—Salam Literasi—
-&-
Gedein aja gengsi, lihat apa yang terjadi.
-&-
Hari minggu Naya mencuci bajunya sendiri, hari ini paman Faira tidak berangkat jualan. Jadi, dia tidak ada kegiatan hari ini.
"Naya ... cepet diselesein nyucinya, ibuk mau berangkat ke pasar dulu ...!" teriak Wiwit menyambar kerudung dan beberapa keperluan lainnya.
"Astagfirullah, Naya." Wiwit melihat putrinya sedang melamun seraya memainkan busa air. "Naya ...!?"
"Eh, iya, Bu." Gadis itu gelagapan sendiri, dia segera membilas baju-bajunya. Wiwit hanya menggelengkan kepala, kemudian bergegas meninggalkan rumah bersama suaminya.
Dari tadi dia masih memikirkan Bening dan Faira, kenapa mereka begitu mudah menyimpulkan semuanya. "Apakah itu yang yang dinamakan sahabat, huft!!"
Naya kesal sendiri, memilih tidak menghubungi mereka. "Masak gue yang harus minta maaf? Tapi gue, 'kan nggak salah."
Setelah mencuci dia membersihkan diri, berniat bersepeda di pagi hari. Mumpung tidak ada tugas dari OSIS.
Naya menyumpal telinga dengan benda berwarna putih yang terhubung dengan ponselnya.
Sepeda berwarna biru tua melaju dengan kecepatan sedang. Hingga sampailah di jembatan sungai yang kata orang spot fotonya sangat indah.
Gadis itu menikmati waktu sendiri, tanpa ada yang menganggu. Dari sini dia sadar apa arti 'me time', selain untuk merefleksikan diri bisa juga sebagai evaluasi diri. Semua sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali. Karena takdir sudah mempersiapkan kejutan-kejutan setelahnya.
*****
"Waduh, Nay. Bapak nggak bisa nganter nih, ban motor bapak pecah," ujar Wildan menambal ban motornya sendiri. "Kalau Naya tungguin?!"
"Kamu bisa terlambat toh, Nduk. Tumben nggak bareng Feila?" tanya Wiwit membuat gadis itu menggeleng. "Feila izin nggak sekolah, Bu. Katanya ada acara keluarga."
"Faira, Bening?" Mereka berempat juga dekat dengan orang tua Naya. Wajar saja jika Wiwit mempertanyakan keberadaan mereka. "Euhm ...," jawabnya ragu mengatakan hal ini atau tidak.
"Kenapa? Kalian ada masalah?" Sontak Naya menggeleng, tidak mau membuat Wiwit khawatir. "Naya berangkat sekolah naik bis aja, assalamualaikum," pamit Naya segera menyalami keduanya.
"Waalaikum salam," jawab mereka kompak. "Hati-hati, Nduk."
*****
Langkahnya ragu saat berada di depan gerbang, sehari tanpa sahabat-sahabatnya terasa berat. Namun, dia harus melalui semua ini.
Dia tidak bersalah, kenapa dia takut? Toh, Bening dan Faira yang memancing duluan. Setiap tangga yang ia lalui terasa berat, seakan ada yang menariknya apalagi saat masuk kelas serasa asing di hadapan sahabatnya.
Naya segera mendaratkan bokong di bangkunya, meletakkan tas, dan membaca buku. Padahal Naya tidak benar-benar membaca, dia hanya berpura-pura agar Bening dan Faira mengira kalau dia baik-baik aja tanpa mereka.
Tidak bisa dibohongi Naya rindu suara gelak tawa dan candaan dari mereka, tapi dia ingat jika mereka tidak baik-baik saja.
Sampai mereka pulang pun, mereka tidak saling apa, entah apa yang membuat mereka kekeh tidak mau mengawali obrolan satu sama lain. Perasaan mereka masih dongkol satu sama lain atau hanya gengsi untuk meminta maaf.
Di sinilah Naya sekarang duduk bersama anak OSIS. Hatinya bertambah sesak ketika Lian berduaan dengan Belva, lebih tepatnya mengerjakan tugas bersama. Ingin dia segera keluar dari ruangan, tapi dia belum menyelesaikan semua tugasnya.
"Kak Naya, pengambilan tropy juara tiga event memasak kemarin siapa yang ngambil?" tanya Setya memeriksa kembali berkas-berkas LPJ.
"Kapan?" tanya Naya dengan suara datar, dia tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi tentang Aulian jika dia tidak ingin terperosok dalam lembah kecewa terlalu dalam. "Lusa, Kak."
"Perwakilan dari peserta, bu Cahya, dan perwakilan OSIS aja," jawab Naya kemudian beralih membungkus hadiah-hadiah pemenang karya mading bulan ini. "Oke, Kak."
"Lian, yang menyerahkan hadiahnya siapa nanti? Terus kapan diumumin?" tanya Naya tanpa mengalihkan pandang.
"Pas selesai upacara minggu depan, untuk penyerahan bu Hayati salaku juri dan bu Cahya selalu pembina OSIS. Soalnya minggu depan KEPSEK dan ketua yayasan sepertinya tidak hadir," jawab Lian membantu Naya membungkus hadiah. "Ini untuk per-kelas dan per-individu?!"
"Iya, Yan. Juaranya ada enam, tiga dari kelas dan tiga lagi individu." Naya menjelaskan sedikit seraya membungkus peralatan kelas. Sedangkan untuk individu hadiahnya beragam, juara satu dan dua dapat novel, juara tiga dapat peralatan untuk membuat karya mading antara lain, spidol dan kertas bufallo.
"Ini udah lo catet semua, 'kan pengeluarannya terus notanya mana?" timbrung Belva duduk di samping Lian. Naya menyerahkan nota dan kembaliannya. "Sekalian serahin ke teh Aya."
"Siap."
"Tumben, Nay. Lo diem? Lagi dapet?" tebak Rian dengan gelak tawa yang membuat Naya ingin menerkamnya sekarang juga. "Iya, mau gue jadiin samsak?!"
"Duhh, galak amat udah cocok sama Lian, hahaha," sambung Bian melempar pandang ke arah Lian. Dia berharap semoga gadis yang disukai Lian adalah Naya atau kalau tidak, ya cewek lain. Asal jangan Belva.
"Eh, biang kerok! Ngomong sekali lagi gue telen lo."
"Emangnya gue makanan apa?!"
"Jangan lupa minum air, Kak. Biar nggak nyangkut bisa bahaya tuh apalagi kalau nyangkut ke cewek lain," canda Setya terkikik girang, paling seru melihat kakak kelasnya berseteru. "Sekalian lo gimana?!"
"Busyet, sekalian ruangan ini lo telen, Naya." Belva membantu merapikan ruangan OSIS yang sudah seperti kapal pecah.
"Gue cabut dulu, woy!" pamit Lian mengambil tas dan jaket yang tergantung di belakang pintu. "Mau ke mana, Yan?!"
"Padepokan!" serunya meninggalkan ruangan. "Kalau pamit itu salam, udah kayak setan aja."
Lian yang mendengar hal itu kemudian berbalik badan, "Assalamualaikum terutama buat lo, Naya."
"Waalaikum salam," jawab mereka kompak.
"Cihuy!!!"
"Aroma makan besar nih."
"OSIS mantu, hahaha. Entar gue bagian terima tamu, Kak."
"Gue bagian sie dokumentasi malam pertama ya, Nay." Rian emang nggak ngotak emang.
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Teen FictionJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)