—Salam Literasi—
-&-
Sekecil apapun perhatian itu akan terasa besar bagi perempuan yang menyukaimu.
-&-
"Lian?" Naya menoleh, dia sudah hafal dengan suara cowok itu. Ketiga temannya menatap Lian dengan sinis.
"Entar jangan pulang sekolah ambil sisa dana di bu Cahya," ujarnya membuat Naya mengangguk. Hanya beberapa kalimat itu sebelum Lian kembali pergi meninggalkan mereka.
"Dihh, gitu ya tugasnya OSIS!" sindir seorang kakak kelas nongkrong di depan kelas. "Ya iyalah, namanya juga babu sekolah."
"Bodo amat jadi babu sekolah yang penting masih berguna, lha situ apa? Beban sekolah? Tiga tahun sekolah di sini cuman numpang jadi beban?" celoteh Feila tersenyum miring, Naya tertawa mendengarnya. Dasar, mulut Feila tidak bisa diem memang.
"Sudahi cerocsanmu, mari halu bersamaku," sahut Faira tertawa renyah, apalagi melihat kakak kelasnya langsung terbungkam.
Berhubung waktu istirahat akan habis, mereka berempat kembali ke kelas. Naya masih memikirkan tingkah Lian, apa dia benar-benar hanya menyampaikan hal sekecil itu doang.
"Mulai sekarang, ya, Nay. Lo jauhin Lian dia tuh nggak pantes buat lo," pinta Faira bermaksud tidak ingin Naya merasa sakit hati.
"Iya, Nay. Lagian kayaknya Lian suka sama Belva ikhlasin aja entar lo bakal pasti dapet yang terbaik," sambung Feila menyetujui pendapat Faira. "Anjir bener, buat apa memperjuangkan hati yang hatinya sudah milik orang lain."
"Ah, belibet lo, Ning!" seru Feila pusing sendiri mendengarkan ucapan Bening. Naya tidak menggubris perkataan sahabatnya, dia berjalan lurus.
"Nay, lo denger kan apa yang kita omongin?" Faira memastikan karena sejak tadi Naya terlihat melamun. "ANAYA BESTARI!!"
"Iya, denger! Orang gue nggak budeg," sahutnya masuk kelas bekas lab, ya itu kelas mereka.
****
Naya berniat mengembalikan jaket Lian. Dia membayangkan nanti kalau mengembalikan jaket, dia nggak akan ngomong biarin aja Lian bertanya-tanya. Salah sendiri lebih milih nyelametin Belva.
Jika Lian tidak suka kepadanya, kenapa Naya selalu merasa Lian selalu memberi perhatian kepadanya.
"Ahh, kenapa gue malah inget Lian lagi sih! Kan niatnya mau marah sama cowok itu," dengusnya merasa sebal sendiri. Dia mencari jaket yang kemarin dia jatuhkan ke kolong kasur. "Okay, Naya santai. Lo harus lupain Lian," tukasnya menatap pantulan dirinya di cermin sebelum meraih jaket berwarna biru muda itu di kolong kasur.
Saat menjewer jaket milik Lian, seakan napasnya tersekat di tenggorokan. Naya menepuk jidatnya sendiri. Bisa-bisanya dia ceroboh dan melupakan kebiasaan tikus di rumahnya.
"Duhh, ceroboh banget gue. Mana sobeknya besar banget!" Naya memejamkan mata melihat bagian jaket yang telah digerogoti tikus.
Dia cemas sendiri, melihat robekan itu. Matanya menjadi sendu, tapi dia harus bertanggung jawab bukan?!
"Gimana kalau harganya mahal? Uang tabungan gue raib dong," katanya ingin menangisi atas kejadian ini.
Tangan mungilnya meraih benda pipih berwarna putih yang tergeletak di kasurnya, dia membuka obrolan pesan dan mengetik beberapa kata.
Ketua OSIS Galak
Anda :
|Yan
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Teen FictionJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)