48. Suprise🍂

667 67 8
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Bukan rasa yang salah, hanya saja penyampaian yang tidak dibenarkan.

-&-

Dengan riang Belva menyiapkan kejutan untuk Lian entah apa yang gadis itu pikirkan, seolah menjadikan kebahagiaan Lian di atas kebahagiaannya sendiri. Dia mendekor ruang kelas sederhana, tapi penuh makna.

Bian membantu Belva menyiapkan semua ini, dia menata bangku dan membuat art papan tulis bertuliskan nama Belva dan Lian.

Sungguh jika tidak mengingat mereka masih sahabatan, tentu saja Bian tidak mau melakukan hal ini bagaimana bisa membantu seseorang yang kita sukai menyiapkan suprise kepada sahabatnya sendiri.

Belva memasang balon merah putih di pojok ruangan serta lilin yang membentuk bentuk hati yang ia letakkan di nampan.

"Lo ngapain nyiapin ini semua buat Lian?" tanya Bian setengah hati, menelan kenyataan pahit bahwa Belva mencintai Lian.

Belva tersenyum hangat kemudian menceritakan bagaimana awal mulanya dan pas mengungkapkan perasaan kepada Lian sungguh pipi gadis itu bersemu merah sedang hatinya tergelitik geli, sebuah kejadian yang mungkin tidak ia lupakan seumur hidup.

Jari-jemari lentik Belva terus menari di atas kertas putih, dia menulis beberapa bait puisi yang nantinya akan melengkapi hati. "Makasih, ya Bian lo emang sahabat terbaik gue."

Jika saja Bian berani bicara, sudah lama ia katakan bahwa dia sangat mencintai Belva hanya saja dia berpikir sahabatnya juga mencintai Belva.

Sekolah sudah sepi, hanya beberapa anak yang masih di sini itu pun anak OSIS sendiri. Setelah selesai Belva meminta Bian untuk mengajak Lian ke sini.

Dengan senyuman merakah seperti bunga, Belva menutup pintu perlahan kemudian menunggu di depan nampan berisi lilin berbentuk hati yang mengelilingi nama Aulian dan Bellova. Dia juga sudah menutup gorden kelas, menjadikan kelas ini gelap. Hanya ada cahaya temaram yang berasal dari lilin.

"Jangan tinggalin gue sendiri!" seru Naya mengikuti langkah Lian, sebenarnya tadi Lian membantu Naya memperbaiki etalase koperasi yang sedikit seret. Tadi masih ada teh Aya, Setya, Zayn, dan Janneh, tapi mereka pulang duluan dengan alasan masing-masing. Daripada menunggu bersama Bian, lebih baik Anaya ikut Lian yang katanya dipanggil Belva di ruang kelas.

"Makasih, Nay."

"Buat apa?!"

"Setidaknya lo udah buat gue merasakan punya keluarga," cetus Lian berhenti di depan pintu kelas yang tertutup rapat begitu juga dengan Naya.

"Kok sepi?" tanya Lian mengerutkan kening begitu juga dengan Naya, "jangan-jangan Belva pingsan lagi di dalem?!"

"Kalau dia pingsan udah ditolongin sama Bian," jawab Lian menyegarkan pikiran. Langkahnya terhenti, seakan napas di tubuhnya pun ikut berhenti mendapati ruangan gelap dan seorang gadis yang membawa buket bunga mawar di sana.

Belva tersenyum hangat melihat Lian yang masih mengedarkan pandangan tak percaya, sebenarnya apa yang terjadi. Selepas Lian masuk Belva menyalakan lampu ruangan.

Namun, senyuman itu luntur ketika melihat seorang perempuan yang menyembul dari balik tubuh Lian. Perempuan itu tak kalah kagetnya dengan Lian.

"Naya!" terka Belva menganga, buket yang ia bawa jatuh seketika. Lian melihat tulisan namanya yang dihias cantik hampir di seluruh penjuru ruangan. "Kenapa Naya ikut?" protesnya.

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang