21. With 3 Yan🍂

633 66 5
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Jika saja gue boleh mengatakan kalau gue sayang sama lo pasti akan gue katakan sejak lama.

-&-

   "Siapa, Yan?" tanya Naya masih fokus pada layangan di langit berwarna biru. "Temen."

   "Oh."

   "Cuman oh?" tanya Lian menggantikan posisi Naya, gadis itu lantas duduk tak jauh darinya. Sedangkan Lian masih berdiri, pandangannya tidak terlepas dari layangan berwarna hitam bergambar tengkorak.

   "Lha terus gue harus dongengin lo gitu!" kesalnya berdecak, kemudian memilih pergi dari sana.

   "Mau ke mana, Nay?" Lian melihat gadis itu perlahan menghilang dari pandangannya. "Ke kota zaman purba!" asalnya melanjutkan langkah.

   Di samping koperasi Naya melihat Rian dan Bian yang terus berdebat, entahlah mendebatkan perkara apa yang jelas keduanya tidak mau mengalah.

   Tidak sengaja dia melihat secarik kertas bergambar hello kitty beserta amplopnya bewarna pink sontak gadis itu tertawa renyah, kemudian menghampiri mereka.

   "Wahh, ada yang dapet surat cinta nih," canda Naya membuat keduanya menoleh, Rian menyembunyikan barang-barang yang menurutnya menjijikkan itu. "Nggak usah disembunyiin orang gue juga udah tahu," tambahnya masih terkikik.

  "The power of secret admirer," lanjut Bian malah mendukung Naya, Rian menghela napas seraya menunjukkan muka kusut. Secret admirer yang meresahkan.

   "Lihat dong, Yan." Naya langsung mengambilnya membuat Rian kelabakan sendiri seperti dirampas guru BK.

Dear,
Untukmu seorang laki-laki berkulit putih dengan tinggi semampai. Bermata sipit dengan rambut yang tidak bisa rapi. Aku melihatmu berjalan ke arahku, meski kau tidak melihatku. Namun, aku melihat sebuah senyuman yang bikin candu. Bola mata bercahaya yang kian menusuk dada hingga setiap kata mengalun dengan indah.

Aku tahu kamu tidak akan pernah menemukan atau bisa menebakku. Namun, aku berjanji suatu saat di kala senja ketika mentari mulai meredup hingga petang telah tiba. Aku akan mengakui bahwa aku adalah bintang yang selama ini merindukan bulan dan seperti sungai yang merindukan ikan.

Salam sayang,
Perempuan biasa.

   Sontak Naya tertawa lagi-lagi sampai perutnya sakit, bisa-bisanya Rian dapet surat se-istimewa itu.

   "Ini nggak salah orang, 'kan?" Rian mengedikan bahu, dia pasrah. Benar-benar pasrah dengan semuanya. "Serasa diteror."

   "Bener, Nay. Bisa-bisanya seorang petakilan dapet surat kayak gitu," sambung Bian meneloyor kepala Rian.

   "Diem lo pada!" bentak Rian sebenarnya menyembunyikan malu. "Padahal gue nggak pernah unboxing tuh anak, pake ngomong menusuk dada hedeuh."

   "Itu majas hiperbola, lo mah pelajaran bahasa Indonesia molor mulu!" seru Naya menyadari pikiran Rian sudah kemana-mana.

   "Emang lo tahu dia molor, Nay?" sontak Naya menggeleng, ya mereka berbeda kelas dengan Rian. Rian kelas XI Ips 2. "Biasanya, hampir 90% sih hahaha."

   "Bener sih," jawab Bian membenarkan.

   "Anjay, lo mah main bener-bener doang!" selorohnya tidak terima. "Ngaku doang kagak mau."

   "Apaan!" Rian mengalihkan pembicaraan. "Nah, mumpung ada lo ada di sini, kasih saran kek biar gue nggak dikirimi surat kayak gini."

   "Emang lo nemuin surat ini di mana?" tanyanya membuat Bian tersenyum nakal. "Di teluk Mariana, Nay."

   "Gue nanya serius, Yan." Naya memutar kedua bola matanya. "Hayuk, kapan mau gue seriusin."

   "Hidup lo masih kebanyakan bercanda mau nyeriusin anak orang." Suara Naya membuat Rian terkekeh. "Kena mental tuh Biang kerok. Di tas, Nay."

   "Nah, lo bisa kasih tulisan di tas lo 'Barang siapa yang masukin surat tanpa sepengetahuan gue doakan bintitan' atau kalau nggak gitu, ya 'Sesungguhnya yang memasukkan surat diam-diam bisa terkena bintitan' etdah, se-kreatif lo pokoknya," jelas Naya panjang lebar.

   "Perlu dicoba! Gokil tuh, biar kesannya nggak gue doang yang suka ngejar cewek! Nyatanya ada juga yang ngejar gue," sahut Rian merasa bangga ternyata dia tidak seburuk yang dia kira, buktinya ada yang menyukainya.

   "Elah, kalau kayak gini aja bangga coba aja tadi udah mau nonjok orang," jawabnya ingin sekali membanting Rian.

   "Hahaha, udah udah. Oh, ya lo tahu nggak di mana Feila?" tanya Naya tidak melihat tanda-tanda sahabatnya. Rian menggeleng sedangkan Bian mengatakan, "udah pulang."

   Naya menepuk jidatnya sendiri, suka banget ninggalin sahabatnya. "Yah, terus gue pulangnya sama siapa ...," lirihnya memikirkan cara, angkot juga jam segini tidak ada yang lewat.

    "Mau gue anterin, Nay?" tawar Bian setengah menggoda, Naya berpikir sejenak sebelum mengiyakan. "Tapi harus orang dua yang nganter."

   "Sama dia lha," kata Bian enteng banget seraya merangkul bahu Rian. Dia juga tidak menyangka kalau Naya mau dianterin. Namun, cowok itu menolak dengan alasan mau mengantarkan Ria pulang.

   "Cobak sama Liang lahat," saran Rian meninggalkan mereka berdua. Naya pun mengambil tas di ruang OSIS begitu juga dengan Bian.

   Bian mendengus kesal, tapi mau bagaimana lagi dia sudah menyanggupi permintaan Naya. Terserah nanti Naya mau milih siapa, dibonceng Lian atau dirinya. "Yan, gue tunggu di depan gerbang."

   "Lo nggak nganterin Belva?" sinis Bian mendadak menjadi lesu, selalu kalah aja dari Lian. "Nggak, dia masih ada urusan sama teh Aya, katanya entar minta jemput papanya."

   Bian sudah sampai di hadapan gadis dengan mata lentik dan bibir mungilnya. "Mana kunci lo?" Naya mengatongkan tangan.

    Bian membelalakkan mata, dalam hatinya apa mungkin Naya yang akan membonceng dirinya?!

   "Nggak udah melotot gitu kali, gue takut keluar," ujar Naya mendapat kunci motor scoopy hitam milik Bian. "Apanya yang keluar?" Pikiran Bian sudah ke mana-mana.

   "Mata lo lha, masak telur dinosaurus!" kesalnya asal-asalan kemudian meminta Bian untuk turun. Tidak lama Lian menghampiri mereka berdua.

   "Lo boncengan sama Lian, gue sendiri," katanya menyalakan mesin seketika Bian menganga. "Gue pikir lo ...."

   "Sudahi halumu teman, dunia sudah tua termasuk lo juga!" katanya tertawa melihat Bian yang berulang kali pasrah. "Dia nguji kesabaran banget ...!?"

   "Seumpama lo nikah sama dia, lo tahan nggak, Yan?" tanya Bian membuat Lian berdecak. "Mau terus nyerocos apa gue tinggal?!"

   "Ckckck, lo sama ngeselinnya sama Naya."
.
.
.
.
3 Yan : Lian, Bian, dan Rian.

BiAnaya atau LiAnaya😂

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang