—Salam Literasi—
“Seorang anak tidak berhak disalahkan atas perbuatan buruk orang tuanya.”
—Prasasti Hati Anak Organisasi
Aulian Bashira Gahyda termenung di depan televisi di meja ada setumpuk berkas yang perlu ia pelajari, mulai dari masalah OSIS, membina pramuka, hingga pecinta alam.
Tidak lama Alfarezi datang, laki-laki itu kemudian menyerahkan jaket kesayangan kakaknya.
Lian menerima dan menyampirkan di salah satu bahunya, tidak berterima kasih atau mengucapkan sepatah kata. Tentu saja membuat lelaki itu kesal.
"Begini nih nasib sodaraan sama titisan kulkas," celotehnya beranjak meninggalkan kakaknya.
"Makasih, Rez."
"Telat."
"Mending telat daripada kagak," jawabnya tanpa berekspresi, melihat adiknya yang berjalan keluar. "Lo mau ke mana?!"
"Nyari udara seger, di sini udaranya udah kayak panggangan daging!" kesalnya kemudian mengambil kunci motor.
Brak!!
Seorang pria menabrak tubuh cowok itu, dengan siaga Farez memapahnya menuju kamar. Tidak ada niatan untuk menanyakan dari mana dia.
"Kayaknya Papa mabuk lagi, Bang." Farez melihat kakaknya yang masih tidak berkutik dari tempatnya.
"Jika kamu nggak lahir, mungkin sayangku masih di sini," ujar Adrian—papanya, pria itu menunjuk-nunjuk Farez. Lian yang mendengarnya miris sendiri. Bagaimana bisa seorang anak disalahkan atas perbuatan orang tuanya?!
Jika kalian kira jiwa kepemimpinan Lian lahir dan besar di keluarga yang disiplin dan harmonis, kalian salah. Lian dibesarkan dengan pengalaman dalam fase Kehidupannya.
“Experience is the best teacher.”
Alasan Lian mencari banyak kesibukan salah satunya supaya dia jarang di rumah dan melihat pemandangan seperti ini.
Setelah mengantar papanya, Farez mengurungkan niat untuk keluar rumah. Dia duduk di depan kakaknya, cowok itu terlihat menandatangani beberapa berkas.
Farez mengerti semua itu, berbeda dengan dirinya yang memilih bodo amat tentang kondisi keluarga.
"Gue keluar dulu," ujarnya membereskan pekerjaan dan berniat keluar rumah, dengan sedikit tergesa-gesa Farez mengikuti jejak kakaknya.
Bisa dibayangkan jika Lian marah, dia akan melampiaskan emosi ke apa aja. Salah satunya dengan menambah kecepatan motor yang ia kendarainya sekarang, bahkan Farez cukup kesulitan untuk mengejarnya.
Lian menghentikan motor di salah satu jembatan, dia mematung di sana. Melihat gelapnya langit angkasa serta sungai yang sedikit bersinar dengan lampu temaram.
Tuhan memberikan kehidupan seperti ini, dia tidak berniat lari dari alur kehidupan yang seperti ini. Namun, terkadang seseorang memerlukan tempat untuk menenangkan diri bukan?!
"Busyet kek gajah terbang aja lo, sat set nyampe sini," canda Farez mengikuti arah pandang Lian. Kedua cowok itu memiliki sifat yang berbeda. "Kenapa lo ke sini?!"
"Khawatir lo nabrak semut, kan kasihan semutnya entar bisa tersesat dan 'tak tahu jalan pulang." Farez sedikit bernada. "Lo kenapa sih benci banget sama papa, apa salahnya cobak?" tambah Farez.
Sebenarnya ini bukan pertama kali cowok itu menanyakan masalah ini, tapi Lian saja yang selalu menghindar.
Lian menatapnya sarkas, di bola matanya terdapat luka yang tidak bisa diartikan. "Karena dia kita kehilangan mama."
"Mama? Mama di mana?" tanya Farez beruntun, jika menyinggung masalah mamanya. Seakan dia yang akan maju pertama.
"Gue nggak tau, Rez. Kalau gue tahu gue bakal datengin mama," kesalnya mengacak-acak rambut. "Lo pulang! Gue mau ke ...."
"Pencak silat?" Lian mengangguk, Farez hanya mengangguk pasrah. "Lo udah kelas sembilan, awas lo nggak lulus," ancamnya melihat penurunan di beberapa semester Farez.
"Lo nggak capek apa? Tadi elo habis pulang rapat pecinta alam, sekarang ...." Lian hanya menggeleng.
Di sisi lain Naya sedang memutar musik Sebatas Patok Tenda, dia jadi ingat saat LDK Naya kesulitan memalu pasak kemudian Lian membantunya.
Namun, dengan cepat dia sadarkan pikiran. Melihat secarik kertas yang ia tempelkan di dinding kamarnya.
"Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS."
Naya kemudian fokus pada buku pembelajarannya lagi. Melupakan perasaannya sendiri, ini bukan waktunya cinta-cintaan. Namun, kenapa bayang-bayang paras Lian selalu menghantui pikirannya.
“Nduk ...! Bikinin kopi, ada temen bapak nih," pinta Wildan dari ruang tamu. Naya menutup bukunya, "iya, Pak."
Meskipun Wildan bukan ayah kandung Naya, tapi tidak menjadikan Wildan jarak di antara keduanya. Bahkan, Wildan sangat menyayangi putri tirinya itu. Satu hal yang perlu diingat, tidak semua ayah tiri itu jahat.
"Anaya ... tadi ibu ke rumahnya Dika, katanya besok kamu disuruh ke sana," tutur Wiwit menyiapkan camilan untuk teman kopi.
Naya mengerutkan kening, perasaan baru aja pulang dari rumah kakaknya. "Buat apa, Buk?!"
"Katanya besok bu Tina atau pak Harsono tidak bisa menemani Dika terapi, jadi dia ngajak kamu deh," ujarnya tersenyum. "Buk, Kak Dika bakal bisa jalan lagi, 'kan?!"
Naya tidak tega melihat keadaan kakaknya seperti itu, sudah setahun semenjak kecelakaan itu. Dika menggunakan kursi roda dikarenakan beberapa syaraf kakinya tidak berfungsi.
"Insya Allah, Nay. Yang penting ikhtiar dan tawakal," kata Wiwit meyakinkan Naya, dia tahu seberapa penting Dika bagi kehidupannya.
Lewat seorang Mahardika Reynaldi, Naya bertekad istiqomah dalam menutup kepala dengan sehelai kain yang hampir setiap saat menemaninya.
Naya juga sangat bersyukur dilahirkan di keluarga yang cukup religius, apalagi bapaknya yang tidak pernah absen mengingatkan dia untuk salat.
***
Setelah terapi Naya mendorong kursi roda Dika mengelilingi taman, Dika memotret beberapa objek.
"Kenapa hasil jepretan Kakak bagus, lha kalau Naya yang jepret kenapa hasilnya jelek?" gerutu Naya ketika membandingkan hasil potretan dia dengan Dika di kamera milik Dika.
Sejak dulu Dika memiliki hobi di bidang fotografi tidak heran, jika potretannya bisa dikatakan seperti fotografer profesional.
Dika langsung menyahut kamera dari tangan perempuan yang menggunakan outher abu-abu dengan kerudung yang senada, Naya mencebikkan bibir. "Kak ...!"
"Gue nggak akan pinjemin kalau elo terus membandingkan."
"Emang kenapa sih, 'kan cuman foto!" kesal Naya menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Meskipun hanya foto, tapi bisa ngelatih lo untuk terus membandingkan. Okay, awalnya cuman foto besok-besok lo bisa aja bandingin diri elo sama orang lain. Itu nggak baik, Nay."
"Iya deh, iya."
"Jangan iya-iya doang."
Naya mengembuskan napas, "nggak dah, enggak."
Dika membuatkan mata, sedangkan Naya tertawa girang. "Apa tadi?!"
"Iya, siap laksanakan Jendera!!"
.
.
.
.
.
—Next—
Salam hangat, sehangat opor ayam🐥
Gue nulisnya malem lhoo😂
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Fiksi RemajaJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)