55. Memeluk Kematian🍂

765 71 15
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Semanis pertemuan, sepahit perpisahan.

-&-


Tidak lama beberapa anak OSIS datang menjenguk Lian, selepas menyelesaikan tugasnya. "Entar malem lo tidur di sekolah, gantian!!"

Bian mendengar hal itu langsung berdecak kesal, "Iya Ka Jen iya astagaa, kalau perlu gue mandinya di sekolahan sekalian."

Zayn tertawa, "nggak ada sabun Biang kerok!!"

"Sabun cuci tangan noh, kan ada," katanya lagi.

Beberapa anak masuk ruangan dan sisanya menunggu di luar, agar tidak desakan.

Belva datang membawa sekeranjang buah-buahan, dia meletakkan di nakas dekat brankar Lian. Sejenak gadis itu memandang wanita asing yang sepertinya sangat menyayangi Lian, terlihat dari sorot mata yang tak pernah lepas dari cowok itu.

"Nay, siapa?" bisik Belva pada Naya, takut nggak enak menanyakan langsung pada orangnya. Kalau pria di samping kiri Lian dia sudah hafal kalau dia papanya Lian.

"Mamanya Lian," jawab Naya sedikit keras. Belva terperangah, Lian sudah menemukan mamanya? Kabar yang baik dengan begitu dia akan semangat untuk sembuh seperti sedia kala kembali. "Aulian?!"

"Hm," jawab Lian yang sedang menatap mamanya dalam, dia tidak membayangkan jika pada akhirnya mereka akan bertemu kembali. Sungguh, takdir Tuhan itu sangat manis. "Maaf, udah cuek sama lo."

"Jangan ada maaf dan terima kasih dalam persahabatan kita, Bel. Gue udah bilang gue sodara lo!!"

Pernyataan Lian membuat Belva tersenyum hambar, mungkin dia tidak akan bisa mengubah status mereka lebih dari kata sahabat. Ada benarnya juga perkataan Bian, dia tidak bisa selalu mengejar seseorang yang tidak mencintainya.

"Ma ... Lian hafal beberapa surat di Al-Qur'an," katanya sedikit serak. "Mama pengen denger?!"

Tina hanya mengangguk, membiarkan anaknya melantunkan ayat suci. Pelukan Tina tidak lepas dari Lian, entahlah dia sangat menyesal lima belas tahun yang lalu dia meninggalkan buah hatinya sendiri demi memuaskan ego sesaat.

Awalnya Tina juga ragu, akankah Lian masih menerimanya. Namun, Naya terus meyakinkannya. Naya mengatakan jika Lian sangat merindukan dirinya. Tidak ada secuil kebencian pun dalam hati cowok itu, dia berharap jika dia bisa memanggil dengan sebutan 'mama'.

Anaya berkaca-kaca, siapa sangka seorang Aulian bisa melantunkan ayat-ayat suci diluar kepala. Naya mengusap air matanya, menunduk haru.

Suaranya bikin hati adem, ditambah pembacaan setiap lafazh hampir sempurna. Membuat Naya terenyuh.

Cocok banget jadi suami, batin Naya seraya menyembunyikan senyuman kecil yang menggelitik hatinya.

"Shodaqallahul adzim ...." Lian tersenyum.

"Andai yang mama mendidikmu, Yan." Tina mencium ubun-ubun Lian. "Maafin Lian, Ma, Pa."

"Bel, jaga diri baik-baik."

"Nay ... gue sayang sama lo," ujarnya mengerjapkan mata beberapa kali.

"Asyhadu an laa ilaaha illallahu ...,"

"Wa asy--hadu anna muhammadar rasuulullah."

Satu tarikan napas sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

"LIAN!!"

"AULIAN!!"

"Bang ...."

Ketika kedua orang tua memeluknya, nyawa sudah terpisah dari tubuhnya.

"Innalillahi wa inna ilahi rojiun."

"Selamat jalan anak papa, maafin papa." Adrian membisikkan kata itu pelan, kemudian mengusap rambut Lian seraya mencium keningnya. Berusaha menegarkan diri.

Tangan yang semula menggenggam tangan Tina begitu erat, kini perlahan melemas hingga akhirnya genggaman itu terlepas.

Lian memejamkan mata damai, ditambah senyuman yang tidak terlepas dari wajahnya.

Tubuhnya sudah terbaring tanpa nyawa, membuat seluruh penghuni ruangan itu menangis.

"Naya ... Lian ...." Belva mengadu, dia memeluk Naya cepat. Gadis berkerudung itu kehilangan kata-kata dia masih tidak menyangka jika Lian akan pergi secepat ini. "Nggak, Lian belum pergi!!"

"Nay ...!" seru Feila memegang erat pundak Naya, menyalurkan kekuatan.

Beberapa suster berdatangan, mereka melepas alat bantu Lian. Kemudian menutup seluruh tubuh Lian dengan selembar kain bewarna putih.

Hari pertama dan terakhir kalinya Tina bertemu dengan Lian setelah sekian lama berpisah, Tina sampai pingsan mendampingi puteranya sakratul maut

Aulian jangan tinggalin gue, batin Naya terus bersuara ingin mengingkari. Namun, kejadian ini tepat di hadapannya.

Selamat jalan, Aulian kisahmu akan abadi dalam relung hati.

Selamat jalan seorang Aulian Bashira Ghayda, ketua OSIS SMA Dewantara semoga tenang di alammu.

Doa terbaik untukmu.

Seorang suster menemukan secarik kertas yang terselip di bawah bantal jenazah, "Nona, ini mungkin punya jenazah."

Naya menerima kertas itu sebelum keluar ruangan.

.
.
.
—TAMAT—

Terima kasih sudah baca kisah AULIANAYA sampai sejauh ini, ILY 3000

Kalian hebat baca cerita ini, meski tahu cerita ini gak ada visual cast-nya.

AULIAN BASHIRA GHAYDA
ANAYA BESTARI
BELLOVA SYAKILA
FABIAN FEDRIAN
RIANSYAH RAHARJO
CAHAYA BENING PERMATA
FEILA GELORA
NUFAIRA BELINDA
MAHARDIKA REYNALDI
XILA
PANCA

Kasih kesan dan pesan dong untuk story ini.

Fin me on instagram :
@amaliaa.yaa
@authoryaa.story

follow akun wattpad @Author_Yaa untuk membaca cerita lebih banyak lagi.

see you,

14 Juni 2021

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang