50. Dongeng🍂

574 63 2
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Gue hanya takut jika jatuh cinta terlalu dalam gue akan menemui kekecewaan yang terlalu dalam juga.

-&-


"Pulang." Satu kata dari Lian membuat mereka menggeleng, "jangan dulu kondisimu belum stabil."

Pada akhirnya Lian dipapah ke kamar tamu, untuk istirahat karena untuk ke rumah sakit ... Wildan berpikir kasihan tubuh Lian, apalagi jarak rumah sakit lumayan jauh dan malam semakin larut selain itu sejak tadi Lian tidak mau dibawa ke rumah sakit.

Dika melepas sepatu dan membantu Lian berbaring, "m—maaf, Kak."

"Santai aja kali, dah lo istirahat dulu." Lian mengangguk.

Naya melemparkan selimut ke wajah Lian sontak hal itu membuat Wiwi memelototinya. "Naya."

"Eh, nggak sengaja." Naya membantu Lian untuk memakai selimut. Lian memejamkan mata kali ini dia harus nurut apa kata keluarga Naya.

Gini, Yan. Rasanya disayang keluarga, batin Naya cukup tahu apa yang Lian rasakan.

Tadi dia memberikan ponselnya kepada Naya, agar gadis itu bisa menghubungi Farez setidaknya agar Farez tidak bertanya-tanya di mana dia meski orang tuanya tidak mungkin mencarinya.

Dika pamit pulang. Namun, Naya meminta kakaknya untuk menunggu sebentar. Naya membawa baju ganti dan bantalnya.

"Lo mau ke mana?" tanya Dika heran Naya membawa barang-barangnya. "Mau tidur di rumah Kakak aja."

Wiwi melihat anak gadisnya itu pun mengerutkan dahi, "kenapa?!"

"Nggak papa, Naya nggak mau serumah sama Lian. Entar Kalau Lian macem-macem gimana?" Naya sudah over thinking duluan.

Wildan terkekeh mendengarnya kemudian mengacak gemas kepala Naya yang terbalut dengan sehelai kain, "ada-ada aja kamu ini. Lian sakit, Anaya."

"Sama aja." Belum juga mendapatkan izin, Anaya sudah keluar rumah duluan pada akhirnya Dika yang meyakinkan mereka.

Sebelum pulang Dika meminta izin ke pak RT bahwa Lian tinggal di rumah Wildan.

*****

Niatnya hari ini dia akan membantu pamannya Faira untuk mangkal jualan bubur, tapi Wiwi tidak mengizinkannya. Dia meminta Naya untuk menemani Lian ke rumah sakit bersama Dika.

Naya duduk di jok depan sebelah kursi pengemudi sedangkan Lian di belakang.

Meskipun hari minggu, rumah sakit dipenuhi dengan orang yang berlalu lalang mulai dari yang berpakaian dinas hingga yang berpakaian santai.

Naya menunggu mereka di depan, sedangkan Dika sendiri yang mengantar Lian ke ruangan. Daripada bosen sendiri Naya pun keliling rumah sakit.

Tidak sadar langkahnya membawa dirinya ke ujung lorong tempat di mana kamar jenazah berada.

Aura berbeda pun mampu membuat bulu kuduk Naya meremang, dia menelan salivanya kasar dan terus berjalan.

Saat menyadari lorong ini semakin sepi dan dia berada di depan ruangan itu ....

"J—jenazah?" katanya memundurkan badan, buliran air mata jatuh seketika. Dia teringat beberapa tahun lalu, kejadian silam yang membuat dirinya memiliki trauma yang begitu dalam.

Langkahnya melemas. Dia pasrah, terduduk di ubin rumah sakit yang terasa dingin.

"Ibuk ...," rengeknya memeluk lutut sendiri, di lorong ini tidak banyak yang berlalu lalang karena hanya ada satu tujuan yakni kamar jenazah.

Di tempat lain Lian menunggu di mobil sedangkan Dika mencari Naya di seluruh penjuru rumah sakit, bisa-bisanya Naya pergi tidak mengabarinya dulu mau ke mana.

"Gimana, Kak. Belum ketemu?" Dika menggeleng, ke mana tuh bocah. Melihat langkah Lian yang masuk gedung rumah sakit itu pun membuat Dika menganga, "eh, lu di mobil aja biar gue yang nyari Naya."

"Nggak papa, Kak." Lian memaksakan diri.

Tidak lama dia menemukan Naya yang meringkuk ketakutan di sudut lorong, dengan cepat Lian menghampiri gadis itu. "Anaya?!"

Naya tidak menjawab, dia masih menangis sesenggukan. "Nay, lo nggak papa, 'kan?!"

Untuk menyentuh Naya pun rasanya sangat canggung. "Lo kenapa, hm?!"

Suara Lian menarik kesadaran Naya, dia menunjuk salah satu ruangan. Lian langsung mengikuti arah telunjuk Naya, kamar jenazah. "Lo takut? Nggak usah takut, gue di sini. Udah kita pulang sekarang?!"

Tiba-tiba Dika datang, dengan segera dia memeluk adiknya. "Udah, Nay. Udah ada gue sama Lian, udah jangan nangis! Lihat lo nggak kasihan sama Lian? Kita pulang yuk!!"

Naya menggeleng, tapi Dika punya cara tersendiri untuk membujuk adiknya.

Di mobil Dika menceritakan jika dulu mereka pernah main kejar-kejaran di rumah sakit pas Wildan dirawat, lalu tidak sengaja Naya masuk ke ruang jenazah dan terkunci di dalamnya. Dia melihat jenazah anak kecil yang di dekatnya ada boneka. Sontak hal itu menjadi trauma sendiri untuknya.

Sesampainya di rumah, Lian membereskan barang dan berniat untuk pulang.

"Mau ke mana lo?!"

Cowok itu terkekeh pelan, "pulang."

"Tapi lo, 'kan belom pulih total," beo Naya mencomot camilan, Dika sedang mengembalikan mobil. "Kata siapa? Orang gue berhasil jagain orang trauma."

"Hah! Siapa?!"

"Elo," jawabnya enteng.

Naya hanya bergumam pelan, merasa tidak enak. Lian yang mengetahui hal itu pun tersenyum hangat. "Nggak usah merasa nggak enak, 'kan udah tugas gue jagain lo."

"Anjir kepedean lo."

Lian terkekeh, mengingat gadis yang beberapa menit yang lalu meringkuk ketakutan.

"Eh, tadi malam lo nggak nabrak pohon doang, 'kan?" Lian menggeleng. "Lo berantem?!"

Lagi-lagi hanya senyuman yang Naya dapatkan. "Lo tau dari mana, Nay?!"

"Leher lo ada luka dan gue yakin kalau itu adalah luka sayatan pisau." Melihat wajah Naya yang serius kali ini dia tertawa kecil.

Lian ikut duduk bersama Naya di sofa ruang tamu meletakkan jaket dan plastik yang berisi obat.

"Gini, kemarin gue menjadi serigala, terus berantem sama buaya. Nah, buayanya main curang dia bawa pisau ...." Belum selesai Lian berbicara gadis itu menyela. "Lha kenapa lo malah dongeng, Njir."

"Dengerin dulu makanya, selain bawa pisau buaya itu juga nyemburin api ke mata gue. Yah, jadinya gue oleng dan kena pisau itu."

"Eh, bentar bukannya yang bisa nyembur api itu naga, ya?" tanya Naya menyipit curiga, udah tahu dikibulin masih aja direspon.

"Karena buayanya dapet kutukan."

"Terus?!"

"Apanya?!"

"Jika serigalanya ada di sini buayanya di mana?" Lian kembali terkekeh pelan, bisa-bisanya dia ngarang cerita seperti ini. "Diamanin sama penjaga hutan biar nggak nyemburin api lagi."

"Au ah, gelap!!"

"Masih terang gini, hahaha percaya amat sama gue. Dahlah, gue cabut dulu," pamit Lian keluar rumah, di depan sudah ada ojek online yang menunggumu. "Lian."

"Hm?!"

"Jangan lupa obatnya diminum," kata Naya mengingatkan. "Siap, laksanakan."

.
.
.

—Next—

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang