52. Suaranya🍂

583 66 0
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Tidak bisa memprediksi kapan dia akan bersikap manis dan kapan dia akan bersikap di luar nalar.

-&-


"Lian ngeluarin Ria, ya?" tanya Faira mereka saat lagi ngumpul di rumahnya untuk mukbang, biasalah cewek-cewek. "Iya, dia yang buat Rian kayak gitu."

Sahutan Feila membuat kedua temannya ber-oh riah. Naya jadi teringat ucapan Lian beberapa hari yang lalu, ternyata Ria adalah peneror pacarnya sendiri. Bahkan, pernah suatu kali untuk meyakinkan Rian dua melukai dirinya sendiri.

"Jadi OSIS kalian ada 22 dong?!"

"Iyalah, mau gimana lagi daripada banyak yang ngak srek, ya kan?" Mereka mengangguk kemudian melanjutkan makan.

"Parah sih tuh Ria, udah disayang malah buat nyawa melayang, ya meski nggak secara langsung sih," tambah Bening.

"Dia bantuin sepupunya, Panca."

"Lha, Nay. Kok lo tahu?" cetus Faira tercengang, Feila menepuk punggung Faira sedikit keras. "Woy! Lo lupa apa gimana, orang Naya deket sama Lian, hahaha."

"Astaga gue lupa, baik-baik dah lo sama Lian," kata Bening menimbrung disusul dengan ucapan Faira, "dijagain yang bener awas diambil orang."

"Anjir udah gue bilang gue nggak ada apa-apa sama dia," tuturnya membuat ketiga sahabat itu terkekeh. "Jangan boong nyonya Anaya Basira Ghayda."

"Heh, ganti-ganti nama orang seenaknya aja lo!" umpat Naya tidak terima, tapi dalam hati mengaminkan. Dasar cewek.

*****

Semua berjalan membaik, dia berteman baik dengan Lian meski acap kali saat berbicara dengan Lian hatinya tidak tenang.

Malam ini Naya duduk di teras rumah, kejadian beberapa bulan yang lalu seakan menjadi rekaman putih abu-abu dalam ingatannya tanpa diminta pun terputar sendiri.

"Aulian." Sebuah nama yang pernah Naya langitkan, berdoa agar dia baik-baik saja. Naya tahu Lian itu baik banyak yang mendoakannya, tapi tidaklah menutup kemungkinan jika Lian juga akan mempunyai musuh.

Naya memejamkan mata mengingat bagaimana dulu dia keras kepala ingin tidur di rumah Dika daripada serumah dengan Lian, lamunannya terbuyarkan oleh dering telepon dari ponselnya.

"Iya, waalaikum salam ya ahly kubur. Baru inget punya temen?!"

Terdengar suara tawa kecil dari sana, "assalamualaikum, temen hidup."

"Waalaikum salam, ya iyalah gue hidup, ya kali gue mati, entar jadinya temen mati dong!" ketusnya, Naya tidak bisa berbicara baik-baik dengan Lian.

"Santai-santai, gue cuman mau bilang tolong besok lo handel dulu dekorasi buat wisuda, soalnya Zafar mau muncak."

"Wait, muncak? Sama siapa?!"

"Sama anak pecinta alam sekolah," jawab Lian tersenyum kemudian tak lama terdengar suara bising kendaraan. "Lian, lo lagi di jalan?!"

"Iya, Nay. Gue beli perlengkapan buat muncak besok."

"Hah? Jangan gila! Lo itu jadwalnya padet banget astaga Lian! Lo besok muncak, pulangnya lusa ... lusa lo dampingi anak pencak silat buat lomba dua hari, terus lo dampingi anak SMP buat PERSAMI dua harian. Lha lo istirahatnya kapan, Yan? Belum lagi nyicil dekorasi dan ngurus ini itu buat kepentingan wisuda," cerocos Naya masih didengar Lian, dia tahu saat Lian meminta izin nggak bantuin dekor di tanggal-tanggal itu. Laki-laki itu memasuki salah satu minimarket. "Gue strong, Naya."

"Strang strong, nggak gitu konsepnya Lian."

"Terus gimana?" canda Lian seraya mengambil sebuah botol air mineral dan suplemen obat. "Tubuh juga perlu istirahat!!"

"Iya, entar gue istirahat buat nyiapin stamina lagi," jawab Lian sembari mengantri di kasir. "Jangan, Yan. Gue takut ...."

"Takut kenapa? Biasanya lo akan bilang gini gak usah lebai!" tukas Lian tertawa membuat beberapa orang memandanginya, memang kecanggihan tekhnologi kadang membuat orang terlihat tidak waras. "Nggak usah kepedean lo! Gue takut tubuh lo nggak kuat buat jalani aktivitas-aktivitas itu Lian. Lo juga harus tahu batasan."

Mendengarnya Lian gemas, "cie khawatir nih?!"

"Mau gue lempar sendal?" murka Naya membuat Lian tertawa kembali, selepas membayar Lian duduk di depan minimarket dulu. "Naya ...."

"Hm?!"

"Tadi gue ketemu sama kasir yang cantik banget."

"Bodo amat."

"Lo cemburu?!"

"Nggak tau."

"Besok mau dibawain oleh-oleh nggak?!"

"Terserah."

Jawaban singkat Naya memperjelas kalau dia sedang tidak baik-baik saja. "Ya udah, aku tutup telponnya duluan, ya biar kamu tenang see you ...."

"Anjay, pakai aku-kamu kek bahasa planet bumi, tapi kalau lo yang ngomong kayak kurang pas gitu. Terus kenapa nyuruh gue tenang, emang gue gentayangan?!" balas Naya kembali tertawa.

"Nah, gitu dong gue suka lo mulai nyemprot!!"

"KETOS kampret!!"

Naya tidak bisa lama-lama marah atau merajuk kepada seseorang, dia selalu ingin menyelesaikannya dengan cepat meski dia tahu egonya kadang sangat tinggi.

"Gue tutup telponnya. Gue mau berkendara."

"Hah? Berarti lo tadi telponan sama ...."

"Iya, tadi hampir aja nabrak lampu merah."

Gadis itu menggeleng, bisa-bisanya cowok ini punya dendam sama benda mati. "Makanya ati-ati."

"Iya, dong selalu."

"Eh, Yan."

"Iya?!"

"Jaga kesehatan, ya jangan sampai tumbang," kata Naya sedikit cemas. "Iya, siap laksanakan."

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam."

.
.
.
.
—Next—

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang