36. Tahan atau Lepas?🍂

698 64 0
                                        

-Salam Literasi-

-&-

Lebih baik memendam perasaan, jika kita sendiri sudah tahu jawabannya.

-&-

Bian yang kembali membawa makanan pun hanya bisa tersenyum kecil, mendengar seberapa antusias Belva menceritakan Aulian. Sungguh, jika boleh dia mengatakan bahwa dirinya cemburu. Namun, dia hanya memendam semua perasaan itu ketika sadar bahwa Belva menyukai Aulian, seorang cowok yang sudah ia anggap saudara sendiri.

"Lian nggak pernah bales chat lo, Bel. Selama ini gue yang bales," celetuknya menunduk, melihat ubin rumah sakit yang terasa dingin. Iya, dia memang pengecut tidak berani mengatakan secara langsung. "Tapi demi buat lo bahagia, gue rela ngelakuin hal ini."

Bian sering membajak ponsel Lian dan reaksi cowok itu selalu biasa saja, Lian jarang memeriksa riwayat obrolan whatsapp saking sibuknya.

****

Hari ini anak OSIS dan anak kelas menjenguk Lian di rumah sakit, meskipun akhir-akhir ini mereka sedang ada masalah. Namun, benar kata Lian bahwa solidaritas mereka tidak pernah diragukan.

Naya ikut rombongan OSIS, karena setelah sekolah mereka rapat membicarakan Rian sebentar bersama bu Cahya. Semakin hari perilaku Rian semakin menjadi. Kali ini rapat dilaksanakan tanpa kehadiran Lian dan Rian.

"Kalian pertimbangkan dulu, mau drop out Riansyah atau tidak. Buat apa mempertahankan yang bisa saja menjadi kehancuran kita sendiri, saya takut Rian terpaksa mengikuti OSIS," pungkas bu Cahya sebelum meninggalkan ruangan, beliau pergi karena ada urusan mendadak.

"Keluarin aja gimana? Tingkah Rian nggak bisa ditoleran lagi," saran Bian yang juga ikut rapat.

"Tapi kita belum tahu penyebabnya, Yan. Gimana kalau dia cuman dijadikan alat buat ngancurin kita? Lo nggak kasihan?" Suara Naya memecah konsentrasi mereka.

"Kemarin gue emang bela Rian soalnya emang si Lian nggak bisa nahan emosi, tapi kayaknya sekarang enggak deh. Rian udah buat Lian celaka," sahut Resha dibenarkan mereka.

"Nah, bener. Masak OSIS tingkahnya kek gitu," timbrung Ria merasa setuju dengan Resha. Hal ini membuat Naya mengerutkan kening, "eh, bukannya lo pacarnya Rian, 'kan?!"

Ria menunduk sendu, bibirnya mengerucut sebal tidak ingin membawa masalah pribadi ke organisasi. "Itu masalah pribadi, Nay."

"Maaf."

"Kak, mungkin saja dengan kita drop out Bang Rian anak SMA Dewantara bakal percaya lagi sama OSIS," ujar Setya membuat Resha mengangguk.

"Kenapa kita nggak selidiki dulu?" tawar Naya membuat Bian menyorotnya tajam.

"Lo kenapa sih, Nay. Udah jelas-jelas Rian salah masih lo belain! Lo suka sama dia?" kesal Bian seraya memijit pelipisnya, sejak kemarin malam sepertinya Naya ingin mempertahankan Rian.

"Nggak gitu maksudnya," kata Naya kehilangan kata-kata. "Kita tunggu Lian sadar aja, baru kita putuskan bersama," saran terbaik dari Zayn Gasendra.

Naya mengembungkan pipi, jika saja dia tidak mendengar obrolan itu mungkin dia tidak akan kekeh mempertahankan Rian.

*****

Sesampainya di rumah sakit anak OSIS langsung menuju ruangan Lian, sedangkan Naya ke ruangan Tina dulu. Tadi di parkiran dia melihat Dika dengan beberapa body guard-nya.

"Lo pulang nebeng gue atau enggak?" tanya Feila sebelum Naya berpisah. "Enggak, entar gue pulang sama kakak gue."

"Kakak lo di rumah sakit?" Naya menggeleng, cukup rumit menjelaskan keluarganya. "Mama angkatnya dirawat di rumah sakit."

Feila hanya ber-oh riah, mereka berpisah di lorong rumah sakit. Naya membuka pintu perlahan sedari mengucapkan salam, di ruangan ini hanya ada Dika dan Tina.

"Gimana keadaan Mama?" tanya Naya yang memanggil Tina dengan sebutan 'mama' sama seperti Dika. "Udah agak lebih baik, Naya."

"Eh, Pak Jali ke mana, Kak?" tanya Naya menyadari tidak melihat keberadaan body guard Dika. "Pulang lha."

Mereka berbincang cukup lama, sampai Naya menceritakan jika pengendara oleng itu adalah Lian-temannya.

"Ya Allah, terus keadaanya sekarang gimana?" Tina adalah mama idaman berhati malaikat, tapi Tuhan mengujinya sampai hari ini pun Tina belum dikaruniai seorang buah hati. Namun, dia selalu menganggap Dika dan Naya seperti anak kandungnya sendiri.

"Katanya belum sadar, Ma."

"Parah banget, ya?" Naya menggeleng tidak tahu bagaimana kabar selanjutnya. "Oh, ya, Ma. Habis ini Naya jenguk dia bentar, ya." Tina mengangguk.

Naya mendorong kursi roda kakaknya, dia menaiki lift sebelum ke ruangan Lian. "Dia cowok yang lo suka?!"

Mendengar ucapan Dika, Naya melebarkan mata tidak percaya. Sejak kapan Dika tahu padahal dia sendiri tidak pernah cerita apa-apa.

"Jangan sok polos ah, ngaku aja!" seru Dika membuat Naya berdecak kesal. "Kak, kok lo ngeselin!!"

Mereka sampai di depan ruangan vvip, Naya membuka gagang pintu itu pelan kemudian mendorong kursi roda Dika untuk masuk seraya mengucapkan salam. "Eh, kok sepi?!"

"Pada keluar mungkin terus temen-temen juga pada pulang."

"Orang tuanya?!"

"Mamanya nggak tau di mana, papanya nggak pernah peduli sama dia." Dika hanya mengangguk mengerti.

Naya duduk di sebelah ranjangnya, keadaanya masih sama seperti kemarin belum sadarkan diri.

Hening.

"Kak, Lian kapan bangunnya?!"

"Kenapa?!"

"Kok kenapa sih," kesal Naya menatap tajam kakaknya. "Lha terus apa?!"

"Kakak mah."

Naya memilih untuk diam, kadang berbicara sama kakaknya hanya akan membuat Naya emosi. "Lo nggak pernah kayak gini, Nay. Lo sayang banget sama dia?!"

Bukannya menjawab Naya malah membenarkan ucapan Dika. "Namanya Lian, Kak."

"Ckckck, iyain biar cepet! Gue cuman mau bilang kalau lo beneran sayang itu artinya lo harus siap ngelepasin dia." Perkataan Dika membuat Naya semakin tidak mengerti.

"Anjir, ternyata lo bloon juga! Maksudnya ada dua kemungkinan jika orang itu lama sadarnya. Satu emang sedang berjuang dan satu lagi orang-orang yang menyayanginya belum rela ngelepasin dia," jelasnya. "Ngelepasin?!"

"Nggak ada, Nay. Pergi jauh." Harus ekstra sabar menghadapi adiknya sendiri. "Kak, jangan ngomong kek gitu."

"Kasihan dia, apa lo mau dia terus-terusan tersiksa?" Naya menggeleng. "Makanya lo harus siap dengan dua hal itu."

"T-tapi gue nggak mau dia pergi, dia belum ketemu sama mamanya, Kak. Dia belum bahagia."

Dika tersenyum hangat, ternyata perasaan adiknya sedalam itu.

"Kebahagiaan setiap orang itu beda-beda, kadang yang lo bilang bisa membuat bahagia belum tentu orang lain juga bisa bahagia dengan hal itu."

Di tengah perbincangan mereka, lagi-lagi Naya cemas saat melihat napas Lian memburu dengan cepat. Sedangkan perutnya terus naik turun.

"Kak ...." Naya membekap mulut dengan segera dia menekan tombol bantuan di sebelah ranjang Lian.

Keringatnya semakin mengucur dengan deras, Naya tahu jika sekarang Lian sedang tidak tenang.

"Lian, lo nggak mau lihat dunia sekali lagi?!"

Kenapa di saat seperti ini dia mengingat ucapan Bian, jika kepala Lian terbentur sedikit keras.

.
.
.
.
-Next-

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang