46. Belva & Aulian🍂

605 74 2
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Jalan terbaik melihat orang tersayang bahagia adalah membiarkan senyuman itu tetap ada, meski tidak bersama kita.

-&-

Aulian hanya bergumam saat Naya memilih duduk di jok belakang, dirinya yang mengenakan jaket bergambar tengkorak merasa terabaikan apalagi Naya lebih banyak memainkan ponsel.

Udah kek sopir, batin Lian sembari menjalankan mobil berwarna hitam tersebut.

"Nay!?"

"Hm."

"Kangen Mama," ujarnya masih fokus mengemudi. Naya hanya ber-oh riah ternyata dia punya alasan sendiri ngebet pengen nganterin.

"Mampir aja nggak papa biasanya Mama di rumah kok kalau jam segini," jawabnya membuat Lian menggeleng. "Kenapa?!"

"Mama udah jadi ibunya orang lain," singkatnya membuat dahi Naya berkerut. "Emang kalau udah jadi ibu orang lain lo bukan anaknya gitu?!"

Lian mendengkus ngomong sama Naya harus benar-benar sabar, "gak gitu juga."

"Jangan terlalu over thinking, lo mampir aja ke sana siapa tahu makin lama mama ngenalin lo sebagai anaknya," saran Naya, tapi Lian hanya diam seakan mempertimbangkan dengan matang. "Gimana, jadi main ke rumah Kak Dika?!"

"Enggak, gue nggak mau terlalu berharap."

"Tapi ...."

"Jalan terbaik melihat orang tersayang bahagia adalah membiarkan senyuman itu tetap ada, meski tidak bersama kita." Sontak Naya mencebikkan bibir, tidak mengerti dengan jalan pikiran Lian. "Kesambet lo, ya berubah jadi bijak gini."

"Iya, kesambet setan di belakang rumah gue hahaha eh, entar mampir ke rumah lo aja."

"Eh, anjir jangan! Bapak lagi di rumah," serobot Naya berusaha melarang Lian, bukan apa-apa entar kalau Wildan dan Lian bertemu pasti mengobrol cukup lama. Jadinya dia nggak bebas di rumah. "Nggak papa sekalian silaturahmi."

Rasanya ingin sekali memukul cowok ini, "ckckck, udah dibilangin juga. Awas aja lo mampir!!"

Lian terkekeh mendengarnya, dia melihat raut wajah kesal Naya dari kaca depan, sungguh menggemaskan.

"Lagi pula di rumah lo ada Belva," kata Naya mencoba mencari alasan yang meyakinkan agar Lian tidak mampir ke rumahnya. "Baiklah, tapi sekalinya ke rumah lo, gue bawa rombongan."

Gadis itu membelalakkan mata, "Astaga, emang rumah gue tempat wisata pake bawa rombongan segala?!"

"Maksudnya gue pengen halalin lo," jelasnya gregetan sendiri.

"Ngehalalin? Emang lo mau makan gue, kanibal dong? Berarti selama ini gue haram gitu?!"

"Nay ...," ucapnya menghela napas. "Iya?" jawab Naya dengan cekikikan.

"Jangan tambah gemes, entar gue seriusin sekarang juga." Naya hanya menganggap perkataan Lian hanya bercanda belaka, sampai saat ini pun Naya tidak membayangkan sejauh Lian. Dia ingin mengejar pendidikannya terlebih dahulu dan itu janjinya.

Setelah mengantar Naya, cowok itu melihat Belva di ruang latihannya mungkin dia bosan menunggu sampai-sampai samsak ia jadikan mainan.

"Bel, cabut yuk!" ajaknya, tapi Belva menggeleng. "Apa gue nggak penting, Yan?!"

"Maksud lo?!"

"Gue nggak penting di hidup lo!" tandasnya menonjok samsak sekali lagi, kemudian dia melangkah mendekati jendela. Sama sekali belum menatap wajah Lian.

Lian masih terdiam, masih mencerna apa yang telah terjadi. Namun, dengan cepat air mata Belva turun menyuarakan luka.

"Mama sama Papa kemarin berantem, gue takut Aulian. Gue takut mereka pisah," ceritanya memandang gedung-gedung yang menjulang tinggi. Semilir angin menyapu halus wajah tirus dengan hidung mancung tersebut. "Gue cuman punya lo, kalau lo pergi ...."

Dengan lembut dia mencekal bahu Belva, kemudian membalikkan tubuhnya. Lian mengusap butiran kristal bening di pipi Belva, rona merah di pipi gadis itu terlihat semakin jelas.

Saat Belva menangis, pasti wajahnya berubah merah terutama hidungnya dan Lian sudah hafal dengan semua itu bagaimana tidak hampir setiap kali Belva menangis, Lian yang menghapus air mata itu.

"Kata siapa gue bakal pergi dari lo?" katanya memegang dagu Belva, gadis itu menatap Lian cemas. Dia terus menampik bahwa Lian hanya menganggapnya sahabat dan tidak lebih dari itu. "Gue takut."

"Gak usah takut, gue di sini." Sontak Belva memeluknya, dia menyembunyikan wajah di dada Aulian merasakan pelukan sehangat papanya.

Sembari membalas pelukan itu dia mengusap lembut kepala Belva, memberikan ketenangan untuknya.

"Hiilih, mesti bawa orang tuanya! Kalau udah gini Bang Lian luluh," umpat Farez mengintip di balik pintu.

Sungguh jika boleh memilih Farez lebih suka menjadikan Naya kakak iparnya, Naya itu kuat sedangkan Belva dikit-dikit nangis, setidaknya begitulah yang Farez lihat selama ini.

"Lian gue mau ngomong sesuatu," ujar Belva melerai pelukan itu. "Apa? Ngomong aja gue dengerin."

Mendengar ucapan Lian, Belva yakin kalau Lian akan membalas perasaannya, gadis itu menghapus bekas air matanya sendiri.

"G—gue ...."

"Iya?!"

"Gue sayang sama lo, Yan."

"Gue juga sayang sama lo, Bel," katanya tersenyum hangat, benar saja kali ini jantung Belva berdegup tidak karuan. Merasa senang dan gugup dalam satu waktu. Melihat ekspresi girang Belva membuat Lian mengacak gemas rambutnya. Gadis yang ia jaga selama 13 tahun kini telah beranjak dewasa dan memiliki kebahagian yang sederhana.

"Makasih Aulian Bashira Ghayda telah menjadi orang terbaik dalam hidup gue," ungkap Belva kembali memeluk laki-laki itu. "Sama-sama Bellova Syakila."

Belva terus merutuki dirinya sendiri, kenapa dia tidak mengatakan semua ini sejak dulu pasti akan membahagiakan dan dia tidak perlu cemburu kepada Naya.

Belva mengajak Lian keluar, mereka menikmati senja bersama membeli ice cream dan menonton bioskop kesukaan mereka. Hari ini akan menjadi hari yang tidak pernah ia lupakan di hidupnya, Belva tersenyum lebar.

"Lian?!"

"Kenapa? Mau minta ice cream lagi?!"

"Cuman mau bilang makasih udah ngasih kebahagiaan yang banyak banget." Lian hanya tersenyum menimpali.

****

Sebelum mengantar Belva pulang, Lian lebih dulu mengambil barang-barang Belva yang sempat ketinggalan di rumahnya.

"Apa lo senyum-senyum kek orang kesetanan?" sindir Farez tidak mengalihkan perhatian dari laptopnya. "Iri bilang, bos! Tadi gue dibeliin ice cream dan diajak nonton sama abang lo."

"Hiilih gitu aja bangga, itu mah bisa dilakuin Bang Lian ke siapa pun."

"Tapi rasanya beda." Belva mengabaikan ocehan Farez. "Yang nggak biasa itu saat bang Lian ngomong Qobiltu bukan i love you."

.
.
.

Farez julid🤥

—Next—

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang