—Salam Literasi—
-&-
Jangan pernah mengorbankan prinsip demi sebuah cinta, atau lo sendiri yang akan kalah.
-&-
Naya berjalan sedikit pincang ke kelas di temani kedua sahabatnya, sepanjang perjalanan Naya terus meringis kesakitan. Katanya tadi kakinya akan baik-baik saja. Namun, sepertinya Lian yang salah kali ini.
"Ckckck, dia kayaknya salah deh," umpat Naya masih mengomel sepanjang jalan.
"Lo itu udah dibantuin bukannya makasih, malah masih aja ngeluh! Untung, ya motor Lian nggak papa. Coba aja ada yang rusak gimana? Kita tanggung jawab lho," serobot Feila membuat Naya manyun.
"Iya, entar gue bilang terima kasih tadi kelupaan." Pasrah Naya kemudian duduk di bangku. "Gue aja yang serahin foto kopian ini ke bu Cahya, lo di sini."
"Iya, cerewet banget lo kayak mak gue!?"
Feila menggelengkan kepala, dasar anak keras kepala emang.
****
"Lian."
Laki-laki berkulit sawo matang itu menoleh. "Iya, Nay."
"Sibuk nggak?" Lian menggeleng, dia masih mengecek beberapa berkas di hadapannya.
"Cuman mau bilang makasih tadi kelupaan," katanya mengambil kursi dan duduk di depan Lian.
Naya menoleh ke segala penjuru, hanya ada beberapa anak OSIS. Ah, iya mungkin mereka lagi sholat. Karena di sekolah ini sholat berjamaah ada dua kloter karena musholla mereka tidak cukup menampung mereka semua.
"Lo nggak sholat?!"
"Udah, tadi kloter pertama." Naya mengangguk, tumben. Biasanya anak OSIS kloter dua.
Lama melihat paras Lian akhirnya Naya tersadar, saat Lian memergokinya menatap dirinya. "Ngapain liat gue kayak gitu? Entar kalau udah halal lo bebas natep gue untuk sekarang jangan."
"Kenapa?!"
"Kita masih orang asing, Naya. Entar ada setan," ujarnya dengan nada berbisik kemudian cowok itu tertawa renyah. "Dih."
"Dibilangin juga, oh ya kalau TNI nikah, 'kan ada acara pedang pora gitu, 'kan entar kalau gue nikah juga ada bedanya pakai tongkat pramuka, hahaha."
Benar saja, jika kau mengenal Lian semakin dalam kamu akan tahu seberapa asyiknya seorang ketua OSIS ini. Beda kalau hanya sebatas tahu nama saja.
"Ngaco, lo!" seru Naya memijit pelipisnya sendiri. "Emang udah ada calonnya?!"
"Udah."
"Mana?!" tanya Naya tersenyum sumbang, nggak mungkin seorang Aulian punya pacar. Orang gebetan aja nggak ada.
"Seseorang yang lagi ngobrol sama gue sekarang."
Jleb!
Bak pisau yang menancap dalam hatinya, akankah Lian memiliki perasaan yang sama? Namun, dengan segera Naya menyingkirkan pikiran itu. Dia tidak mau terbang tinggi dengan harapan jika pada akhirnya tidak ada kepastian.
Lian menghela napas, "Kenapa diem?!"
"Nggak papa," jawabnya singkat kemudian mencari kesibukan lain, misalnya memainkan kompas di meja ketua OSIS.
"Kata mereka kalau cewek ngomong 'nggak papa' pasti ada apa-apa." Sekakmat untuk Anaya. Gadis itu semakin terdiam ketika Lian melanjutkan ucapannya.
"Nanti gue pengen lihat lo pakai baju warna putih syari sebelum akad dengan riasan natural, tapi masih cantik. Entah itu gue yang halalin atau orang lain. Apakah mungkin hari itu terjadi, Nay? Gue cuman pengen liat lo bahagia."
"Kenapa?" Naya semakin penasaran, dia memancing agar Lian mengatakan perasaanya meski Naya sudah tahu kalau Lian mencintainya dari caranya berbicara hingga bercerita, tapi mungkinkah? Naya belum bisa memastikan, dia sendiri tidak ingin terperosok ke lembah kekecewaan.
"Karena lo dan Belva adalah perempuan istimewa bagi gue," jawabnya cepat.
Bukannya senang Naya malah kesal sendiri mendengarnya, sebuah obrolan yang selalu menyangkut pautkan Bellova Syakila.
"Lo ngerjain apa?" tuturnya mengalihkan pembicaraan. "Lagi pelajari masalah Rian."
"Rian?!"
"Iya, kenapa?!"
"Dia masih jadi OSIS, 'kan?" Naya memastikan. Namun, Lian menggeleng. "Kayaknya harus di drop out, Anaya."
"Kenapa, Yan?!"
Lian tersenyum hangat, sebenarnya jika bukan karena Resha keceplosan tadi mungkin hari ini dia belum mempelajari masalah Rian. "Semua udah jelas."
"Bagaimana jika Rian hanya alat, Yan? Dia sahabat lo."
"Nah, itu berhubung gue sangat mengenal Rian dan dia bukan cowok yang gampang dipengaruhi. Dia melakukan apapun sesuai kehendaknya sendiri."
"Tapi, kalau ...."
"Nay, percaya sama gue."
"Nggak gitu, Lian. Gue tahu kalau semua ini ...."
Tidak lama beberapa anak OSIS masuk. "Jangan memperpanjang masalah, deh, Nay. Udah kita DO aja Rian."
"Tapi, Bel."
"Udah."
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Novela JuvenilJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)