—Salam Literasi—
-&-
Manusia hanya bisa mengira-ngira, tanpa tahu kebenarannya.
-&-
Mereka mengira jadi anak OSIS itu enak, selain dekat dengan guru-guru mereka juga bisa melakukan apapun yang mereka suka tanpa larangan. Mereka tidak tahu proses masuk OSIS sangat ketat ditambah dengan tugas-tugas yang kapanpun bisa datang.
"Saya sudah pernah bilang, kalian adalah siswa-siswi pilihan, tapi saat kalian melakukan kesalahan maka hukumannya dua kali lipat dari anak biasa. Karena apa? Karena kalian langsung dididik dan dipersiapkan bapak ibu guru untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Di OSIS kalian akan belajar organisasi, kepemimpinan, kebersamaan, dan masih banyak lagi." Saat bu Cahya menyampaikan kalimat itu satu ruangan terdiam. Mereka adalah keluarga, satu salah maka yang lain harus membenarkan.
"Besok kalau Rian sekolah, segera ke kantor. Karena ini bukan hanya menyangkut masalah OSIS, tapi juga almamater sekolah. Sangat disayangkan, bukan?!" Mereka menunduk, selain foto yang menggemparkan sekolah. Rian juga masih menggunakan almamater sekolah. "Dulu saya sudah pernah katakan, di OSIS tidak memandang latar belakang. Mau itu anak nurut sampai anak bandel pun bisa masuk, asal ya itu bisa berubah jadi yang lebih baik untuk ke depannya."
"Bu, apa mungkin Rian akan di drop out?" tanya Lian was-was, jika itu terjadi maka secara otomatis Rian juga keluar OSIS.
"Tidak semudah itu, Aulian. Semua ada tahapan-tahapannya," jawab bu Cahya kemudian menggelengkan kepala. Memang benar dari tahun ke tahun pasti ada aja masalah, tapi sepertinya ini bukan masalah sepele.
"Saya akan bicara dengan Rian," tuturnya diangguki bu Cahya. "Mungkin sampai sini dulu, silakan kembali ke kelas."
Setelah bu Cahya keluar ruangan, baru mereka keluar ruangan. Kepala mereka terangkat tegak, tidak peduli dengan ocehan-ocehan yang masih telontar dari beberapa anak.
"Yan, kalau anak SMA Dewantara aja kayak gini gimana kita mau jaga mereka? Bisa ancur kalau gini terus, lo tahu SMA Unggulan Semesta pasti bakal ...." Ucapan Bian terpotong dengan gelengan Lian. "Nggak akan terjadi apa-apa, percaya sama mereka. Di dalam kita emang ada problem, tapi kalau di luar solidaritas SMA Dewantara nggak akan pernah pecah."
Lian berjalan sedikit cepat menuju kelasnya, laki-laki itu akan memikirkan masalah ini nanti.
****
Sore menjelang malam, seorang laki-laki dengan jaket hitam bergambar tengkorak menghampiri salah satu club terbesar di kota.
Laki-laki itu menggunakan gelang X Y dan slayer yang hampir menutupi wajahnya, dengan cepat dia menemukan alasan di balik masuk club ini.
Lian menggeret Rian dengan sedikit paksa, karena sejak tadi Rian berontak tidak mau memilih menegak minumannya.
"Gue harus panggil Lian atau X-way atau yang mulia ketua OSIS nih?!"
Lian berdecak kesal, dia yakin Rian belum sepenuhnya mabuk. Namun, tidak juga sepenuhnya sadar dengan apa yang ia lakukan.
"Ikut gue!" pinta Lian membuat sahabatnya tertawa keras. "Lo siapa sok ngatur gue?!"
"Lo yang siapa!" seru Lian memijit pelipisnya, untuk sekarang ngomong sama Rian tidak ada gunanya.
Tidak lama sebuah mobil berwarna hitam menghampiri mereka, dengan paksa mereka membawa Rian pergi dari tempat terlarang itu.
"Kok bisa dia masuk, padahal buat masuk ke sana harus nyodorin KTP?" tanya Bian sedari fokus menyetir. "Kayak kagak tahu Rian."
"Keren pukulan lo tadi, sampai-sampai Rian tepar," puji Bian sedikit tertawa kecil. Lian membuka slayer dan meletakkannya di tas kecil yang ia bawa. Dia merapikan rambut dengan jari jemarinya.
"Lo mau?!"
"Ckckc, kagak. Sorry bro gue masih sadar, kita bawa ke mana tuh anak?!"
"Ke rumah lo."
"Busyettt ...! Jangan woy, Bapak gue di rumah," jawabnya sedikit takut, "ke rumah gue aja."
"Om Adrian sama Farez nggak di rumah?!"
"Gampang," pungkasnya.
Keduanya tidak tahu kalau Naya di rumah Lian, dia sedang bermain-main bersama Gemoi—kucing kesayangan Lian. Dengan segera Lian dan Bian memapah Rian untuk masuk.
"Ngapain lo di sini?" tanya setelah mengantar Rian ke salah satu kamar, Naya mencebikkan bibir. "Emang kagak boleh?!"
"Gue cuman nanya, astagfirullah," selorohnya duduk di salah satu jendela.
"Dan gue cuman jawab, wleee." Naya menjulurkan lidah, tidak lama Farez keluar dan memberikan beberapa lembar uang kertas. "Makasih, Kak. Kuenya enak ... nggak nyangka tukang kurirnya elo, Kak."
"Kue buatan ibuk sih, terus gue jualin online," jawabnya dengan tersenyum. "Eh, itu Rian kenapa?" tanya Naya membuat Bian melotot.
"Urusan orang gede, Anaya."
"Heeleh, orang gede katanya! Sunat nangis aja belagu!" Naya menyeringai membuat Bian tersenyum nakal. "Eh, kok lo tahu, Kak. Lo ngintip ye pas Bang Bian sunat?!"
"Dihh, apaan coba nggak guna banget! Mending nonton tivi," jawabnya meletakkan Gemoi.
Lian keluar kamar dengan raut wajah yang sulit diartikan, "gimana bro?!"
Cowok itu menggeleng seakan mengatakan kalau Rian belum sadarkan diri seraya mengangkat Gemoi. "Lo sih terlalu kenceng!!"
"Dia terlalu lemah," jawab Lian malah mengajak main Gemoi. Naya pamit pulang, lagi pula apa yang akan ia lakukan di sini.
"Naya!?"
"Apa?!"
"Jangan beritahu siapa-siapa," kata Lian membuat Naya mengerti arah pembahasan mereka. "Baiklah, asal ada syaratnya."
"Lo perhitungan banget sama temen," sahut Bian menghela napas gusar. "Emang lo temen gue?!"
"Apa?" jawab Lian menyudahi perdebatan mereka. "Besok aja."
Lian mengangguk, menyangupi.
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Teen FictionJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)