—Salam Literasi—
-&-
Manusia bukan robot, manusia membutuhkan istirahat dari rasa penat. Jangan menyiksa diri dengan beraktivitas tanpa henti.
-&-
"Habis ini lo mau ke mana?" tanya Naya memasukkan beberapa pulpen di lemari kaca koperasi sekolah, dibantu Janneh dan Lian. Sedangkan yang lain melatih anak kelas yang bertugas menjadi petugas upacara mingguan.
"Kepo amat lo," balasnya melipat kardus dan menumpuknya bersama kardus bekas lain. "Bukannya kepo, gue nanya cuman mau ngingetin jangan lupa panggil tukang buat benerin mesin jahit."
"Emang mesin jahitnya rusak lagi?" Naya mengangguk, "waktunya jadi rongsokan."
"Rongsokan ... rongsokan ...! Terus anak tata busana latihan jahit pake apa? Pake mulut!" kesalnya menggelengkan kepala. Janneh hanya diam, menyimak obrolan kakak kelasnya. "Beli baru lha."
"Hedeuh, lo mau tanggung jawab kalau gue kena semprot bu Cahya. Bulan kemarin anak tata busana udah meminta dana dari sekolah buat beli peralatan," sahut Naya mengembuskan napas, sangat sulit priposal di acc pihak sekolah apalagi saat sekolah lagi krisis keuangan. Sekolah mereka bukan sekolah elit, semuanya harus serba irit.
Tak lama seorang gadis berkuncir satu belakang dengan poni yang hampir menutup semua dahinya masuk ke koperasi, dia memeguk air mineral.
Naya melakukan pekerjaan dengan kesal, kenapa setiap kali ia berkesempatan mengobrol dengan Lian gadis ini selalu datang. Kini perhatian Lian terpecah. "Kenapa, Bel?!"
"Itu anak kelas X Ips 1 susah diatur, pemimpin upacara nggak dateng. Padahal senin udah hari-H," ceritanya berdecak kesal, selain bidang pendidikan semua pengurus OSIS yang longgar juga berkewajiban membantu melatih mereka upacara. "Sabar."
"Kesel gue udah gitu paduan suaranya susah banget buat diatur kasihan teh Aya ngelatih sampai emosi, lo datangin gih siapa tahu pada nurut 'kan mereka segan sama lo," saran Belva diangguki Lian. Cowok itu beranjak berdiri.
"Yan, jangan lupa mampir ke tukangnya," kata Naya mengingatkan kembali. "Iya, entar sebelum ke padepokan gue mampir."
Saat Belva menyusul Lian, barulah Janneh berbicara. "Kak Lian mah sibuk, ya orangnya."
"Iya, senin rapat mingguan OSIS, selasa ekstra band, rabu rapat pecinta alam, kamis ngelatih upacara kalau enggak gitu ke padepokan, jum'at ekstra pramuka kadang juga malemnya ke padepokan, sabtu membina pramuka, dan minggu doang yang free itu pun kalau nggak ada tugas tambahan," ujar Naya sampai geleng-geleng kepala. Aktivitas yang sangat padat. "Kok kakak tahu?!"
"Dia pernah cerita sama kita, maksudnya sama OSIS seangkatan." Janneh ber-oh riah.
"Kapan, ya ngurusin asmara?" Naya mendelik kaget, bisa-bisanya Janneh mengatakan hal itu. "Ya, nggak taulah."
"Kak Lian punya pacar nggak, Kak?!"
"Etdah, lo ngapain nanya kek gitu emang lo suka sama Lian?" Sontak Janneh menggeleng, bagaimana mungkin dia berani menyukai kakak kelas sekaligus ketua OSIS-nya. "Tapi denger-denger dia nggak pernah pacaran, tapi deket sama itu."
"Kak Belva, 'kan, Kak?" Naya mengangguk, syukurlah Janneh mengetahui rahasia umum ini. "Mereka cocok banget, satunya KETOS satunya sekretaris. Dua-duanya sama-sama tegas. Jadi, couple idaman."
"Serah lo, Jan." Naya pasrah, padahal hatinya terus menyangkal ucapan Janneh. "Eh, iya gue pulang dulu, ya udah dijemput kayaknya. Entar jangan lupa bilangin Zafar sama Setya buat nyapu koperasi, 'kan dia masih ngelatih upacara sekarang." Janneh mengangguk.
"Tata busananya udah, Kak?!"
"Anjir, lo lupa? Tadi udah gue umumin di speaker sekolah kalau hari ini ekstra tata busana libur," jawabnya mengemasi barang-barang. "Oh, iya."
Saat berjalan menuju gerbang, dia berpas-pasan dengan Bening. Gadis bermata coklat madu dan berkulit sawo matang itu berjalan menatap lurus ke depan, mengabaikan Naya. Naya juga tidak berniat mengapa Bening.
Naya melihat Wildan yang sudah stay di depan gerbang, dia pun segera menghampiri bapaknya.
****
"Kuda-kudanya yang bener!?"
"Ali luruskan tangan."
"Kepalkan tangan, Re."
Beberapa intruksi dari Lian seraya melihat mereka dengan detail, meski keringat yang mengucur tidak membuat cowok itu berhenti memberikan komando.
"Lo istirahat dulu, Yan."
"Nggak, Bang. Nanggung," katanya pada sesama pelatih, bedanya dia adalah kakak kelas Lian. "Tubuh manusia juga butuh istirahat, gue tahu padatnya aktivitas anak OSIS. Gue nggak nyuruh lo pulang, istirahat aja di base camp."
Lagi-lagi Lian menggeleng, dia berkeliling melihat gerakan juniornya. Sesekali dia membenarkan.
"Terbuat dari apa tuh, anak! Pulang sekolah langsung ke sini."
Mereka istirahat untuk melaksanakan salat isya bagi yang menjalankan.
Dalam salat Lian merasakan kedamaian tersendiri, merasa dunianya berhenti sejenak. Tubuhnya boleh lelah, harapannya boleh patah, tapi tidak dengan asa yang terus membara dalam dada.
Setiap doa yang diperanjatkan, nama mamanya selalu terucap berharap mereka segera dipertemukan.
Selesai berdoa, Lian menemui Saka untuk sekedar berbincang bincang. Selain sesama pelatih, Saka adalah ketua OSIS sebelum periode Lian.
"Gimana, cewek lo?!"
"Baik." Lian menselonjorkan kaki, dia bahkan belum sempat pulang ke rumah.
"Dia tahu kalau lo suka sama dia?" Lian menggeleng, ya dia memilih mencintai dalam diam. "Seumpama dia tahu, gue yakin dia bangga sama lo."
"Dia perempuan yang nggak biasa, Bang. Lagi pula gue mau fokus nyari mama dan organisasi gue." Mendengar hal itu Saka tertawa, "lo mah selalu ngehindar udah kayak Laskar, anjir."
"Kalau bang Laskar, bukan menghindar lebih tepatnya menunggu saat yang tepat. Biar nggak ditolak lagi sama kak Rea."
"Serah lo, kuy lanjut ngelatih." Lian mengangguk.
.
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Ficção AdolescenteJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)