—Salam Literasi—
-&-
Setiap orang punya kisah tersendiri, tidak perlu merasa yang paling tersakiti.
-&-
Setelah apel, mereka berangkat ke panti asuhan tujuan mereka. Selain OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) ada juga organisasi-organisasi di bawah naungan OSIS antara lain Pecinta Alam, Dewan Ambalan, dan anak ekstra. Mereka dibagi menjadi empat tim.
Sengaja dewan guru tidak ada yang ikut, sebagai latihan mereka berada di tengah-tengah masyarakat.
Kali ini 3 Yan bersama dengan Naya, Belva, dan Janneh. Naya sangat senang mengunjungi panti asuhan cahaya hati karena dia sering ke sana dan cukup dekat dengan anak-anak panti.
"Kak, sendirian?" tanya Janneh yang merasakan hembusan udara segar, mereka naik mobil pick up. Sedangkan Lian bersama Belva naik sepeda motor begitu juga dengan Riyan dan Bian.
"Sama lo, sama anak DA juga, 'kan?" ujarnya sedikit tertawa lepas, Naya bersandar di kardus berisi barang-barang yang akan disumbangkan ke panti.
"Iya sih, hahaha ... maksud Janneh sahabat kakak di tim dua," sahutnya lagi, tidak hanya berdua, ada anak DA yang juga naik mobil pick up. "Curang mereka, bisa-bisanya Feila, Bening, sama Faira satu tim sedangkan gue sendiri."
****
Sesampainya di panti mereka bergotong royong menurunkan barang, sedangkan Lian dan Bian langsung menemui kepala panti untuk meminta izin. Beberapa hari yang lalu pihak sekolah sudah memberi tahu pihak panti kalau perwakilan sekolah akan datang.
Belva mengikat rambutnya di belakang, kemudian bergabung bersama mereka untuk menurunkan barang-barang.
"Pantinya lumayan gede," sanjung Belva melihat bangunan panti berlantai dua.
"Iyalah, biar muat nampung mereka," jawab Naya mengukir sebuah senyuman. Senyuman yang sama setiap kali dia datang ke sini.
Mereka berkumpul di aula, Lian yang memberikan sambutan sebagai wakil SMA Dewantara. Kemudian giliran Bian dan Delia—perdana dewan ambalan memberikan game kecil-kecilan kepada mereka.
Anak panti sangat welcome dan bergembira dengan kedatangan mereka bahkan, tadi juga sempat membantu menurunkan barang dari mobil pick up.
"Kak Naya," sapa salah satu anak panti berjalan membungkuk saat melewati mereka. "Vir?!"
Naya menghentikan bocah laki-laki berusia tujuh tahunan itu, dia memeluknya erat seakan lama tidak bertemu. "Kak Naya, kenapa minggu kemarin nggak datang?!"
"Paman sama Bang David sibuk, Virza. Jadi, nggak bisa dateng deh, tapi nggak papa sekarang kakak udah dateng, 'kan?" Naya masih berjongkok menyetarakan tinggi dengan bocah itu.
Naya sering datang bersama Faira, Bening, Feila, pamannya Faira, dan David ke sini setiap pulang mangkal di car free day. Tidak heran jika dia terkesan akrab dengan anak panti.
"Tadi malem Virza ngompol nggak?!"
"Emang kenapa kalau aku ngompol?" tanyanya polos. "Kasihan entar nggak dapet permen dari kak Naya lagi."
"Serius? Kemarin Virza cuman ngompol dikit kok," kata Virza menyipitkan mata seraya mengangkat jari jempol dan telunjuk yang menunjukkan setengah lingkaran. "Hedeuh, sama aja." Rian menimbrung.
"Nggak sama lha, kan sedikit," katanya lagi cukup kesal saat Rian menimbrung. Naya merogoh saku kemudian memberikan permen lolipop kepada Virza. "Ingat yang pinter, ya belajarnya."
Virza mengangguk sebelum bergabung bersama teman-temannya, dia memberi tahu Naya kalau kemarin mereka kedatangan keluarga baru, bayi kembar di teras panti. "Yang tahu duluan siapa?!"
"Aku," jawabnya cepat kemudian tertawa riah seakan benar-benar gembira kedatangan keluarga baru.
Gadis dengan bibir mungil itu izin keluar aula. Ingin menemui bayi kembar yang dibilang Virza.
Sejak tadi perhatian Lian tidak teralihkan dengan sosok seorang gadis yang sering membuatnya sebal, dia mengikuti Naya keluar ruangan. Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan.
"Lha lo ngikutin gue, yak?" tuduh Naya menyipitkan mata saat keduanya sampai di depan ruangan. Lian hanya menggeleng pelan, tanpa mengucapkan kata dan Naya pun pasrah.
Bayi kembar yang menggemaskan, usianya baru beberapa bulan. Namun, kenapa orang tuanya begitu tega meninggalkan mereka di sini?!
"Mbak nitip Daun dulu, ya mau mandiin Wardah," pinta salah satu pengurus. "Namanya Daun, Mbak?!"
"Iya, Nay. Daun udah mandi kok sekarang giliran Wardah." Naya mengangguk, sejak tadi Lian berdiam diri di samping ranjang bayi entah apa yang ia pikirkan yang jelas terlihat seperti orang yang melamun.
Ternyata gue nggak sendiri, mereka pun ditinggal mamanya, batin Lian melihat bayi itu terus menerus.
"Woy, jangan ngelihat Daun terus napa! Gue takut Daun sawan," kata Naya membuyarkan lamunan Lian. Cowok itu mengedarkan pandangan. "Lo mau ngapain ke sini?!"
Lian kembali menggeleng, memang dia tidak niat ngapa-ngapain. "Lo mau gendong Daun nggak?" tanya Naya yang sejak tadi menimang Daun.
"Gue?!"
"Nggak kebo di belakang rumah gue noh, ya elo lha!" kesal Naya kemudian memberikan Daun ke gendongan Lian. "Hati-hati tulangnya masih rawan."
"Kaku banget jadi orang, ajakin main kek," cerewet Naya membenarkan posisi Daun di dekapan Lian. "Main?" Naya kembali mengangguk.
"Sepakbola, futsal?!"
"Nggak gitu juga Aulian ish, Daun aja belum bisa berdiri mau lo ajak main sepakbola," balasnya menarik napas panjang kemudian mengembuskannya pelan. "Kayak ciluk baa atau apa kek."
"Masalahnya apa kek, itu apa?!"
"Entahlah gue nyerah, tapi kok dia anteng, ya di gendongan lo?!"
"Mungkin karena gue ganteng," ujarnya tersenyum tipis. "Muka kayak aspal jalan raya aja pede."
"Hah?!"
"Enggak jadi," timpalnya kemudian menyanyikan lagu kasih ibu kepada Daun. Siapa yang dinyanyikan siapa juga yang kesenangan.
Tidak lama Daun menangis, melihat hal itu Lian panik sendiri. "Nay, Nay. Ini gimana?!"
"Tangani sendiri," omel Naya duduk di bawah, melihat Lian yang kewalahan rasanya sangat asyik. "Anaya?!"
"Iya, sini sama kak Naya dulu," kata Naya mengambil alih, Naya terus menimang Daun mengajaknya keluar masuk ruangan. Tidak lama Daun tenang kembali.
"Gue kembali dulu," ujar Lian membuat Naya mengangguk. "Cepet gede Wardi!" pamit Lian pada Daun, dia mencium kening Daun atas permintaan Naya.
"Namanya Daun!" Lian hanya mengangguk sekilas.
"Daun, meskipun kak Lian kaku dan nyebelin, tapi gue yakin dia itu baik banget sebenarnya," ujarnya bermonolog sendiri.
****
Saat mereka berpamitan, salah satu anggota mereka entah di mana keberadaannya. "Lian ke mana woy?!"
"Tadi gue lihat dia keluar," sahut Delia yang sudah menaiki mobil pick up.
"Ya udah lo pada balik dulu, kita nyari Lian," pinta Bian membuat mereka mengangguk, awalnya dia meminta Naya untuk mengendarai motor scoppy-nya. Namun, dia menolak dan memilih naik motor trail milik Lian. Kuncinya tadi dititipkan kepada Belva. "Lo bisa, Nay?!"
"Bisa, mumpung gue lagi celanaan juga." Naya memakai sarung tangan dan helm di motornya. "Terserah lo, intinya hati-hati."
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Genç KurguJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)