—Salam Literasi—
-&-
Laki-laki yang baik adalah dia yang menjaga perempuan seperti adiknya sendiri dan menghormati dia sebagaimana dia pada ibunya.
-&-
Part panjang nih 1300 ++
Motor Lian sudah terparkir di rumah Belva, selain Lian ada Rian dan Bian yang langsung bergabung bersama keduanya.
"Gila, ya tuh cewek! Gue dikirimin surat lagi, mana amplopnya warna pink, kertasnya gambar hello kitty. Paling parahnya nggak ada duitnya," celetuk Rian bercerita. Mereka tertawa mendengar Rian yang terus mengoceh sejak berangkat dari rumah Belva.
"Secret admirer?" timbrung Belva mendapat anggukan dari Lian.
"Menurunkan martabat gue banget," sahut Rian lagi dan lagi, membuat gadis itu tertawa. "Emang gimana isinya, Ri?!"
"Katanya dia nggak akan mengatakan namanya sebelum gue menerima cintanya, gila woi gila!" serunya menggelengkan kepala.
Bian tertawa mendengarnya, Rian serasa diteror kalau kayak gini. "Syukur deh, ternyata ada gitu, ya yang kepelet sama lo!?"
"Lo kira gue main kek begituan apa?" sarkasnya tidak terima, dia meneloyor kepala Bian ngada-ngada banget.
Belva berlari kecil bersama Lian di belakang kedua laki-laki itu, entah mengapa meski hanya berlari bersama dia sudah senang.
Dari sini wajah Lian terlihat begitu dekat, rambut lurus yang sedikit berantakan disertai sebuah headset di salah satu telinganya.
"Eh, lo nggak bawa botol minum?" Ucapan Lian membuat Belva kelabakan sendiri, dia menunduk seraya menggeleng. "Kebiasaan pasti lupa!!"
Belva tersenyum, pipinya bersemu merah. Lian selalu mengingat kebiasaannya, cowok itu menyerahkan botol minum yang ia bawa. "Buat lo."
"Eh, enggak. Entar kalau gue haus gue yang minta aja," jawab Belva menolaknya halus, tidak enak juga.
"Yang dingin yang dingin," sindir Rian melirik Bian sekilas, cowok itu memiliki rasa untuk Belva, tapi karena Lian selalu ada buat Belva membuat Bian berulang kali memikirkannya dengan keras. Seperti kata pertama yang mereka ucapkan. "Persahabatan ini tidak akan hancur karena cewek."
Bian juga menganggap kedua sahabatnya saudara, jadi mana mungkin dia mengambil kebahagiaan salah satu sahabatnya. Namun, beberapa hari terakhir ini dia bingung, Lian juga lebih banyak memperhatikan Naya.
"Anjay, Ria sama cowok berdaster noh!!" Heboh Bian menunjuk ke sebuah tempat, kemudian berlari sekencang mungkin meninggalkan mereka. Rian yang sontak menoleh, merasa tidak terima dikibulin oleh cowok bernama lengkap Fabian Fedrian itu.
"Nyet sini lo!" teriak Rian kesal.
"Lo sendiri yang goblok, mana ada cowok berdaster," sahut Lian mendapat anggukan dari Belva.
"Pikiran gue beneran ke Ria anjing!" Rian menyusul Bian yang masih menghindarinya.
Jika Rian dan Bian ketemu pasti ribut tuh bocah. Lian mengajak Belva duduk di bawah pohon yang cukup rindang, untuk beristirahat. Lian melihat peluh keringat yang membanjiri pelipis cewek itu, Belva mengusapnya dengan handuk kecil yang tadi diberi Lian. Yups, Lian bawa dua.
"Lo masih ceroboh, Bel. Joging kagak bawa handuk, botol, untung nggak lupa bawa hidung lo," canda Lian terasa manis bagi Belva, gadis itu membenarkan. "Kan ada lo, Yan. Kalau ada lo semua pasti beres hehehe," sahutnya cengengesan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AULIANAYA [END]
Teen FictionJudul awal : Prasasti Hati Anak Organisasi "Gue nggak akan jatuh cinta sama anggota OSIS." Ucapan bisa saja menyimpang, tidak dengan hati yang tidak bisa mengingkari siapa yang ia cintai. Kisah Anaya Bestari, anggota OSIS yang pendiam. Diam-diam men...
![AULIANAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230984386-64-k250072.jpg)