—Salam Literasi—
-&-
Wajar jika manusia mengalami perubahan, meski perubahan itu menyakitkan.
-&-
"Gue udah jelasin, gue bukan lagi X-way," ujar Lian saat bertemu dengan Xila di salah satu warung tongkrongan mereka dulu, saat Lian masih menjabat sebagai ketua geng motor.
"Kehadiran lo paling misterius, Ketua." Xila menyeruput kopi hitam yang ia pesan.
Sejenak keduanya bernostalgia akan masa itu, di mana Lian sangat galak sebagai ketua. Bahkan, ibaratnya senggol dikit langsung bacok. Jika ada yang berbuat salah dia tidak pernah memandang bulu, Lian akan memperlakukan sama baik itu teman atau musuh.
"Di sekolah lo siapa yang tahu kalau lo adalah X-way seorang ketua geng motor yang disegani pada zamannya hahaha," canda Xila terkekeh pelan, dia melepas jas dan menyampirkannya di pundak.
"Cuman Bian sama Rian," tuturnya singkat, seakan tidak mau mengungkit masa lalunya ini.
"Anjay, enak, ya lo! Lha di sekolah gue semua udah tau kalau KETOS mereka mantan geng motor," sahut Xila lagi, mumpung warung lagi sepi jadi mereka bisa leluasa untuk mengobrol. "Organisasi nggak pandang latar belakang, siapa yang mau berubah, dan menghidupkannya it's okay itu malah lebih bagus daripada sok culun, tapi ujungnya malah bikin organisasi mati."
"Iya, sih."
"Lo juga banyak berubah, good job buat masa kepemimpinan lo," tuturnya menepuk salah satu bahu Xila, cowok itu hanya mengangguk.
"Jika anak-anak minta lo hidupin kembali geng motor lo mau?" Xila iseng bertanya-tanya.
"Kagak, buat apa? Semua udah berakhir saat kita membakar jaket identitas bareng-bareng." Lian menoleh keluar, memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. "Emang mereka tahu X-way?" imbuhnya tersenyum tipis.
"Huft, yang tahu nama asli ketua mereka cuman gue sama Rian."
Selama memimpin geng motor, Lian sama sekali tidak menunjukkan identitas aslinya. Dia jarang hadir di tongkrongan. Sekalinya hadir, pasti pakai slayer yang menutupi sebagian wajah dan jaket hitam. Bahkan, anggota mereka tidak pernah tahu seluk beluk ketua mereka. Kalaupun mencari tahu malah kesulitan sendiri, Lian sangat pandai menyembunyikan identitasnya.
"Gue cabut dulu," ujar Lian memakai jaket dan salaman ala lelaki dengan Xila. Siapa sangka kedua SMA yang terkenal tidak pernah akrab, ternyata kedua ketua OSIS mereka sangat bersahabat baik. Bahkan, karena merekalah selama ini tidak ada tawuran atau perseteruan yang besar di antara keduanya. Ya, mungkin turnamen basket kemarin mereka kecolongan.
"X-way si misterius yang terlalu serius," gumam Xila kemudian ikut meninggalkan warung. "Woy, bazar dulu napa!" seru pemilik warung menyadari Xila juga berniat keluar.
"Sama punya temennya seekalian bayarin."
"Iya, Bang."
"Kampret tuh bocah!" celetuknya menggelengkan kepala, pasti Lian sengaja melakukan hal ini mengingat dia mempunyai utang kepada Lian.
*****
"Dari mana lo?" tanya Bian mencomot camilan di mejanya, melihat Lian yang baru saja datang. Cowok itu menghempaskan tubuh di sofa empuk milik Bian.
"Dari warung!?"
Uhuk... uhuk... uhuk ....
Mendengar jawaban Lian, Bian sampai tersedak. Dia meneguk air hingga habis. "Ngapain lo ke sana lagi?!"
Lian masih memejamkan mata, mengabaikan ucapan sahabatnya. Dia lelah, dia hanya perlu istirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia.
"Bocah emang, ditanya malah ditinggal tidur. Woy, lo udah sholat asar belom?" teriak Bian melempar bantal yang ada di pangkuannya. Sontak Lian menyingkirkan bantal dari wajahnya, "bentar lima menit lagi."
"Gini nih contoh manusia yang akan azab," asalnya berdecak kesal, dengan cepat Lian bangkit, melepas dasi, dan melemparkannya ke sembarang arah seraya melenggang ke kamar mandi.
Bian mendengus sebal, kadang Lian sangat bijak, tapi kadang pula sangat bandel. Lian sulit ditebak.
Setelah salat asar, cowok itu membereskan barang-barangnya kemudian pamitan ke emaknya Bian—untuk pulang.
"Tumben lo pulang sore?!"
Lian hanya mengedikan bahu, "punya mulut fungsinya buat ngomong."
"Bukan buat ghibah," sindir Lian, ya meskipun Bian laki-laki, tapi jangan ditanya kalau lagi ngerumpi, udah nomor satu.
*****
Lian menaikkan alis ketika melihat Farez berada di kamarnya, apalagi saat cowok itu membuka buku-buku panduan salat.
Dia tidak menegur, selama Farez masih tidak merepotkannya itu sama sekali nggak masalah.
"Bang, lo dapet buku kek ginian dari mana?" tanya Farez menyadari kakaknya datang. Lian masih diam. "Woy, Bang. Gue bukan setan lo masih bisa lihat gue, 'kan? Masih bisa denger gue, 'kan?!"
"Beli."
"Nggak nyangka gue lo tertarik sama kek beginian." Farez meletakkan buku-bukunya lagi. "Kenapa?!"
"Gue pikir lo sering pulang malem, pakaian lo udah kayak preman pasar, dan jarang di rumah gue pikir lo nggak pernah peduli sama yang kek beginian."
"Jangan melihat luarnya doang," katanya mengambil handuk dan pakaian ganti. "Kalau lo mau ambil aja."
"Kok lo bisa ...." Belum merampungkan ucapan, Lian sudah memotongnya.
"Gue belajar sama guru agama di sekolah dan ... orang tua Bian."
"Pantes, orang papa nggak pernah ngajarin kita," jawabnya dibenarkan oleh Lian. "Jangan mengharapkan apapun dari papa atau lo akan kecewa."
Lian berlalu pergi, meninggalkan kamar membuat Farez tercenung. Pasti abangnya punya alasan di balik semua ini, dia baru tahu sedikit tentang kakaknya.
"Bang, lo besok longgar nggak? Ada undangan rapat di sekolah gue ...!" teriak Farez. "Gue usahain."
Selama ini yang mengurus keperluan mereka berdua adalah Lian. Mereka masih tinggal sama Adrian, tapi semuanya seakan sama saja. Adrian tidak pernah memperdulikan anaknya.
Tidak sengaja Farez melihat sebuah foto perempuan di kolong meja. Sepertinya Lian memotretnya diam-diam. "Bang, ini siapa?!"
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Fiksi RemajaJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)