak SMA Unggulan Semesta yang nolongin lo, ya 'kan, Nay?" Sengaja Feila mengeraskan suaranya, tidak hanya Naya ternyata Feila juga merasa kesal juga.
"Busyet, beneran?" tanya Rian heboh seraya bertepuk tangan, musuh bebuyutan mereka ternyata masih punya hati.
"Ah, mungkin karena kasihan doang, Pel. Masak orang yang kita kenal malah mengabaikan dan orang asing malah dengan senang hati membantu. Dunia sedang mengajak kita bercanda." Naya kemudian bangkit dan mencuci tangan di wastafel cafe kemudian mereka memesan makanan.
"Tapi lo nggak papa, Nay?" Rian melihat gadis berkerudung itu duduk kembali. Naya menggeleng pelan. "Syukur deh, yang penting lo selamat," sahut Ria.
****
Sesampainya di rumah dia mengunci kamar dan menangis di sana, kenapa hatinya merasa sakit ketika Lian lebih memperhatikan yang lain. Kenapa hatinya terasa perih, ketika Lian lebih nyaman bercanda dengan yang lain. Sungguh Naya tidak ingin terjebak dalam perasaan ini. Namun, tanpa di komando pun hatinya akan merasakan hal refleks itu.
Dia meraih bantal dan menyembunyikan wajahnya, membekap mulut agar suaranya tidak terdengar sampai luar.
Tuhan, kenapa jatuh cinta sesakit ini? batin Naya bermonolog sendiri. Dia mengusap jejak air matanya, kemudian beranjak keluar kamar untuk menunaikan salat magrib sejak tadi Wildan sudah mengetuk pintunya berulang kali, mengingatkan dia pada kewajibannya.
Naya selalu curhat kepada Tuhannya, entahlah ada rasa kelegaan sendiri setelah curhat kepada Tuhan. Naya itu orangnya nggak percayaan, jadi dia tidak mudah menceritakan apa yang ia rasakan kepada orang lain.
"Ada apa, Kak?" tanya Naya melihat Dika yang sudah di ruang tamu. Tumben, biasanya Dika yang menyuruhnya ke sana. "Lo kenapa?!"
"Nggak papa," jawab Naya singkat, dia tidak berani menatap kedua bola mata lawan bicaranya jika ia sedang berbohong. "Ada yang nyakitin lo?!"
Sontak Naya mendongak seraya menggeleng cepat, "Naya nggak papa, Naya cuman perlu waktu buat sendiri. Maaf, Kak." Naya segera masuk kamar dan menguncinya kembali.
Biasanya setelah isya kedua orang tuanya kembali ke toko sembako di pasar tradisional, Naya sering membantu mereka. Namun, kadang juga keduanya melarang Naya. Mereka meminta Naya agar di rumah saja agar belajarnya tidak terganggu.
Naya rasa kakaknya sudah pulang, tidak ada suaranya di luar. Naya yang sudah mengenakan piyama tidur bewarna hitam polkadot lengan panjang itu membuka jendela. Dia melepas kerudungnya, rambut hitam bergelombang panjang tersapu halus sepoi-sepoi angin. Naya melihat bulan yang sedang menyempurnakan sinarnya.
"Bulan, lo kesepian nggak?" Naya tidak melihat adanya bintang di sekitar bulan, apakah masih tertutupi awan.
Gadis itu memanyunkan bibir ketika taburan bintang di langit angkasa mulai terlihat, tapi setelahnya dia tersenyum. "Syukur deh kalau lo punya teman."
Langkah kecilnya menuruni kursi yang ia pakai, dia segera mengunci jendela. Naya melihat jaket bewarna biru muda milik Lian, yang minggu lalu Lian meminjamkannya.
"Lian lagi Lian lagi, lo nggak bisa pergi dari hidup gue?" tanyanya menendang jaket itu hingga terjatuh dari kasurnya, Naya membiarkannya. Dia melihat tulisan yang masih menggantung di dinding kamar. "Apa gue melanggar?!"
Pikirannya semakin kacau ditambah sejumlah tugas belum ia kerjakan. "Katanya cinta itu indah, tapi kenapa gue malah tersiksa? Kenapa gue nggak rela saat lo deket sama yang lain, padahal gue bukan siapa-siapa buat lo!!"
****
Di sekolah kedua remaja itu semakin lengket, ke mana-mana selalu berdua. Ya meskipun ada Rian dan Bian yang juga bersama mereka.
"Boleh numpang duduk nggak? Kantin udah penuh nih, boleh ya cantik?!" tanya Bian memainkan alisnya, melihat cewek terjudes di sekolah, Bening. "Sama siapa?!"
Saat Bening tahu Lian dan Belva bersama mereka, Bening mengajak mereka keluar dari kantin.
"Ya elah, Ning. Lo nggak perbaksoan banget sih. Bakso gue belum habis nih," celetuk Feila belum menyadari siapa yang datang. "Lo mau duduk sama orang yang udah nyakitin sahabat lo?" bisik Faira.
Uhuk... uhuk... uhuk ....
Feila langsung mendongak, dia melihat sinis Lian dan Belva. "Kalau semeja sama mereka mah gue juga ogah!?"
"Kenapa sih, gue nggak papa kali semeja bareng mereka," tutur Naya saat sudah di luar kantin. Faira menaikkan kaca mata yang sedikit melorot. "Kita nggak terima, ya sahabat kita sakit hati mulu."
Tentu mereka tahu masalah kemarin dari Feila, mana bisa gadis itu menyimpan semuanya. "Gue yang sakit hati kenapa lo pada yang kesel dah?" Naya tertawa.
"Ya kan kita sahabat lo, nyakitin elo sama dengan nyakitin kita," jawab Bening paling tidak terima kalau sahabatnya disakiti seorang cowok. "Unch unch, sahabat."
"Iyalah, bahkan gue jadiin foto kita berempat sebagai foto sampul Facebook."
"Kenapa nggak foto profil, Ra?" pancing Naya membuat mereka terkikik. "PP gue my husband dong hahaha."
"Halunya selancar perosotan anak TK," tambah Feila. "Semulus hidung bias gue, semut aja tergelincir."
"Nay," panggil seseorang membuat mereka berempat terkejut. "Lian?!"
.
.
.
.
18 yey 🍂
Tim 13 tahun atau baru kenal?
😂😂
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Teen FictionJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)