41. Penulusuran🍂

560 57 4
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Bukannya ikut campur, tapi lo itu belum tahu yang sebenarnya.

-&-

Hari ini mereka menyiapkan poncopotan jabatan Rian, sudah beberapa hari Rian tidak masuk sekolah.

"Yan, lo yakin?" Cowok itu mengangguk dengan mantap.

Naya menghela napas, jika sudah seperti ini apakah masih ada yang mendengarkannya. "Gimana kalau Rian dijadikan alat sama Xila buat ngancurin elo?!"

Sudah berulang kali Naya meminta agar dirinya mempertimbangkan ulang, tapi sungguh keputusan ini mereka ambil bersama bukan hanya Lian.

Sesuai kesepakatan bersama Rian akan di drop out dari OSIS, Naya boleh berpendapat lain. Namun, keputusan tetaplah keputusan dan tidak baik terus memaksakan pendapat.

"Xila? Kenapa lo nyangkutin dia?" tanya Lian mengernyit heran, dia merapikan absen ekstra pramuka beberapa bulan terakhir. "Soalnya gue pernah liat dia sama Rian ngomongin sesuatu."

"Udahlah, Nay. Jangan ikut campur! Mereka berdua sahabat gue, so gue kenal seluk beluknya mereka," tukas Lian kemudian keluar ruangan OSIS dan membawa absen itu.

'Bukannya ikut campur, tapi lo itu belum tahu yang sebenarnya.' Naya hanya bisa memendam.

Beberapa anak berpakaian pramuka dengan atribut lengkap menyusul Lian, kini hanya tinggal beberapa anak.

Anaya mendengus kesal, padahal niatnya bukan seperti itu. Gadis itu melangkahkan kaki menuju kantin, untuk sekadar mengganjal perut dari rasa lapar.

Saat melewati lapangan, dia melihat Lian yang sibuk dengan tongkat dan tali-temali pramuka. Ya, kali ini mereka akan membuat pionering berukuran besar.

Sebagian anak OSIS ada yang sudah mendekor aula untuk acara bulan bahasa yang diadakan setiap bulan Februari, acaranya besok berupa perlombaan puisi, pidato 3 bahasa, dan membaca berita. Naya izin ke kantin sebentar.

Saat menyantap mie ayam, seorang cowok langsung duduk tanpa meminta izin atau permisi terlebih dulu.

"Udahlah, Nay. Jangan bicarain Rian lagi, lo suka 'kan sama Lian terus kenapa lo nggak dukung keputusannya?" Bian mengambil air mineral, kemudian meneguknya hingga tak bersisa.

Dunia yang semula adem-adem aja kini terusik oleh kehadiran Bian, "gue suka sama dia, tapi bukan berarti gue bego, Yan."

"Maksud lo?!"

Naya berdecak sebelum menyelesaikan makannya. "Bukan berarti kalau gue suka, gue setuju dengan apapun yang dia lakuin."

"Gini nih simpelnya lo pilih Lian apa Rian? Udah gitu aja," sahut Bian mengalihkan pembicaraan.

"Kenapa perempuan selalu ditudung dengan pilihan. Ini bukan tentang pilihan, Yan. Ini tentang sebuah kebenaran," ujarnya kemudian menyeruput jus jeruk yang tadi dia pesan.

Bian terdiam beberapa saat, "kenapa lo kekeh pengen buktiin kalau Rian nggak salah?!"

Gadis itu malah terkekeh pelan, "misal nih ada keluarga lo yang dituduh melakukan kesalahan padahal di nggak salah dan lo tahu kebenarannya, apa lo nggak pengen nyelametin dia."

"Yah, pengen lha," ceplos Bian.

"Nah, itu yang pengen gue lakuin sekarang. Bukannya kita keluarga, ya? Oke, sekarang gue belum punya buktinya, tapi gue pastiin gue akan cari tahu siapa dalang di balik ini semua. Rian cuman alat buat ngancurin Lian."

Mendengar nama sahabatnya disebut, membuat cowok itu terlonjak kaget. "Lian?!"

"Iya, gue denger sendiri. Apa jangan-jangan dalangnya adalah Xila? Karena setelah Rian telponan sama orang yang mau ngancurin Lian, dia menemui Xila," jawab Naya cepat. Namun, Bian menggeleng. "Xila itu temen baiknya Lian, dia nggak mungkin nusuk dari belakang."

"Nggak ada yang bener-bener baik, Yan." Perkataan Naya disetujuinya.

Setelah cukup lama berbincang-bincang, mereka kembali untuk melanjutkan tugas yang tadi sempat mereka tinggalkan.

****

Setelah acara bulan bahasa, mereka agak pulang sorean daripada biasanya. Nah, hal ini Naya gunakan untuk menelusuri tempat tinggal Rian, tapi ternyata hasilnya nihil. Rian tidak ada di rumah.

Saat ingin pulang, Naya mendengar suara azan magrib berkumandang. Naya pun berniat mampir ke masjid dulu, mengingat waktu magrib sangat singkat.

Setelah dari masjid barulah Naya pulang. Namun, entah mengapa perasaanya nggak enak ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi. Sejak keluar dari rumah Rian sebenarnya.

Berhubung jalanan masih ramai, jadi aman-aman saja. Naya mengendarai motor dengan kecepatan sedang.

Tapi saat di jalanan yang hanya satu dua orang yang lewat ....

"Berhenti nggak lo!" ancam seseorang membuat Naya minggir, bagaimana tidak laki-laki itu membawa pisau tajam.

.
.
.
—Next—

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang