Hai-hai, sepi amat ya? Rumah Amat aja nggak sepi. Dah lah, yang penting usaha!
Usaha apa?
Usaha biar dapetin cinta dia eaa^^ au ah kok bucin, udah next kuy.
—Salam Literasi—
-&-
Kesedihan terdalam itu saat gue nggak bisa manggil seseorang dengan sebutan yang sebenarnya padahal sudah di depan mata.
-&-
Setelah mengantar Dika terapi, Naya berniat mampir ke rumah kakaknya apalagi dia melihat sepeda yang cukup familiar membuat Naya semakin penasaran dengan tamu itu.
"Ada siapa, Kak?" Dika menggeleng tidak tahu, karena dia juga tidak mempunyai janji. Dengan cepat Naya mendorong kursi roda Dika.
"Ada tamu, ya, Ma?" Tina mengangguk kemudian menggantikan Naya mendorong kursi roda. "Eh, elu!?"
Dika dan Lian bersalaman ala laki-laki, Naya ke dapur untuk mengambil beberapa hidangan yang tersedia.
Lian mengobrol banyak bersama Tina sekaligus meminta maaf atas kejadian yang menimpa mereka.
Tidak lama Naya keluar ruangan, kini giliran Tina yang mengantar Dika ke kamarnya untuk istirahat. "Kalian ngobrol dulu, ya."
"Iya, Ma." Naya mengangguk setuju, mempersilakan Lian untuk mencicipi makanan.
"Eh, lo kenapa di sini?" tukas Naya menyipit curiga, karena tidak biasanya Lian seramah ini. Apa kecelakaan itu membuat otak Lian geser? Ah, tidak-tidak kata dokter semuanya baik-baik saja. "Silaturahmi, emang nggak boleh?!"
"Enggak," jawabnya cepat seraya mengyilangkan tangan di depan dada. Lian terkekeh pelan, "ini bukan rumah lo!!"
"Emang kenapa? Toh, ini rumah kakak gue wlee." Naya menjulurkan lidah.
"Serah lu, Nay."
"Kenapa ih, kepo banget gue nggak biasanya lo kayak gini ... apa jangan-jangan lo mau nge-lamar gue? Ah, jangan, Yan. Gue masih pingin sekolah!" seru Naya semakin ngelantur dari pembahasan, cowok itu berdecak kesal. "Anjir, gue juga nggak mau jadi papa muda."
"Hah?!"
"Kagak," sahutnya cepat sebelum Naya kesal. "Lagian lo ngapain mikir kayak gitu," sambungnya membuat Naya gelagapan.
"L-Lo ngapain ke sini? Kalau lo nggak mau ngasih tau gue, jangan harap lo bisa balik lagi ke sini!" ancamnya malah mengalihkan pembicaraan.
Lian mengambil napas sebelum bicara bisa bahaya jika dia benar-benar tidak bisa ke sini lagi, "gue pengen ketemu mama gue, Naya."
"Hah? Mama?" Sontak Naya kaget dengan penuturan laki-laki di depannya ini. "Mama? Maksud lo ...."
Lian mengangguk membuat Naya mengerti semuanya. "Mama lo Mama? Maksud gue bu Tina?!"
Naya tidak menyangka jika orang yang dicari Lian selama ini ada di dekatnya, dia tak habis pikir akan takdir semesta. Se-sempit inikah dunia, tapi tunggu dia tidak bisa mempercayai Lian begitu saja bisa jadi Lian hanya mengatakan hal bodoh agar bisa dekat dengan dirinya mengingat Lian tahu kalau Naya mengaguminya.
"Lo nggak boong, 'kan? Sumpah kalau ini candaan ini nggak lucu." Naya terkekeh pelan, tapi ia tidak menemukan kebohongan di raut wajah Lian. "Gue nggak bercanda masalah kayak gini, nama lengkapnya Tri Diana, bukan? Mana mungkin gue nggak ngenalin mama gue sendiri, Nay?!"
"T—tapi kenapa Mama biasa aja?!"
"Karena dia nggak tahu kalau gue adalah anak yang ia tinggalkan 14 tahun yang lalu."
"Nggak mungkin, Mama pasti tahu. Dia baik banget, Yan. Mama ...!" teriak Naya menggelegar, tidak lama munculah wanita dengan riasan yang tidak terlalu tebal. "Mama tahu kalau Lian ...."
"Saya pamit, Tan. Terima kasih atas cerita dan hidangannya," potong Lian cepat sebelum Naya membocorkan segalanya. Naya menatap Lian tidak percaya, jika dia sudah tahu bu Tina adalah mamanya kenapa dia berlagak tidak kenal? Bukankah Lian sudah lama menantikan momen ini?!
"Ah, iya. Hati-hati, ya, Nak." Lian mengangguk.
Naya mengantar Lian sampai gerbang, dia masih belum menyangka semua ini. Mana mungkin seorang wanita yang ia anggap sebagai mamanya sendiri memiliki kisah kelam dalam kehidupan lamanya.
"Lo jangan bilang siapa-siapa."
"Kenapa?!"
"Gue nggak mau menghancurkan kehidupannya sekarang, Nay. Dia udah bahagia dan itu sudah cukup bagi gue," jawabnya menuntun sepeda motor.
"Tapi, lo gimana?" Lian menggeleng. "Jangan pikirin gue Naya."
"Apa Mama lupa nama panjang lo?!"
"Nggak tau, karena gue memperkenalkan diri dengan nama Jaka Aulian. Gue nggak minta banyak hal, tapi gue cuman mau bilang sama lo tolong jangan larang gue ke sini."
"Tapi Mama harus tahu hal ini, Yan."
"Nggak, Nay. Biarin aja seperti ini biarkan dia menjalani kehidupan yang dia pilih."
"Tapi lo anaknya, Aulian," kesal Naya.
"Nggak usah ada 'tapi' karena semua akan semakin rumit dengan kata 'tapi', Anaya."
.
.
.
—Next—
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Dla nastolatkówJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)