—Salam Literasi—
-&-
"Kita sudah terbiasa bersama, tapi jika salah satu dari kita pergi. Mungkin itu akan melukai hati."
-&-
Seorang cowok mengendarai motor trail meningkatkan kecepatan motornya seraya berwajah khawatir, ada sesuatu hal yang meresahkan hatinya.
Hawa dingin malam menembus rongga dada, membuat Lian hanya berdecih pelan. Sungguh, jika tubuhnya adalah orang dia akan terus menggerutu kesal. Lian baru saja pulang dari rapat pecinta sekolah, lalu kini dia sudah berangkat lagi.
Sesampainya di base camp, tempat di mana dia menjadi ketua geng motor dulu. Lian melihat wajah mereka satu-satu kemudian terlintas rasa tidak enak kepada mereka.
Dia yang memulai, tapi dia juga yang mengakhiri. Lian tahu geng ini pelarian dari mereka yang tak pernah mendapat kasih sayang yang cukup dari keluarga atau bahkan hanya dianggap sampah keluarga. Di sinilah mereka memperoleh kebahagiaan yang hampir saja terenggut oleh orang tuanya sendiri.
"Kita akan nyerbu base camp Panca?" tanya Xila yang duduk di atas peti.
Beberapa hari dia sudah menyelidiki kasus Rian, kenapa sahabatnya berubah dan apa alasannya. Ternyata alasannya cukup simple dia hanya ingin melindungi kekasih hati dan kakeknya padahal dia tahu risiko dari itu semua adalah dibenci.
"Bang, Bang Rian udah di DO dari sekolah?" tanya seorang cowok berjambul, dengan tindik di telinga. "Nggak, dia hanya dikeluarkan dari OSIS."
Di sini ada yang masih sekolah dan tidak, tapi mereka sama merasa senasib.
"Lo tau, Ketua. Ria adalah pengkhianat yang sesungguhnya. Dia yang bocorin kalau lo adalah X Y dan yang membantu Panca." Xila berdalih disaksikan sekitar 20 remaja.
"Ria? Pacarnya Rian?" ulang Lian masih belum mempercayai, selain itu Ria adalah anak OSIS yang jarang terkena masalah di sekolah.
"Iya, Bang. Dia sepupu Panca," jawab salah satu dari mereka. "Panca mendapat semua informasi SMA Dewantara dari dia."
"Bangsat, tuh cewek! Udah dikasih hati malah mengkhianati," sahut Raqil dengan wajah sangarnya. "Langsung serang aja tuh Panca."
"Jangan gegabah kita main pintar, atur strategi," kata Lian menjelaskan rencana mereka.
Benar dugaan Naya bahwa Rian hanya sebuah alat untuk menghancurkan Lian, sebenarnya Lian dan Bian sudah tahu hal ini. Namun, mereka memilih berpura-pura terjebak di permainan Panca padahal sebenarnya Lian yang memegang kendali permainan ini.
"Biarin Panca merasa menang dulu, baru kita serbu!" seru Xila tertawa jahat. Namun, Setelah mendapat lirikan tajam dari Lian dia kembali fokus. "Eh, gimana Ketua, cewek lo diem, 'kan?!"
"Anjir, cewek Ketua? Siapa?" Raqil merasa dia sudah ketinggalan banyak. Xila membisikkan sebuah nama.
"Oh, yang buat Ketua bubarin kita, 'kan?!"
"Kayaknya."
"Denger, gue nggak akan hidupkan geng kita dulu, tapi kalau ada salah satu dari kita kesulitan kita harus tolong karena kita pernah menjadi keluarga dan akan tetap seperti itu."
"Ngikut Ketua!!" Mereka bersorak, malam ini juga pertama kalinya mereka tahu siapa X Y yang sesungguhnya.
Ponsel Lian berdering pertanda ada panggilan masuk, dengan cepat Lian beranjak dan mengangkat telpon.
"Iya, kenapa?!"
"Lo lagi di rumah Rian, ya? Kok pas gue lewat sana banyak motor. Gue pengen mampir, tapi takut kalau nggak ada lo. Lian ...."
Setelah mendengar cerita Belva, Lian terpaku di tempatnya. Banyak motor? Siapa mereka? Padahal sekarang saja Lian di base camp bersama anak motor yang diikuti Rian.
"Hello, Lian where are you?!"
"Lian," ulang Belva di ujung sambungan sana.
"Iya, Bel. Kenapa?" Sontak Lian membuyarkan lamunannya. "Lo ngelamun, ya?!"
"Enggak." Bohongnya menerawang jauh, menyadari Panca bisa melakukan apapun untuk membalaskan dendam.
"Yan, papa sama mama berantem lagi gue ke rumah lo, ya please." Manjanya memanyunkan bibir. "Gue nggak di rumah, Bel. Lo ke Teh Aya oke."
"Tapi maunya sama elo, Yan."
"Besok aja, besok sepulang sekolah lo boleh main ke rumah gue." Belva mengembuskan napas kasar, sesulit inikah bertamu ke rumah sahabatnya sendiri. "Bel?!"
"Iya, Yan. Nggak papa."
"Nggak usah kek gitu gue tau lo kecewa, tapi ini udah malem Belva, nggak enak sama tetangga." Belva pun mengiyakan kemudian menutup telponnya.
Belva merasa Aulian mulai menjaga jarak dan Naya pasti ada di tengah-tengah mereka tadi saja kata temen-temennya Lian tidak jadi menggendongnya karena Anaya.
"Non, kita mau ke mana?" tanya sopir pribadi Belva. "Ke mana aja, Pak. Yang penting nggak pulang."
"Non ...," protesnya membuat Belva memijit pelipisnya. "Ke rumah Teh Aya aja, Pak."
Setidaknya masih ada Aya, teman OSIS yang peduli padanya. "Apa gue tembak aja, ya Lian kalau gue udah resmi pacaran pasti nggak ada yang berani deketin Lian."
Bahkan Belva berniat memiliki Lian, dia sudah lama bersamanya karena terbiasa benih-benih cinta itu tumbuh dengan subur. Percayalah 13 tahun bukanlah waktu yang singkat.
***
Setelah menutup telponnya, Lian mengajak mereka ke rumah Rian untuk memastikan Rian baik-baik saja. Dia takut kalau ....
"Big no! Positif thinking Lian!" gertaknya dalam hati.
Tidak tanggung-tanggung Lian langsung mendobrak pintu utama rumah Rian ketika mendengar suara senapan senjata, pikirannya tak karuan. Benar apa yang dibilang Belva tadi rumah Rian ramai, tapi sepi mencurigakan sekali.
" ... Udah gue bilang lo akan habis ketika lo nggak mau ngabisin Aulian!!"
Dengan tubuh yang babak belur dan berlumuran darah, cowok bermata sipit itu tersenyum miring meski pandangannya mulai kabur dan detik selanjutnya dia sudah tersungkur di lantai.
"Untuk terakhir kalinya gue sahabat, bukan bangsat!" Setidaknya itu adalah kata terakhir yang Rian ucapkan.
"R—Rian ...."
Mereka sudah terlambat.
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Teen FictionJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)