🍂Ending🍂

2K 84 21
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Mereka tidak dipersatukan oleh pernikahan, tidak pula dipisahkan kematian, atau bahkan orang ketiga. Mereka dipisahkan oleh masa depan.

-&-


Hening cukup lama dalam ruangan bernuansa hijau pupus tersebut, Lian mengajak Naya keluar, dia memberikan tanggung jawab kue kepada Bian.

"Gimana, Nay?" kata Lian tanpa memandangi gadis itu, dia mengedar pandang. Melihat pengendara yang berlalu lalang.

Lagi-lagi Naya hanya terdiam seribu bahasa, memikirkan jawaban yang tepat. Sebuah jawaban yang tidak akan berdampak buruk kepada Lian.

Dia akui dia menyayangi Lian, tapi bukankah usia mereka terlalu muda untuk mengikat satu sama lain. Naya paham akan hal itu.

Wajah Lian sudah cemas tak karuan, membayangkan dua kemungkinan yang bakal terjadi. Diterima atau ditolak, dia sudah menyiapkan mental jika jawaban tidak sesuai ekspetasi dia bisa intropeksi diri. Toh, jodoh nggak akan ke mana, kalau tidak bersanding di pelaminan, ya jadi tamu undangan.

Naya masih terjebak dalam pikirannya sendiri, masih mencari kata yang paling tepat. Dia melihat pohon karsen yang meliuk-liuk indah diterpa angin dipadu dengan gambaran senja yang menakjubkan sebagai karya Tuhan.

"Yan ...," lirihnya seraya mengembuskan napas pelan, dia harus berani jika tidak mau melukai hati. Lian menoleh sekilas, kemudian pandangannya kembali dimanjakan oleh guratan cahaya jingga di ufuk barat.

Lian berdehem seakan memberi arti agar Naya melanjutkan ucapannya, dia akan menunggu sampai Anaya benar-benar siap.

Kecanggungan begitu kentara di antara keduanya, jantung mereka memacu lebih cepat dari biasanya.

"Gue harap jawaban gue nggak nyakitin lo," katanya membuat Aulian was-was sendiri, tapi masih bisa terkontrol dengan ekspresi tenangnya. "Katakan saja Naya."

"Sebelum gue nikah tanggung jawab masih ada di tangan orang tua, 'kan?" Sontak Lian mengangguk seraya tersenyum simpul. Menantikan jawaban orang yang ia sayang ternyata selama ini, sepertinya jarum jam berjalan dengan sangat lambat. "Lo mau apa? Kalau mau pacaran gue nggak bisa, Yan."

Akhirnya laki-laki itu tahu ke mana arah pembicaraan Naya, "gue mau nikahin lo, kapan lo mau gue dateng ke rumah lo?!"

Jawaban yang mampu membuat Naya bergetar hebat, dia menggigit bibir bawahnya cemas sembari memandang langit-langit yang mulai meredup.

"Jangan sekarang," ujarnya sedikit pelan, ada perasaan takut dalam lubuk hatinya. Takut jika Lian malah memilih meninggalkan karena rasa sakit hati.

"Kenapa?!"

"Lo punya mimpi, maksud gue impian?" Jelas Lian mengangguk dengan mantap, Naya pun kembali melanjutkan perkataannya. "Lantas, jika lo datang sekarang ke rumah gue apa tidak mungkin orang tua gue nyuruh gue berhenti sekolah?!"

"Ada kemungkinannya, tapi ada juga enggak," jawab Lian begitu enteng.

"Gue punya mimpi, Lian. Gue pengen mewujudkannya. Lo nggak perlu tahu apa mimpi gue, tapi biarkan gue satu hal." Sangat menarik pembahasan menurut Lian. "Apa?!"

"Biarkan gue melanjutkan pendidikan dulu, biarkan gue gapai mimpi agar nanti jika takdir sudah menggariskan kita bersama lo bangga milikin gue, agar nanti gue bisa menjadi sekolah pertama terbaik bagi anak-anak gue! Yang terpenting agar mak bapak gue seneng," ujarnya terlampau jauh. Namun, Lian mengerti hal itu.

"Gue ngerti, Anaya."

"Lo juga harus gapai mimpi, perjalanan kita masih panjang, Yan. Jangan berhenti sebelum waktu itu tiba." Lian tersenyum kemudian menoleh ke arah Naya setelah per-sekian menit. "Gue nggak minta lo buat nunggu, tapi lo adalah rumah kembali bagi perasaan gue. Sejauh apapun gue melangkah, gue akan selalu merindukan lo."

Naya tersenyum, pipi chubby-nya bersemu merah pertanda dia menahan malu. Namun, dia tersadar akan suatu hal.

"Jangan terlalu manis, Yan. Jangan ngegombal mulu," sahutnya tertawa renyah, mencairkan suasana.

"Itu bukan gombalan, tapi itu prinsip gue."

"Terserah."

"Ini yang gue suka dari lo, Nay. Lo bijak, lo mikir sejauh itu," sanjung Lian membuat Naya ingin mengumpat berulang kali pasalnya setiap kata Lian mampu menerobos relung hatinya. "Jangan terlalu muji entar gue terbang."

"Nggak papa, entar gue yang nemenin lo terbang," jawab Lian singkat.

"Oh, ya gimana kalau gue ada yang ngajak nikah saat lo lagi berjuang?!"

"Siapa? Emang ada yang mau sama kang nyemprot kayak lo?" Jika saja Naya dapat memukul Lian, sudah dari tadi Naya lakukan. "Ish, lo mah!!"

"Minta petunjuk sama Allah, siapa tahu itu memang yang terbaik," ujarnya tanpa ragu sedikitpun. "Lo ...."

"Manusia hanya bisa berencana, selebihnya hanya ada di tangan Tuhan," jawab Lian dengan cepat.

Semoga lo adalah sebuah nama yang bersanding di lauhul mahfudz dengan nama gue, batin mereka seakan kompak menyemogakan hal itu dalam hati.

Mereka hanya dua remaja yang saling mengungkapkan rasa, tapi tidak memprioritaskan cinta.

"Sampai jumpa di titik terbaik menurut takdir."

.
.
.
.
.
Selesai—

Ini beneran selesai guys, makasih udah nemenin AULIANAYA sampai tamat🍂

Mohon maaf apabila ada salah-salah kata.

Lian dan Naya real juga dipisahkan oleh masa depan, jadi you know lha. Nggak perlu tahu siapa mereka kalian nikmati aja kisahnya.

See you di cerita-cerita aku yang lain

18 Juni 2021

Jangan lupa follow me and find to me on IG
@amaliaa.yaa

Sayang kalian🖤

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang