15. About Organisasi🍂

700 68 0
                                        

—Salam Literasi—

-&-

“Seorang pemimpin harus bisa memahami dirinya sendiri.”

-&-

   Lian melangkah menuju kelas XI Ipa 2, menyusul Zayn. Masih teringat ucapannya dulu saat tes OSIS.

   "Bagaimana jika rekanmu berniat keluar dari OSIS?" tanya Saka—KETOS sebelum periode Lian.

   "Akan saya pertahankan semampu dan sebisa saya," jawab Lian cepat membuat senyuman Gatha terlukis. "Jika dia kekeuh nggak mau bertahan di OSIS lagi?!"

   "Komunikasi, karena dalam organisasi komunikasi sangat dibutuhkan. Saya akan mencobanya terus, selain itu jika alasan keluar karena ketidaknyaman satu OSIS akan berusaha meyakinkannya dan akan diadakan evaluasi agar bisa lebih baik untuk kedepannya," tutur Lian dengan wajah santai, tapi tidak dengan kakak OSIS seakan mereka ingin mematahkan pendapat Lian.

    "Jika usaha yang dilakukan, tapi tidak membawa hasil dan dia makin keras kepala buat keluar OSIS, apa yang akan kamu lakukan?" Saka tidak mengalihkan pandangan dari Lian.

   "Saya akan lepaskan, karena jika dipaksa untuk tetap bertahan bisa jadi dia mempengaruhi yang lain untuk melakukan hal yang sama karena saya tahu rasanya dipaksa itu seperti apa. Lebih baik melepaskan apa yang seharusnya pergi, dan mempertahankan apa yang masih ada."

   Semua kakak kelasnya tertegun mendengar jawaban Lian, mereka mengangguk-angguk cukup setuju.

   "Okay, bagus Lian. Pemimpin harus bisa memahami dirinya sendiri sebelum memahami anggotanya, jika ada nih anggota yang berseteru dengan sesama anggota lainnya? Apa yang akan kamu lakukan?" Pertanyaan dari Laskar—selaku wakil ketua OSIS Saka.

   "Saya akan mendengarkan dari kedua belah pihak dulu, tentunya saya akan koordinasi bersama wakil saya kelak. Lalu mendamaikan mereka secara privat, karena ada sebagian orang yang beranggapan bahwa diberi kritik dan saran saat di depan banyak orang adalah sebuah hinaan."

   "Good job."

    Lian masih mengingat betul akan hal itu, setelah menemui Zayn dia tidak serta merta langsung menanyakan alasan berniat keluar. Lebih ke basa-basi dulu agar Zayn juga merasa tenang karena sejak tadi emosinya tidak terkendali.

   Kini tiba saat Lian menanyai alasan keluar, jawaban Zayn cukup menyita perhatiannya. "Katanya gue nggak pantes berada di sana, gue hanya sampah!!"

   Mendengar ucapan Zayn, Lian yakin ada yang mengatakan hal itu kepadanya. Tentu saja dari dalam OSIS sendiri, jikalau dari luar OSIS Lian yakin Zayn tidak akan terpancing.

   Lebih sakit celaan orang terdekat, daripada orang asing yang tidak terlalu mengenal kita.

   "Siapa?" cetus Lian melihat kelas juga masih sepi, karena jam istirahat banyak anak kelas yang ke kantin atau hanya sekadar keluar kelas agar tidak bosan.

   "Resha," jawabnya lalu meninggalkan kelas, menutup pintu dengan kasar. Lian mengusap wajahnya kasar, oh Tuhan jika saja Lian boleh mengatakan bahwa sifat mereka masih kekanak-kanakan. Namun, tidak. Dia akan berbicara dengan Resha nanti saat pulang sekolah, karena bel masuk juga sudah berbunyi.

   ****

   Anak kelas XI Ipa 1 sedang free class, mereka bebas mau ngapain. Asal kata guru tidak keluar kelas. Jika kalian pikir anak Ipa akan sibuk belajar, oh tentu tidak!?

   Ada yang tidur, ada yang main ponsel lihat tutorial memasak, ada yang nyanyi heboh di kelas, ada yang gosip, dan bahkan ada yang melamun. Hampir keseluruhan tidak ada yang buka buku.

   "Ada apa, Yan? Kok muka lo datar banget kayak persegi panjang?" canda Belva menghampiri bangku Lian, dia langsung duduk di depan cowok itu. Lian menggeleng, mengalihkan pandangan.

   "Udahlah, Yan. Cerita aja sama gue ... lo mah, masih suka gitu padahal gue sahabat lo sendiri. Oh, ya besok kita ngasih materi apa ke SMP?" celoteh Belva mengambil buku Lian, mencoreti bagian belakang buku Lian yang masih sangat bersih. Kebiasaan Belva, tidak bisa melihat lembaran belakang buku yang masih kosong. Dia akan menggambar dan menuliskan beberapa quote.

   "Besok gue nitip mereka ke elo, soalnya besok gue mau lihat turnamen bola basket SMA Dewantara," ujarnya membuat Belva mengangguk, sebenarnya bukan hanya mereka berdua yang membina. Ada teman mereka, tapi dari SMA lain.

   "Rivalnya siapa?" tanya Belva selalu tertarik dengan cerita cowok yang hampir 13 tahun bersamanya. "SMA Unggulan Semesta, Bel. Gue harap kagak ada keributan."

   Tangannya langsung melemas, Belva meletakkan pulpen. Berharap apa yang disemogakan Lian benar-benar terjadi. Karena kedua SMA ini sebenarnya tidak bisa dipertemukan, untuk menghindari kericuhan.

   "Yan, jaga diri baik-baik, ya gue takut lo kenapa-napa," tukas Belva melihat sahabatnya dengan mata meneduh, dengan cepat Lian menggeleng. "Lo nggak usah khawatir, Bel. Semua pasti akan baik-baik aja, oh ya gue denger lo habis menang musikalisasi puisi?!"

   "Iya, sama sanggar gue sih. Yan, lo tahu nggak kemarin gue bahagia banget bisa lihat mama sama papa akur," kata Belva menyeringai cerah. Jika Belva bahagia, Lian pun ikut bahagia. "Pertahankan, Bel."

   "Gue usaha buat mereka tetep akur kok, Yan. Lian hari minggu lo sibuk nggak?" tanya Belva, cowok berkulit sawo matang itu menggeleng. Karena minggu ini dirinya sedikit longgar saat pagi. "Pengen joging, tapi nggak ada yang nemenin. Lo mau nggak nemenin gue joging? Cuman sebentar kok."

   "Iya, entar gue jemput lo," jawab Lian mengukir senyuman.

   Beruntung banget jadi sahabat Lian, batin mereka meneguk ludah ketika melihat keakraban dua remaja ini. Lian sangat care ke sahabatnya.

   "Ada yang yang terbakar, tapi bukan kayu. Ada yang terus menempel, tapi bukan benalu," sindir keras Bening membuat Naya menyumpalnya dengan buku yang sudah ia gulung.

   "Lo bisa diem apa perlu gue lem mulut lo?" marah Naya menatap tajam sahabatnya yang sedang menahan tawa.

   "Oppa! Sarangheo ...!" pekik Faira malah heboh sendiri melihat bias di wallpaper ponselnya.

   "Sarangan?" ceplos Feila yang sedang makan cemilan itu menoleh, dia bersama Bian melihat you tube tutorial masakan. Bukan hanya mereka mereka berdua. Ada Ria, Naya, dan Angkasa juga. Udah kayak nobar.

  "Sarangheo, Pell!" Faira membenarkan.

  "Eh, bentar Naya suka Lian kah?" pancing Bian membuat gelak tawa di antara mereka. "Nggak, jangan percaya sama mereka, Yan."

  "Entar aja deh di RO sama Rian gue ceritain rahasia Lian," ujar Bian cukup pelan, agar Lian tidak mendengarnya. "Nggak penting."

   *****

   Setelah membicarakan masalah Zayn bersama Resha, gadis itu merasa tidak pernah mengatakan hal itu kepada Zayn. Apalagi sekasar itu, sampai Lian mempertemukan Resha dengan Zayn pun keduanya sama-sama diam, terlebih Zayn.

   Apa yang sebenarnya terjadi, batin Lian melihat mereka bergantian.
.
.
.
.

BelvAulian aja dahh ^^

13 bersama bukan waktu yang sebentar, bro!!

—Next chapter—

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang