09. Drama Kolosal🍂

802 70 0
                                        

—Salam Literasi—

“Masa lalu tidak bisa dirubah, yang hanya bisa kita lakukan adalah bangkit dari keterpurukan.”
—Prasasti Hati Anak Organisasi

   Hampir keseluruhan drama kolosal menceritakan bung tomo yang identik dengan 10 Nopember.

   "Nay, peserta drama kolosal kalau dihitung sampai lima nggak naik ke panggung langsung gugur, soalnya ini juga sudah dijelaskan di TM kemarin," ujar Lian lewat handy talking. Peserta drama kolosal perkelas dan mereka dibebaskan memilih kostum sendiri, intinya se-kreatif mereka karena kostum juga bagian dari penilaian.

   "Baik." Naya menyahuti, dia menjadi MC acara kali ini bersama Janneh.

   "Far, jangan izinin anak-anak keluar. Kalau izin ke kamar mandi atau apalah batasi euhm ... dua-dua aja kalau yang pertama belum kembali jangan izinin mereka keluar, biar anak keamanan nggak terlalu ribet." Setelahnya Lian pergi, dia perlu mencari Tristan bisa-bisanya seorang ketua panitia acara menghilang di saat acara.

   Zafar yang menunggu di pintu aula itu mengangguk paham.

   "Woy, sambil masak lo awasi gerbang belakang! Jangan sampai kita kecolongan!" tukas Lian menghubungi Rian yang di dapur sekolah.

   "Etdah santai aja kali ...!" pekiknya tertahan, mana dia sedang menggoreng tempe.

   "Okay," jawab Lian singkat seraya mencari Tristan ke mana anak itu, di setiap ruangan dia mencarinya. Namun, masih belum ketemu.

   "Bel, lo tau di mana Tristan?" Belva menggeleng, perempuan dikuncir kuda itu melihat raut wajah khawatir Lian. "Sebentar, lo minum dulu jangan panik dia masih kelas sepuluh, Yan."

   Belva menyerahkan sebotol air mineral yang ia bawa tadi, Lian mengangguk kemudian meneguk air itu dengan cepat.

   "Entar biar gue bantu cari, dia harus di ruang acara, 'kan?" Lian mengangguk. Tidak sengaja mereka melihat segerombol anak laki-laki sedang menyerang adik kelas.

   "Thanks, ya, Bel. Lo udah ngertiin gu—" ujarnya tercekat, semakin mendengar suara tawa dari ruangan kelas XII.

   Mata Lian mendadak menjadi sendu, melihat kejadian pembullyan di sekolahnya. Memori otaknya terputar beberapa tahun yang lalu, saat dia juga menjadi korban pembullyan di SMP lamanya, luka itu sampai kini masih membekas, Lian tidak bisa melupakan kejadian itu yang hanya bisa ia lakukan adalah bangkit, meski tidaklah semudah yang dikatakan.

   Lian langsung mendobrak pintu ruangan, dengan cepat dia mengamankan siswa kelas X dan segera melaporkannya kepada guru. Meski ada perlawanan, tapi Lian mampu mereda. Dia hanya menangkis serangan mereka guna melindungi dirinya tanpa balik menyerang.

   "Lo nggak papa, Yan?" tanya Belva yang sejak tadi berdiri di depan pintu, cowok dengan jas berwarna hitam abu-abu itu menggeleng.

   "Awas lo!" seru salah satu dari mereka, tidak membuat Lian getar. Pembullyan tidak boleh dinegosiasi justru harus dihilangkan, karena hal ini akan mempengaruhi jiwa psikis si anak.

   "Gue salut sama lo, nggak akan membiarkan kejadian yang lo alami terjadi sama yang lain," gumam Belva mensejajarkan langkah dengan laki-laki itu, mereka masih mencari Tristan.

   "Karena gue nggak mau mereka merasakan apa yang gue alami, Bel. Thanks juga lo udah mau nemenin gue hingga di titik ini," ujarnya bersyukur memiliki teman sebaik Belva. Saat semua orang menjauh darinya Belva masih di sampingnya.

   "Gue udah bilang, gue sahabat lo." Belva tersenyum hangat melihat Lian, entah kapan dia akan jujur tentang perasaannya. Ya, Belva diam-diam meletakkan rasa pada laki-laki di sampingnya itu. Lian yang melihat sahabatnya tersenyum ikut tersenyum juga.

   "Oh, ya, Yan. Gue ke aula, ya gue lupa teh Aya di dapur," pamitnya sadar akan sesuatu, dengan cepat gadis itu berbalik arah. "Bel."

   "Iya?!"

   "Hati-hati, jangan tergesa-gesa nggak baik," kata Lian mengingatkan, Belva yang menyadari hal itu hanya bisa tersipu malu.

   Saat menemukan Tristan alasannya sama, dia tidak begitu paham dengan tugasnya. "Kalau nggak paham, lo bisa tanya gue atau Jen juga bisa, 'kan?" Lian mengembuskan napas kasar seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.

   "Maaf."

   "Ya udah, entar gue lanjutin pas evaluasi. Sekarang lo ke aula." Tristan mengangguk. "Lo harus ada di sana, lo bertanggung jawab acara ini."

   Lian menepuk bahu Tristan, laki-laki itu harus ektra sabar membimbing adik kelasnya. Adik kelas yang jauh berbeda dengan masanya.

   *****

   "Apa dulu nih, makan, sholat, atau beres-beres?" tanya Bian sudah mencicipi makanan duluan, Ria menutup termos es ketika Bian hendak mengambilnya.

   "Gimana pak Ketua?" goda Lian pada Tristan yang kebetulan mereka di dapur sekolah, Tristan menggeleng setengah malu. "Enaknya gimana, Kak?" tanyanya balik.

   Lian melihat jam, "sholat dulu bagi yang sholat, terus beres-beres terus makan terus eval gimana?!"

   Mereka menyetujuinya, sie acara selain Lian sedang merekap nilai dari dewan juri. Lian mah bebas mau ke mana saja.

   Rian memakan siomay hasil memalak adik kelasnya seraya duduk tangga di samping keran air, padahal yang lain sedang wudhu.

   "Etdah, siomay siapa yang lo colong?" Rian yang tidak terima itu melempar tusuk siomay ke Bian.

   "Gue dikasih woy," jawab Rian membela diri.

   "Tapi sambil maksa, 'kan lo!" asal Bian sudah tahu kebiasaan sahabatnya.

   Uhuk... uhuk... uhuk ....

   "Tuh, 'kan kualat lo mau sakratul maut, cepetan, Yan. Pesenin kain kafan keburu kehabisan." Bian menepuk-nepuk punggung Lian yang sedang mengambil air wudhu. "Sekata-kata lo."

   Di musholla mereka masih memperdebatkan siapa yang jadi imam karena tidak ada yang maju.

   "Cepetan elah, kasihan yang bongkar panggung nungguin." Feila bergumam.

   "Yang jadi imam ganteng," ceplos Ria, langsung Rian maju jadi imam.

   "Rian bucinnya Ria!" gerutu Bian menggeleng kepala. Namun, Rian kembali mundur ketika Lian datang, tadi dia keluar sebentar. Lian yang menjadi imam.
.
.
.
LiaNaya apa BelvAulian?

Salam hangat dari Yaya🍂

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang