56. Mati🍂

805 69 12
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Jangan pernah pergi. Gue takut lo nggak akan kembali.

-&-

Byur!!

Guyuran air tepat sasaran, membuat gadis yang sudah berkeringat dingin dengan racauannya terbangun saat itu juga.

Gadis itu mengedarkan pandang, memeriksa sekitar. Anaya menormalkan jantung sebelum menatap seorang laki-laki yang sudah cekikikan sendiri.

Sungguh jika boleh dia akan melempar kakaknya ke pluto, "Kak Dika ngagetin mulu."

Naya menegangkan otot seraya melihat kakaknya jengah.

"Lha elu, dari tadi nyebut nama Lian mulu 'kan gue jadi antisipasi takut-takut lo kesurupan," ujarnya mengambil camilan dan duduk bersila menikmati film kesukaannya. "Kalau tidur itu di kamar nggak di ruang keluarga kayak gini," tambahnya menggelengkan kepala.

Tiba-tiba Naya teringat sesuatu, "eh, Kak. Lian ...."

"Kenapa?!"

"Lian di mana?" Entahlah detik itu juga butiran kristal bening membasahi pipinya, Naya memandang kakaknya penuh harap. "Lha elo 'kan dari sana nganterin Mama."

"Kak, pengen Lian ....," lirihnya tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Paham dengan sesuatu yang aneh telah terjadi, Dika mendekat. "Lo kenapa, astaga?!"

Tangan besarnya mengelus kepala Naya yang tertutupi kerudung agar adiknya merasa tenang. "Lian nggak ke mana-mana, 'kan?!"

Dika menggeleng, lambat laun dia mengerti apa yang terjadi kepada adiknya. "Lo mimpi buruk?!"

Naya hanya mengangguk sebelum Dika bersiap-siap mengantar Naya ke rumah sakit, lagi pula dia juga harus menjemput mamanya.

****

Tadi sepulang sekolah dia memang sudah ke sini bersama Bian dan Feila, juga dengan Tina yang sudah tau kebenarannya. Namun, Naya pamit pulang untuk mandi dan salat asar tadi.

Pikirannya kacau, masak gegara tadi Lian ngomong, "gue takut kalau gue tidur nggak bisa bangun lagi." Sampai kebawa mimpi.

Naya tidak akan tenang sebelum dia sendiri melihat kalau Lian baik-baik saja, dia membuka pintu pelan takut jika menganggu pasien.

Hal tertangkap pertama kali oleh penglihatannya adalah Lian yang mengusap lembut wajah Belva sebelum gadis itu tertunduk, Belva menoleh ketika pintu terbuka. Setelah Naya masuk gadis dengan rambut dikuncir kuda itu undur diri, katanya ada sesuatu yang penting. Entahlah, ini hanya alasan atau memang benar adanya yang jelas Naya lega melihat Lian baik-baik saja.

Tidak hanya Naya, Dika juga masuk ruang inap Lian. Bibirnya melekung sempurna, itu artinya Lian adalah saudaranya juga.

"Makasih, Nay."

"Buat apa, Yan?" tanyanya mengerutkan kening sembari duduk di kursi sebelah brankar Lian, sedang Dika masih setia berdiri. "Lo udah buat gue ngerasa kalau gue punya keluarga, sekarang lo nyatuin keluarga gue."

Aulian tersenyum tipis di balik wajah pucatnya. "Eh, kenapa muka lo kusut kayak baju yang belum disetrika?!"

"Gara-gara lo nih," tuntut Naya malah merasa kesal dengan laki-laki yang masih terbaring dengan selang infus di tangannya. "Emang gue salah apa? Gue apain lo?!"

"Gue mimpi lo mati, anjir terus gue nangis di sana," ujarnya membuat Lian terkekeh. "Kenapa emang kalau gue mati?!"

"Jangan, entar gue nangis."

"Kenapa?" ulang Lian yang merasa lucu ketika Naya bercerita. "Lo nggak ada perasaan banget, masak ada orang mati gue ketawa."

Naya mengerucutkan bibir sebal, Lian emang nggak peka. Namun, jika itu beneran terjadi sungguh rasanya dia tidak bisa bernapas normal.

"Iya iya, terus gimana?!"

"Nggak tau gak mood gua," katanya menggerang, selepasnya dia ingin pulang, tapi Lian mencegahnya. "Tunggu."

"Hm."

"Nggak usah sok cuek, sini duduk dulu bentar aja," katanya menepuk-nepuk ranjang yang masih kosong. "Ada penjaganya noh!" Naya mengingatkan, dia menunjuk Dika dengan dagu.

Iya deh, iya. Entar kalau udah halal gue juga nggak ngizinin lo deket-deket sama cowok lain, gumamnya dalam hati.

"Mau ngomong apa?!"

"Jangan nangis lagi," katanya ditambah dengan senyuman semanis gulali. "Kenapa kalau gue nangis, toh lo juga nggak peduli."

Lian mengerutkan kening, siapa juga yang nggak peduli. "Gue nggak mau lo nangis sebab entar gue nggak bisa menghapusnya 'kan belum nikah."

Jujur saja kali ini jantungnya kembali berirama tak beraturan, "kalau udah nikah lo bakal bikin gue nangis terus gitu?!"

"Nggak, tapi kalau lo nangis gue pastiin itu adalah air mata kebahagiaan," pungkasnya membuat dada Naya kembang kempis tidak karuan. Naya mengaku kalah, dia memilih segera keluar ruangan daripada pipinya bertambah merah seperti kepiting rebus.

Dika menggeleng melihat tingkah absurd keduanya, "lo bikin adik gue baper, tanggung jawab noh."

"Tentuin tanggalnya, orang Mama juga udah ngerestui," jawab Lian enteng membuat Dika berdecak. "Mama di mana?!"

"Udah pulang nungguin lo kelamaan, Kak."

"Kalau udah sembuh kabarin, tangan gue laper mau bogem orang!" serunya mengangkat salah satu alis, kemudian pamit pulang.

Kepergian keduanya membuat Lian tersenyum, ya dia menyukai Anaya. Namun, dia tidak akan memacarinya. "Kalau bisa langsung nikahi," celetuknya.

Anaya seorang gadis yang membuat Aulian jatuh hati untuk pertama kali, ah jika dia tidak bertemu Anaya mungkin hidupnya masih seperti dulu. Sebenarnya Lian mengira kalau Anaya pendiam. Eh, ternyata diam-diam menghanyutkan.

Dia melupakan satu hal, di mana Farez?!

.
.
.
.

Noh, Aulian nggak jadi meninggoy😐

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang