—Salam Literasi—
-&-
Satu tambah tujuh itu delapan
Delapan tambah satu itu sembilan
Jika manusia tidak suka dibandingkan
Lantas, kenapa masih hobi membandingkan
-&-
Matahari telah tenggelam di ufuk barat, membawa angin yang berembus dingin. Menusuk rongga dada Aulian Bashira Ghayda. Seorang laki-laki dengan jaket tengkorak berdiri di teras rumah, merasakan sebuah hawa dingin malam.
Lian mengecek ponsel sebentar, sebelum menancap gas ke rumah temannya. Terlalu lama di rumah tidak baik untuk dirinya, apalagi habis ini pria itu mau pulang. Seorang pria yang menjadi alasan utama Lian tidak betah di rumah, dia adalah Adi Reza——ayah Lian.
Di rumah Bian, dia langsung merebahkan diri di sofa ruang tamu. Sedangkan, Bian duduk di bawah seraya memeriksa laptop.
"Eh, Yan. Seumpama PROKER nggak sesuai jadwal atau gagal itu ditulis tidak terlaksana doang apa disertai alasan? Gue lupa nih, mana adik kelas nanya," gerutu Bian melihat sahabatnya sekilas, cowok berkulit sawo matang itu mengangguk.
"Disertai alasan." Lian memainkan ponsel miliknya, matanya mencari keberadaan Rian, tumben biasanya cowok itu selalu di sini. "Rian ke mana? Balapan lagi?!"
"Anjay kagaklah, ya kali cowok itu balapan sekarang ... kurang malem ini mah buat balapan. Noh!" Bian menunjuk Rian yang berada di ruang makan, cowok itu terlihat sibuk dengan selembar kertas di hadapannya.
Lian mengamati Rian, wajahnya tertekuk. Lian menyimpulkan dia sedang resah. "Kenapa lagi tuh bocah?!"
Bian terkekeh pelan, langkah Rian gontai menuju tempat sahabatnya lagi. Dia menyerahkan lampiran itu pasrah. "Gila masak gue dikirimin surat kek begitu."
Untukmu seseorang yang humoris, seorang laki-laki penyimpan sejuta tangis. Kepada engkau pemilik senyuman merekah, aku mohon jangan lepaskan senyuman itu karena dengan itu aku bisa melihat duniamu yang penuh warna. Katakanlah aku egois. Namun, satu hal yang pasti aku tidak bisa melihatmu jatuh terlalu dalam hingga lupa caranya berdiri menatap awan.
—Secret Admirer
Lian dan Bian menahan gelak tawa, ternyata seorang Riansyah Raharjo siswa petakilan pun memiliki secret admirer atau pengagum rahasia.
"Kira-kira siapa, woy? Ckckck, malah ketawa! Bisa-bisanya dia tahu kalau di rumah gue sering dibanding-bandingkan sama sodara gue," ceplos Rian ingin tahu, nyali cewek ini beneran gede.
"Lo temuin surat ini di mana?" tanya Lian mengembalikan surat itu, kertas berwarna pink bergambar hello kitty. Sungguh, melihatnya saja membuat dia tertawa. Ada-ada saja tuh bocah.
"Di tas gue," jawab Rian cepat.
"Mungkin kagak kalo itu Ria?" Rian menggeleng, cukup tahu kebiasaan cewek itu. Mana mungkin dia mengirim surat begitu manis seperti ini, saat Rian mendekatinya saja dia seakan menghindar.
"Atau Belva?" tebak Bian lagi, kali ini mendapat lirikan tajam dari Lian. "Nggak mungkin, Biang kerok!!"
"Duhh, sinis amat lirikannya, Pak." Bian menggoda Lian, cowok itu terlihat sedikit kesal.
Lian mengabaikan Bian, percuma saja ngomong sama anak ini. "Lo dapet surat kayak gini baru pertama atau sudah beberapa kali?" Lian berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Baru kali ini, sumpah gue pengen tahu orangnya! Apa mungkin Naya, ya 'kan dia sering tuh gue kasih leci jawa," tebak Rian membuat Lian menggeleng, "gue rasa enggak, Naya nggak akan ngirim surat kayak gitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Teen FictionJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)