—Salam Literasi—
-&-
Aku memang bukan siapa-siapa, tapi tetap saja hatiku resah ketika tahu kamu tak baik-baik saja.
-&-
Setelah mendengar obrolan itu, Naya langsung bersembunyi di balik tembok koperasi untuk memastikan siapa yang mengobrol.
Tidak lama benar saja, seorang laki-laki bermata sipit keluar dari tempat wudhu laki-laki. Naya membekap mulutnya sendiri, hampir saja dia berteriak menyadari siapa dia.
"Rian ...," lirihnya membelalakkan mata, matanya masih mengekor ke mana Rian pergi.
Naya tidak mempercayai hal itu, tapi mau bagaimana lagi? Dia sendiri mendengar dan melihatnya.
"S—siapa dalang di balik ini semua jika Rian hanya sebuah alat dan siapa sasarannya? Li—an?" Lidahnya serasa keluh untuk mengatakan Lian, lagi-lagi hatinya tidak tenang mencemaskan seseorang.
****
Naya menunggu jemputan di gerbang sekolah, tidak sengaja matanya menangkap dua orang laki-laki yang berbincang-bincang.
"Eh, itu bukannya Xila? Anak SMA Unggulan Semesta yang pernah nolongin gue?" gerutu Naya mecicingkan mata, Xila berbincang-bincang dengan Rian refleks otak Naya memutar kejadian beberapa menit yang lalu.
"Apa Xila yang mau ngancurin OSIS SMA Dewantara dan dia mau bikin rencana sama Rian?" Naya menggelengkan kepala, tapi melihat keakraban keduanya membuat Naya berspekulasi buruk tentang cowok dengan tinggi semampai itu.
Gadis dengan seragam putih abu-abu dengan balutan sweater rajut bernama lilac itu pun mencoba mengurangi pikiran buruknya. "Udah, Naya jangan seuzon mulu!" seru Naya mengatakan pada dirinya sendiri.
Sampai rumah pun Naya belum bisa tenang, memikirkan apa yang akan terjadi pada Lian. Dia segera menyelesaikan PR matematikanya kemudian mengambil gadget miliknya.
Dia memainkan ponsel pertanda dia bimbang, antara menghubungi seseorang atau tidak. Naya berulang kali menghidup dan mematikan ponsel, perasaan dan pikirannya sungguh bergelut saat ini.
"Apa gue telepon Lian aja, ya untuk memastikan bahwa dia baik-baik aja. Setidaknya dengan begitu gue bisa tenang," tuturnya merebahkan diri di kasur yang hanya muat satu orang tersebut.
Naya menjadikan bantal sebagai tumpuan dagu, "ah enggak ah, entar dia malah GEER lagi."
Antara pengen tahu dan gengsi, seakan dua kata itu terus menghantuinya. Naya membuka aplikasi Whatsapp dan mencoba menelponnya, karena yang ia tahu Lian tidak suka membalas pesan dia lebih suka ngomong langsung.
Berdering ....
Saat teleponnya tersambung dengan segera Naya mengatur napas mencoba bersikap seolah-olah semua baik-baik saja.
"Assalamualaikum, Lian."
Teleponnya memang tersambung, tapi sama sekali tidak ada sautan dari ujung sambungan. "Aulian?!"
Hanya terdengar deru napas yang terdengar berpacu dengan cepat, "lo nggak papa, 'kan?!"
"Ini gue, Naya ... Bian."
"Bi—an? Lian ke mana?" Hatinya semakin gelisah memikirkan laki-laki itu. "Li—Lian ...."
"Ke mana dia? Bian lo masih di situ, 'kan?!"
"I—iya. Gue masih di sini," jawabnya dengan suara berat.
"Lian ke mana, Yan? Dia nggak papa, 'kan?" Bodo amat masalah gengsi, yang ia inginkan sekarang adalah mendengar bahwa Aulian Bashira Ghayda baik-baik saja. "Bian!!"
"Lo masih denger gue, 'kan? Lian kenapa, Yan?" cercah Naya semakin tidak tenang ketika Bian hanya berdiam diri.
"Lian kecelakaan, Nay."
Deg!
Ponsel yang ia genggam jatuh, dengan cepat dia ambil kembali dan meminta Bian untuk share lock.
"Buat apa? Besok aja lo ke sini," jawabnya melarang Naya untuk pergi dari rumah malam-malam. "Lian nggak kenapa-napa, 'kan?!"
"Nggak, Naya. Lo jangan ke sini."
"Kenapa, Yan?!"
Tit .....
Sambungan terputus, Naya langsung menyabet kerudung dan meminta izin kepada kedua orang tuanya. Namun, lagi-lagi dia dikejutkan dengan penampilan Wildan yang sudah rapi, dia cukup tergesa-gesa.
"Ba—pak mau ke mana?" tanya Naya belum mengatakan niatnya. "Ke rumah sakit, Nay."
"Siapa yang sakit, Pak."
"Abangmu kecelakaan."
Untuk kedua kalinya jantung Naya seakan ingin berhenti berdetak, dua kabar duka dalam satu malam. Naya tercenung, tapi lamunan itu buyar setelah Wiwit menepuk bahunya.
"Naya? Dika nggak papa kok, cuma bu Tina yang agak parah, jadi bapakmu ke sana bantu urus-urus pak Reynaldi masih di luar kota, 'kan?" Naya mengangguk, sungguh dirinya seakan mati rasa.
Untung saja mereka mengizinkan Naya untuk ikut, setelah menemui Dika dia meminta izin ingin menjenguk temannya. "Jangan lama-lama ingat ini sudah malam."
Tubuh Naya lebih bergetar dari sebelumnya, saat melihat Lian berjuang untuk menghirup udara. Di sini hanya ada Bian, Farez, dan Belva. Ya, hanya mereka bertiga.
"Lian ....," lirihnya dengan air mata yang luruh ketika melihat Lian masih bersimbah darah. "Di mana Rian?!"
"Untuk sekarang jangan nyebut nama itu lagi, Kak." Farez memalingkan wajah. Naya menatap wajah Bian seakan meminta penjelasan.
"Dia yang bikin Lian kayak gini, Naya."
"Hah?" Naya tak mengerti, akankah ....
Belva mengembuskan napas dalam-dalam, "dia yang merusak sepeda motor, Lian. Tadi dia sendiri yang ngaku."
"Nggak, Rian hanya alat, Bel," ujar Naya menyangkal perkataan Belva. "Nggak, Nay. Udah lama dia dendam sama Lian."
"Dendam?!"
Saat Bian ingin menjawab seorang pria berjas putih keluar ruangan. "Dok, gimana keadaan temen saya?!"
"Keadaannya masih kritis, apa kalian tahu di mana mamanya? Dia terus menyebut kata 'mama' sedari tadi," jawabnya membuat semuanya tercenggang. Apakah kerinduan Lian sangat besar?!
"Mama?" ulang Farez membuat dokter itu mengangguk, kemudian berlalu pergi dengan langkah tergesa.
"Bang ... Mama ...." Farez tidak bisa menyelesaikan ucapannya, merasa bingung dengan apa yang terjadi. Bagaimana dia mencari mamanya jika potongan memori atau foto tentang mamanya saja tidak ia punya.
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Teen FictionJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)